Pasca-Banjir dan Longsor di Kabupaten Lebak, Kemiskinan di Provinsi Banten Berpotensi Meningkat

SERANG, (KB).- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten melihat terdapat potensi peningkatan jumlah warga miskin di Provinsi Banten pasca-banjir bandang dan longsor di Kabupaten Lebak. Sebab, peristiwa yang terjadi awal tahun itu, tak menutup kemungkinan membuat warga kehilangan harta benda berikut mata pencahariannya.

Kepala BPS Provinsi Banten Adhi Wiriana mengatakan, pihaknya secara periodik memotret profil kemiskinan di Banten. Setelah pada periode 2019, survei untuk memotret profil kemiskinan akan kembali dilakukan untuk periode Maret 2020. Untuk periode September 2019, profil kemiskinan belum memuat korban bercana dan baru akan muncul pada periode Maret 2020.

Dampak bencana yang begitu dahsyat tak menutup kemungkinan akan menambah jumlah warga miskin di Banten.

“Yang pasti saya yakin sedikit banyak dampak bencana itu akan membuat kemiskinan meningkat. Nanti akan kita potret kembali,” katanya.

Dalam memotret profil kemiskinan, pihaknya memiliki metode tersendiri dengan mendasarkan pada sejumlah indikator. Salah satunya dari tingkat pengeluaran.

“Meningkat berapa persen, akan kita lihat pada Maret 2020. Untuk periode September 2019 daerah dengan tingkat kemiskian tertinggi ada di Kabupaten Lebak dan terendah di Kota Tangerang Selatan,” ucapnya.

Meski begitu dahsyat, kata dia, dampak bencana masih bisa diantisipasi agar tak mempengaruhi angka kemiskinan. Salah satunya dengan pemberian bantuan secara terus-menerus dan tepat sasaran.

“Mudah-mudahan bantuan-bantuan dari masyarakat maupun pemerintah bisa dioptimalkan. Bisa saja kemiskinan meningkat tapi mungkin kalau bantuan masuk dari pemerintah pusat, triliunan misalnya dan dari donatur akan lebih baik (tingkat kemiskinan tak naik),” ujarnya.

Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Provinsi Banten Tutty Amalia membenarkan, pihaknya belum menyertakan warga terdampak bencana pada profil kemiskinan periode September 2019. Sehingga, untuk saat ini belum bisa disimpulkan apakah bencana berpengaruh terhadap kemiskinan, atau tidak.

“Tetapi kalau kita lihat secara kasat mata tanpa melihat data, logikanya pasti berdampak karena ada berapa ribu penduduk yang terkena bencana. Mungkin juga mereka kehilangan mata pencaharian,” katanya.

Tak signifikan

Terpisah, Gubernur Banten Wahidin Halim juga sependapat, bencana banjir bandang dan longsor bisa berdampak pada kemiskinan. Akan tetapi, dia meyakini pengaruhnya tak terlalu signifikan. “Naik tapi persentasenya kecil, relatif tidak signifikan,” ucapnya.

Alasannya, kata dia, karena para korban terus mendapatkan berbagai jenis bantuan, baik dari dari pemerintah pusat, pemprov maupun pemerintah kabupaten setempat.

“Mereka kan dapat santunan, dapat rumah jadi secara ekonomis tidak berkurang investasinya, asetnya karena dibangun lagi oleh kita pemerintah pusat maupun provinsi. Sawah yang puso sekarang pemerintah akan memberikan jaminan. Kita punya beras masih cukup banyak, begitu juga mereka yang masa tani akan kita berikan bantuan. Kita akan intervensi,” ujarnya. (SN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here