Pasang Alat Deteksi Gempa di Wilayah Banten, BMKG Pasang Radar di Selat Sunda

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati secara simbolis menyerahkan alat deteksi gempa kepada Sekda Banten Al Muktabar.*

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akan memasang radar untuk mendeteksi gelombang tinggi dan gempa bumi di dua titik di Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang. Selain akan memasang dua radar, BMKG juga akan memasang 70 alat pendeteksi dini gempa di seluruh wilayah Banten.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, pihaknya akan memasang radar dan alat pendeteksi dini gempa. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi dan menghadapi bencana alam.

“Kami akan pasang radar, nanti kita pasangkan satu di Pandeglang di Tanjung Lesung dan satu di Kabupaten Serang. Selain itu, kita juga akan berikan sebanyak 70 alat pendeteksi dini gempa, nantinya itu akan disimpan di Kantor BPBD Pandeglang,” ucapnya kepada Kabar Banten, Rabu (14/8/2019).

Dengan adanya radar dan alat pendeteksi dini tersebut, diharapkan masyarakat dapat menghindari bencana alam. Selain itu juga masyarakat diimbau untuk terus bersiap siaga.

“Jadi dari alat pendeteksi dini gempa bumi tersebut akan memberikan jangka waktu kepada masyarakat untuk mengevakuasi diri. Kalau seandainya sirine sudah dibunyikan, itu jangka waktunya sekitar sepuluh menit untuk menyelamatkan diri,” katanya.

Dengan penyalaan sirine, itu diberikan kewenangan kepada pemerintah daerah. Sehingga, kata dia, jika radar mendeteksi ada kenaikan gelombang dan ada gempa, pemkab bisa langsung memberikan imbauan melalui sirine.

“Kalau mekanismenya, nanti kan pemerintah daerah bisa menyalakan sirine. Hal itu tentu akan memberikan informasi, itu didapatkan dari pemberitahuan yang disampaikan radar dan pendeteksi dini gempa,” ucapnya.

Sebelumnya, BMKG menyerahkan satu alat deteksi dini gempa kepada Pemerintah Provinsi Banten, dalam acara Eskpedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) di Hotel Marbella Anyer, Rabu (14/8). Tes alat deteksi gempa itu bertujuan untuk mengurangi risiko kerugian gempa bumi di wilayah tersebut.

Dwikorita Karnawati mengatakan, pihaknya sudah menyerahkan sistem baru deteksi gempa yang selama ini belum pernah terpasang di Indonesia. Namun, saat ini sistem baru tersebut masih dalam tahap uji coba. “Kita baru akan uji coba dan akan diletakkan di Provinsi Banten,” tuturnya.

Dengan sistem baru itu, diharapkan bisa ada jeda waktu 15-30 detik sebelum gempa terjadi bisa diketahui. Dengan demikian, jaringan listrik, gas, kereta cepat atau pabrik petrokimia bisa segera mematikan sistem sehingga tidak meledak.

“Jadi ketika gempa tidak terjadi ledakan atau kebakaran dan untuk tempat umum kita bisa siap-siap tinggalkan ruangan atau gedung. Ini sistem baru yang akan diuji coba,” katanya.

Ia mengatakan, peralatan deteksi dini gempa bumi ini tidak hanya dipasang di Banten. Namun, ada beberapa daerah lain seperti Sumatera Barat, Lampung, dan Jabar yang akan dipasang tahap awal ini. Tahun depan, alat tersebut akan dipasang di sepanjang destana.

“Kemudian di Nusa Tenggara dan pantai barat Sumatera juga. Negara lain juga baru pakai, karena perkembangan teknologi. 10 tahun lalu kita belum, Jepang dan Cina saja baru setelah tahun 2011 kesini eksperimen (alat deteksi dini gempa), mereka lebih dulu uji coba, sekarang kita,” tuturnya.

Untuk menanggulangi bencana gempa bumi, masyarakat diimbau segera lari ke tempat yang lebih tinggi atau panjat pohon apabila merasa ada guncangan yang dihitung sampai ke sepuluh tidak berhenti. “Tentunya pemda sudah siapkan jalur evakuasi tersebut. Tidak perlu tunggu sirine karena peringatan dini bisa terlambat daripada datangnya ancaman,” katanya.

Banyak daerah belum siap

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan, ekspedisi destana yang memang disasar untuk penanganan tsunami ditutup, Rabu (14/8). Ekspedisi ini menurut dia tidak cukup hanya untuk tsunami, karena bencana di Indonesia banyak variabel mulai dari ancaman geologi, vulkanologi dan hidrometerologi.

“Vulkanologi bukan hanya gempa diikuti tsunami tapi juga likuifaksi. Dengan demikian setiap daerah harus memetakan apa potensi ancamannya. Lantas menyusun langkah-langkah penanggulangannya, baik mulai dari mitigasi, termasuk pencegahan dan siap-siagaan,” ujarnya.

Selama 1,5 bulan perjalanan ekspedisi, ia menilai masih banyak daerah yang tidak siap dengan bencana. Oleh karena itu, harus kerja keras dan meningkatkan kapasitas di berbagai daerah. Agar masyarakat sadar tentang potensi ancaman bencana.

“Kemudian bagaimana masyarakat mempersiapkan diri. Setelah sadar harus disiapkan dan ditingkatkan program edukasi dan simulasi. Terakhir harus punya daya atau ketangguhan ketika menghadapi bencana sehingga tidak ada korban besar,” ucapnya.

Saat ini, kata dia, edukasi ini masih dalam tingkat desa, namun ke depan sedang dikonsep agar program pelatihan ini bisa sampai menyentuh tingkat keluarga. Karena masih banyak keluarga yang belum dapat pelatihan. Kedua keluarga adalah pihak pertama yang terdampak. Kalau keluarga bisa ditingkatkan kapasitasnya maka ke depan kalau terjadi risiko kerugian akan kecil,” ucapnya.

Sekretaris Provinsi Banten Al Muktabar berterima kasih dengan dijadikannya jalur terakhir ekspedisi destana. Kemudian juga menerima alat dari BMKG pusat. Alat tersebut diyakini akan membantu dalam rangka kesiapsiagaan potensi bencana khususnya gempa dan tsunami.

“Pemda akan menjaga alat itu dan kita akan komunikasikan ke BMKG pusat, BNPB, dan BPBD untuk kita mengambil langkah terukur dan terstruktur untuk menghadapi kemungkinan bencana,” ujarnya.

Ia mengatakan, saat ini Provinsi Banten sudah memiliki peralatan memadai untuk kesiap-siagaan bencana di BPBD. Dimana ada tempat mengomunikasikan ke masyarakat atau studio, dengan adanya alat tersebut akan dikolaborasikan sehingga menjadi lebih baik.

“Kalau kita lihat tadi jangkauan (alat deteksi gempa) luas dengan satu ini kita akan maksimalkan dulu, karena ini teknologi kekinian. Mudah- mudahan tidak digunakan karena kita siap alam bersahabat,” tuturnya. (Ade Taufik/SJ/DN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here