Partisipasi Pemilih Tiga Kecamatan di Pandeglang Rendah

PANDEGLANG, (KB).- Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Pandeglang mencatat, angka partisipasi pemilih Pilkada di tiga kecamatan di Kabupaten Pandeglang diprediksi akan rendah. Ketiga kecamatan yang rendah partisipasinya adalah Kadu Hejo, Kecamatan Menes dan Kecamatan Cimanuk.

Ketua KPU Pandeglang Ahmad Suja’i mengatakan, rendahnya angka partisipasi tiga kecamatan itu disebabkan kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap para pemimpin masa lalu. Selain itu, bisa disebabkan kurangnya menu atau sajian para calon yang sesuai dengan keinginan masyarakat.

Menurut Suja’i, dari 35 kecamatan di Pandeglang khusus tiga kecamatan itu angka partisipasinya sangat rendah di bawah 50 persen.

“Kalau tidak salah, partisipasi pemilih yang di bawah 50 persen itu ada di tiga kecamatan. Yakni Kecamatan Kadu Hejo, Kecamatan Menes dan Kecamatan Cimanuk. Kecamatan lainnya rata-rata angka partisipasinya di atas 50 persen. Jadi kalau secara komulatif itu hanya 56 persen,” kata Ketua KPU Pandeglang Ahmad Suja’i kepada Kabar Banten, Kamis (5/12/2019).

Menurut Suja’i, untuk mengantisipasi hal tersebut perlu ada perhatian yang serius tentang Pilkada. Selain itu, harus ada penyajian daftar pemilih yang betul-betul akurat, mutakhir dan komprehensif. Dengan demikian, harus dibangun kepercayaan pemimpin kepada masyarakat.

“Dari hasil analisa kami sebagai penyelenggara pemilu, ini kan karena sikap masyarakat ketidakpercayaan terhadap para pemimpin yang lalu. Kami juga tidak bisa menegaskan persoalan ini sehingga membuat mereka agak sedikit kecewa,” ujarnya.

Ia mengatakan, kaitan dengan masalah pemilihan, KPU berharap yang merupakan pilar keempat demokrasi untuk ikut mencerdaskan dan menyukseskan Pilkada.

“Harapannya media itu ikut membantu mengimplementasikan kaitan dengan masalah fungsinya, menginformasikan pemilihan kepala daerah. Ini kan ada informasi awal kaitan dengan tahapan, jangan sampai masyarakat tahunya pada saat hari pencoblosan. Tetapi lebih dari itu harus ada informasi dari masyarakat, mulai dari perekrutan badan Adhock, PPK, PPS, dan KPPS. Kemudian pemutakhiran data dan data pemilih,” ucapnya.

Kalau dari awal masyarakat sudah ikut berpartisipasi, lanjut Suja’i, tentunya partisipasi pemilih di TPS juga akan lebih baik. Setidaknya media sering memublikasikan masalah pemilihan, mulai dari regulasi atau mungkin masalah teknis. Sebab, media mempunyai peran sangat strategis dalam menyosialisasikan Pilkada di masyarakat.

“Kalau media ikut berpartisipasi dalam meningkatkan partisipasi, setidaknya kan paling tidak sama dengan partisipasi pemilu kemarin diangka 78 persen. Karena kalau melihat partisipasi Pilkada 2015 kan hanya di angka 56 persen, ditambah dengan beberapa kecamatan yang tingkat partisipasinya di bawah 50 persen,” tuturnya. (Ade Taufik/EM)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here