PARIWISATA DAN INFRASTRUKTUR PENDUKUNGNYA

Muhammad Arif Kirdiat

Sektor pariwisata menjadi salah satu sumber potensial pendapatan daerah di tengah lesunya perekonomian nasional. Keberadaan infrastruktur pariwisata yang memadai menjadi syarat peningkatan laju pertumbuhan sektor pariwisata. Hal ini mencakup pengembangan sarana transportasi, informasi, penginapan dan pusat oleh-oleh yang sangat dibutuhkan dalam menarik minat wisatawan.

Dampak aktifitas ekonomi yang didukung oleh infrastruktur tersebut tentu akan memberikan nilai tambah dari nilai investasi infrastruktur teemasuk dengan kontribusi tenaga kerja itu sendiri.

Tentunya pemerintah perlu memberikan perhatian dan insentif yang lebih baik bagi pengelolaan destinasi wisata. Sebab jika objek wisata kita berlimpah mulai dari wisata alam, jejak peradaban sampai yang model wisata kekinian, namun jika tidak didukung infrastruktur yang memadai, pastinya akan sulit untuk mencapai apa yang kita inginkan bagi kesejahteraan masyarakat.

Sektor pariwisata akan tumbuh berkembang seiring dengan adanya pembangunan infrastruktur. Pasalnya, infrastruktur akan mempermudah orang bergerak. Pergerakan ini, selalu diikuti dengan pergerakan barang, jasa, dan uang. Perjalanan wisata sendiri identik dengan pergerakan orang dari satu kota ke kota lain atau satu negara ke negara lain.

Infrastruktur tidak hanya jalan tol, tapi juga bandara dan pelabuhan penyeberangan. Dengan semakin lengkapnya fasilitas bandara dan pelabuhan, akses ke destinasi wisata pun semakin terbuka.

Desain pembangunan pariwisata yang berdaya saing secara komprehensif harus mencakup pilar infrastruktur fisik, sumberdaya manusia, keuangan dan pembiayaan, serta tata kelola pariwsata secara komprehensif. Dimensi tersebut diharapkan bisa menjadi patokan terwujudnya sektor pariwisata yang berkualitas, baik sebagai sumber pendapatan alternatif dan juga menjadi identitas bangsa di tingkat global.

Pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia merupakan prasyarat untuk mengembangkan sektor pariwisata. Kedua hal itu dapat mengundang wisatawan. Pembangunan infrastruktur merupakan persyaratan mutlak, nomor satu, sebelum membuat yang lain.

Infrastruktur menuju dan di lokasi pariwisata lebih penting ketimbang promosi. Hal ini perlu penegasan. Menjadi percuma jika promosi diutamakan, namun buruk saat wisatawan datang dan sarana penunjang pariwisata belum siap.

Mengutip hasil penelitian anggota Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) dalam seminar ISEI pada tahun 2016. Kajian tersebut menyebutkan bahwa dalam beberapa hal, pemerintah belum konsisten dalam mendorong percepatan infrastruktur dan mengundang investor lokal. Sebagai contoh, di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung, Banten, misalnya, pemerintah daerah belum mendukung pengembangan Tanjung Lesung sebagai KEK karena investor kesulitan dalam perizinan serta masalah yang sering muncul adalah ketidakjelasan status tanah.

Hal ini diperparah dengan minimnya perhatian dan anggaranpemerintah daerah di kabupaten/kota dalam menunjang pengembangan infrastruktur pariwisata. Infrastruktur yang minim membuat potensi pariwisata belum dapat digali dengan maksimal.

Perkembangan pada sektor wisata jangan hanya dihitung secara kuantitatif, tetapi juga perlu ditingkatkan kualitasnya. Selain fokus pada pembangunan infrastrukur secara riil, harus pula diimbangi dengan pengembangan Sumber Daya Manusia yang berkesinambungan dan bukan asal program jalan dalam kaitan’Asal Bapak Senang’.

Setelah infrastruktur mulai terbangun, hal lain yang perlu dicermati adalah strategi menarik pasar. Bagi beberapa lokasi wisata wisata di Banten, menjaring wisatawan domestik menjadi lebih penting ketimbang menjaring wisatawan asing. Hal ini berimbas pada strategi promosi dan pola penjaringan wisatawan

Dalam menjaring wisatawan lokal, tentunya sarana trasnportasi antar kota harus menjadi perhatian. Untuk kawasan Lebak, sarana transportasi agak terbantu dengan adanya sarana kereta api comuter line langsung dari Jakarta-Rangkas Bitung. Begitu pula dengan akses pembukaan destinasi wisata oleh bus angkutan umum DAMRI yang telah membuka jalur Serang-Ujung Kulon (Sumur), Serang-Tanjung Lesung, Serang-Sawarna, Serang-Cikotok dan tentunya jalur vital Bandara Soekarno Hatta-Merak dan Bandara-Pandeglang walaupun sampai saat ini, jalur Damri Bandara ke Pandeglang masih sepi peminat.

Menjadi PR besar adalah minimnya sarana transportasi ke sekitar lokasi Anyer-Carita yang menjadi serba tanggung dan belum dilirik oleh pengusaha angkutan berkala selain angkutan kota (angkot) dan ojek yang masih jauh dari standar kualitas pariwisata.

Setelah jalur transportasi, yang tak kalah harus diperhatikan adalah pola konsumsi para wisatawan. Perlu diperhatikan, bahwa wisatawan lokal dengan budaya oleh-oleh lebih banyak menghabiskan uang untuk membeli makanan dan oleh-oleh pernak-pernik. Kebiasaan ini harus ditanggapi dengan mengemas makanan lokal secara menarik dan menjaga kebersihannya.

Provinsi Banten harus mampu masuk dalam capaian sektor pariwisata. Capaian program nasional dengan program branding Wonderful Indonesia, mampu naik peringkat, kini posisinya naik hingga menduduki peringkat ke-47 dunia. Sejak 2016, program itu pun berhasil meraih banyak penghargaan. Namun sayangnya, program pariwisata nasional di Banten masih banyak meningalkan jejak yang kurang baik, mulai dari festival Tanjung Lesung yang sepi peminat hingga arahnya yang tidak jelas. Padahal sangat disayangkan, karena acara ini menyedot dana yang tidak sedikit.

Tentunya peningkatan devisa pada program nasional akan berimbas pada peningkatan ekonomi warga local disekitar lokasi wisata. Dari wisatawan mancanegara kita harapkan akan menyumbang devisa lebih banyak, sedangkan untuk wisatawan nusantara akan berdampak pada spending langsung yang akhirnya mendorong pendapatan ke masyarakat setempat. (Ketua Asosiasi Homestay Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here