Selasa, 11 Desember 2018

Panen Garam di Empang Bandeng

Sejak saya kecil, Kampung/Desa Domas, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang terkenal sebagai penghasil ikan Bandeng. Rasa ikannya manis. Dan yang lebih penting lagi tidak bau arus, aroma lumpur pada kebanyakan ikan bandeng yang didatangkan dari luar daerah.

Sekarang akses ke Domas kian lancar jaya. Jalan aspal dari lampu merah Ciruas ke perempatan Pontang sudah lumayan bagus. Meski masih terasa bekas tambalan, tetap saja kondisi ini sebuah kemajuan.

Belasan tahun lalu, jalan ini pernah rusak parah. Bertahun-tahun tak ada perbaikan. Waktu itu menjelang pemilihan Bupati Serang. Suasana jadi cepat memanas. Menyulut emosi warga. Pemuda berdemo. Pohon ditebang. Dijadikan barikade jalan. Jadi pemberitaan nasional berhari-hari.
Makanya saya bilang sekarang sudah lebih baik. Malahan dari perempatan Pontang (pusat demo saat itu) menuju desa Domas, jalanya sudah dibeton.

Seperti jalan tol. Jadi kalau tidak macet di lampu merah Ciruas, untuk sampai ke Domas niscaya kita butuh waktu 45 menit dari terminal Pakupatan. Di sana banyak orang kaya dari budidaya bandeng. Satu orang bisa punya tambak puluhan hektare. Atau kalaupun tidak punya sendiri, mengelola punya orang juga masih bisa bikin kaya. Tentu saja orang miskin juga ada. Mereka ini tak punya tambak. Tidak dipercaya mengelola. Tak pula punya pendapatan tetap.

Mungkin karena terkenal akan ikan bandengnya, Domas menjadi satu dari lima daerah di Provinsi Banten yang ditetapkan sebagai kawasan Minapolitan. Sesuai SK Menteri Kelautan dan Perikanan pada 2010. Untuk pengembangan budidaya jenis ikan bandeng tersebut.

Setelah berjalan 8 tahun, saya penasaran apa yang sudah terjadi. Kelanjutan proyek minapolitan ini coba saya googling. Saya malah menemukan, Kabar Banten memberitakan (19/6/2017) sejumlah masyarakat Pontang mempertanyakan keseriusan Pemkab Serang. Kata berita itu, kawasan Minapolitan sampai saat ini terkesan dibiarkan sehingga beberapa fasilitas rusak.

Petani Garam

Pada awal November lalu saya berkunjung lagi ke Domas. Teman saya buka usaha baru di sana. Menyewa tambak seluas 3 hektare. Dia cerita, cari sewaan empang saja susahnya setengah mati. Gegara bawa motor butut, pemilik tambak menyangka main-main. Perlu sampai lima kali bolak balik biar dikasih. Sekarang dipercaya dalam bisnis betapa pentingnya penampilan. Dari tiga hektare itu, baru sekitar satu hektare yang dia garap. Namanya usaha baru, mestilah ada uji coba dulu, katanya.

Begitu tahu ada orang akan membuka tambak garam di sana, teman saya bercerita lagi, orang sekitar, banyak yang merasa prihatin dan sedih. Prihatin karena teman saya ini dianggap memiliki khayalan tingkat tinggi. Sedih karena orang-orang ini membayangkan investasi yang tak akan pernah kembali.
Soalnya untuk sekedar coba-coba, usaha ini perlu modal banyak. Seharga dua mobil Avanza baru. Lahan memang sewa. Tapi biaya terbesarnya justru pada proses membentuknya.

Mengubah empang bandeng jadi tambak garam ibarat mengubah mobil pickup menjadi mobil boks. Sama-sama tambak, tapi bentuknya dirombak total. Butuh material tambahan. Juga tenaga ahli yang mengerjakan. Mula-mula kontur lahan diubah. Kedalamannya disesuaikan. Juga sirkulasi air ditata. Setelah itu barulah dibentangkan terpal plastik. Satu hektare empang, 10 ribu meter terpal. Memang katanya terpal ini bisa dipakai untuk 5 tahun. Tapi tetap saja, kalau harga terpalnya Rp 15 ribu per meter, perlu disiapkan dana Rp 150 juta.

Kemana lagi uang itu dipakai? Ya betul. Tenaga kerja menjadi biaya terbesar selanjutnya. Untuk buat tambak garam perlu orang yang sudah pengalaman. Dan sudah barang tentu tak ada tenaga lokal yang mampu. Solusinya, maka didatangkanlah pekerja khusus dari Cirebon dan Indramayu. Mereka ini pekerja profesional. Di tempat asalnya, pekerjaan mereka memang bergelimang dengan keasinan. Jadi begitu datang langsung tancap gas.

Kalau bekerja 30 hari penuh, mereka dapat upah melebihi UMR Kabupaten Serang yang Rp 3,5 jutaan. Sampai pengeluaran sebesar ini, tambak belumlah beroperasi. Tidak ada sebutir garam pun untuk dipanen. Ada 10 orang yang khusus untuk membentuk lahan. Selanjutnya untuk produksi 1 hektare tambak cukup 3 orang.

Mitos swasembada
Indonesia memang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia. Tepatnya nomor dua. Canada yang nomor satu. Tapi punya pantai terpanjang tak berarti negara kita bisa swasembada garam. Cina yang panjang garis pantainya di urutan ke-12, saat ini menjadi produsen garam terbesar di dunia.
Menurut pemangku kepentingan, hanya sebagian kecil pantai di Indonesia yang bisa membuat garam. “Tidak semua garis pantai bisa jadi sentra garam, kata Sekretaris Umum Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia Cucu Sutara (tirto.id).

Bagi yang percaya kalau garis pantai yang panjang berbanding lurus dengan produksi garam, dianggap Cucu sebagai percaya mitos. Mungkin seperti orang yang takut sama genderuwo, kuntilanak dan Nyi Roro Kidul. Mitos produksi garam ini biasanya diulang-ulang setiap kali pemerintah membuka keran impor garam. Biar tak ada yang cerewet. Meredam kritik masyarakat.

Menurut laman Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Tegal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) perlu sejumlah persyaratan lahan agar bisa menjadi tambak garam. Di antaranya, sumber daya air laut, yang meliputi kadar garam, derajat keasaman (Ph), dan polusi air; pasang surut air laut; iklim dan cuaca; angin; serta kelembaban udara.

Di Indonesia tampaknya hanya tujuh provinsi yang cocok dengan persyaratan di atas. Tujuh provinsi yang dimaksud adalah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, NTT, NTB, Sulawesi Selatan, dan sebagian Aceh. Karena takut dibilang percaya mitos, maka kita pun berpikir hanya di tujuh provinsi itu saja garam ada.

Sebetulnya banyak pihak percaya potensi produksi garam masih tinggi. Tinggal apakah kita bisa menambah lahan tambak baru. Sementara kualitas dapat ditingkatkan dengan memanfaatkan teknologi. Dengan penerapan teknologi, produksi garam bisa dinaikkan dua sampai tiga kali lipat.
Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) kabarnya telah mampu melakukan rekayasa agar produksi garam bisa dilakukan tanpa mengenal musim.

Kalau rekayasa ini diterapkan, produksi dapat tetap dilakukan pada musim hujan. Tapi pihak pemangku kepentingan tampak hanya optimis dalam wacana. Di Banten misalnya, pembukaan lahan baru dan penerapan teknologi untuk garam tak kunjung ada.
Mitos impor swasembada garam ini menggiring kita untuk pesimistis. Makasih berbuat. Mau apalagi. Di 7 provinsi itulah yang sudah nyata ada garamnya dan sudah berjalan bertahun-tahun. Kalau wilayah lain bisa, kecil kemungkinannya. Itu pun pasti perlu ditemukan dengan susah payah. Survey lapangan oleh para ahli. Mengoperasikan teknologi canggih. Biaya tinggi. Buang-buang umur saja.
Sampai di sini terbukti apa yang dikatakan Joseph Goebbels pakar propaganda politik Nazi Jerman. Sampaikanlah kebohongan berulang-ulang maka dia akan menjadi kebenaran.

Peluang Usaha

Tambak garam di Domas ini digagas oleh 3 kawan lama. Orang-orang yang jauh dari pemangku kepentingan pergaraman. Latar pekerjaan mereka bertiga sama: tidak terkait garam. Ipat (pensiunan BUMN), Amru (pedagang gula), dan Ade Dasan (pemborong bangunan). Lalu bagaimana kemudian mereka bertiga tercebur ke garam. Berinvestasi ratusan juta. Menggunakan uang sendiri.

Ide dasarnya adalah saat mereka mencari peluang usaha baru. Salah seorang dari mereka bercerita, katanya pernah bertemu dengan pengusaha garam. Cerita sepintas ini bikin penasaran. Terutama keuntunganya. Sesimpel ini. Barulah kemudian proses yang rumit ditempuh. Mereka survey langsung ke sentra garam di Cirebon. Bukan hanya sekali. Bolak-balik Serang Cirebon. Dari sana mereka makin penasaran. Ternyata, kebutuhan garam Banten disuplai dari Cirebon. Diskusi kian dalam. Ibarat magang, kesungguhan belajar ini, menarik simpatik Cahyo, seorang pengusaha garam. Cahyo menjadi mentor yang sekaligus menguatkan tekad mereka. Kini giliran Cahyo yang penasaran. Soalnya mereka kemudian bercerita. Tempat tinggalnya di Serang dekat pesisir. Berkunjunglah Cahyo ke Serang. Membawa serta alat ukur kepekatan kadar garam pada air laut. Survey lokasi ke Lontar juga Domas. Hasilnya cocok.

Panen Garam

Singkat cerita, kini Ade dan kawan-kawan sudah menikmati asinnya garam. Dirintislah Juni. Masa produksi dari Juli-Oktober. Total jenderal, hampir 300 ton garam yang sudah dipanen. Jumlah yang tidak bisa dibilang kecil untuk masa uji coba. Sebagian besar garam kini sudah dikosongkan dari gudang. Harganya cukup bersaing.

Pada musim panas, di saat harga garam turun, pabrik pengolahan garam dapur di Kota Serang memberi harga Rp 1.400 per kilogram. Lebih tinggi dari garam Cirebon Rp 1200. Pada tataran petani, mestilah harga di Cirebon lebih murah lagi. Garam mereka harus mengeluarkan biaya transportasi lebih mahal untuk sampai ke Serang. Ternyata kebutuhan garam rumah tangga di Banten per bulannya hanya 150 ton.(Kabar Banten 4/92017). Kalau pengen swasembada, cari saja 10 hektare lahan di Domas. Suruh Ade Dasan dan temanya kelola. Tahun depan kebutuhan garam untuk rumah tangga di Banten kelar.

Bagaimana orang yang tidak memiliki latar belakang garam dapat begitu saja membuka usaha dan memanen untung. Ada kabar juga, di Desa Lontar Kecamatan Tirtayasa, sudah dibuka tambak garam sejenis oleh Sofwan. Pekerjanya didatangkan dari Pati. Sudah dipanen juga. Tapi baru rencana dijual pada musim hujan ini. Menunggu harga bagus.

Orang-orang Indonesia seperti Ade Dasan, Amru, Ipat dan Sofwan kian banyak. Makin mandiri. Mencari cara sendiri. Untuk memecahkan semua persoalannya. Biar lebih maju. Tanpa bantuan siapa pun. Tanpa pelatihan dan bantuan modal dari pemerintah. Tanpa riset ilmiah dan penerapan teknologi terkini. Mereka adalah orang-orang pemberani yang telah mematahkan mitos. (Burhanuddin Mujtaba/Dosen Untirta/Pengurus ICMI Banten).


Sekilas Info

Seperti Sepasang Sandal

Oleh Nasuha Abu Bakar,MA Kenyataan di dalam kehidupan tidak dapat dielakan dan tidak dapat dipungkiri …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *