Pandeglang Destinasi Wisata Halal

Tanggal 1 April merupakan Hari Jadi Kabupaten Pandeglang. Sebuah Kabupaten di ujung barat Provinsi Banten yang memiliki sisi eksotis yang tinggi dari berbagai bagiannya. Pernahkah terbesit dalam pikiran kita untuk kenali dan kunjungi objek wisata di Pandeglang? Jika mau mengenal lebih jauh tentang Kabupaten Pandeglang, ia juga merupakan surga bagi wisatawan baik itu lokal maupun luar negeri.

Ada begitu banyak obyek wisata di Pandeglang yang sampai sekarang masih kurang diberitakan ke khalayak umum, sehingga sangat wajar apabila banyak warga pribumi sendiri tidak mengetahui keistimewaannya. Padahal jika pengembangan pariwisata ini diarahkan pada peningkatan destinasi wisata berupa kawasan wisata, obyek wisata, akomodasi yang mendukungnya serta pemasaran wisata, tentu akan menambah pemasukan untuk pendapatan asli daerah (PAD).

Kabupaten Pandeglang memiliki kurang lebih 214 objek wisata, meliputi 11 objek pantai, 19 objek wisata Tirta, 183 tempat bersejarah dan satu objek wisata alam. Kita berharap ke depan seluruh objek wisata itu bisa dioptimalkan dalam pengelolaannya sehingga dapat menarik wisatawan untuk mengunjungi lokasi tersebut.

Selain itu, sejak tahun 2010 ada sekitar 6 desa wisata yang dikembangkan, yaitu Desa Pejamben, Sukarame dan Sukanagara, Kecamatan Carita yang difokuskan sebagai daerah wisata pantai. Selain itu, Desa Tanjung Jaya Kecamatan Panimbang, yang difokuskan pada pengembangan wisata alam dan budaya dan Desa Tanjungan, Kertamukti, Kecamatan Sumur merupakan daerah wisata bahari.

Adapun di tahun 2011, ditambah 4 desa wisata lainnya, yaitu Desa Citeureup, Kecamatan Panimbang, Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Desa Citaman, Kecamatan Jiput serta Desa Sukamanah, Kecamatan Kaduhejo. Di tahun 2012, diusulkan 10 desa lagi yang akan ditetapkan sebagai desa wisata, dalam rangka menunjang persiapan KawasanEkonomi Khusus (KEK) di tahun 2013 yang lalu.

Belajar pada Wisata Halal Lombok

Trend wisata halal mulai berkembang seiring dengan meningkatnya populasi Muslim dunia. Meningkatnya populasi Muslim yang berusia muda, berpendidikan, dan memiliki jumlah pendapatan yang tinggi membuat industri pariwisata internasional, nasional, bahkan lokal, mulai menargetkan wisatawan Muslim sebagai target pasarnya.

Wisata halal sebenarnya tidak jauh berbeda dengan wisata pada umumnya. Wisata halal merupakan konsep wisata yang memudahkan wisatawan muslim untuk memenuhi kebutuhan berwisata mereka. Kebutuhan itu antara lain: adanya rumah makan bersertifikasi halal, tersedianya mesjid/musholla di tempat umum, adanya fasilitas kolam renang terpisah antara pria dan wanita, hotel yang berkonsep syariah, dan lain-lain.

Pada tahun 2016, Indonesia meraih penghargaan dari The World Halal Travel Summit & Exhibition 2016 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Lombok, Nusa Tenggara Barat, terpilih sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia mengalahkan Malaysia, Abu Dhabi, Turki, Qatar, dan beberapa negara lainnya. Keistimewaan Lombok dari destinasi wisata lainnya antara lain: Atraksi wisata yang ditawarkan beraneka ragam, destinasi bulan madu halal terbaik, Lombok memiliki Mesjid yang memadai sehingga dijuluki sebagai Pulau Seribu Mesjid, serta memiliki hotel terbaik karena menyediakan makanan halal, menyediakan fasilitas beribadah (tempat ibadah dan alat sholat) dengan baik, menyediakan pelayanan selama Ramadhan, serta tingkat kegiatan non halal di hotel rendah.

Pandeglang Destinasi Wisata Halal

Dari Lombok kita dapat ambil pelajaran bahwa Pandeglang pun bisa menjadi ikon destinasi wisata halal. Bahkan Pemerintah Pusat telah mendukung dalam pengembangan destinasi wisata halal ini dengan mengirimkan delegasi dari pemerintah daerah untuk studi banding ke Lombok. Sebagai Muslim sekaligus masyarakat umum, kita sambut baik upaya ini karena tentu akan memudahkan aktivitas bepergian atau rekreasi bersama keluarga tanpa harus merasa khawatir meninggalkan hal-hal yang dilarang Allah SWT.

Pandeglang yang telah dikenal berbagai macam keelokan tempatnya bahkan juga dikenal sebagai kota santri, harapannya dapat mengakselerasi kebutuhan akan destinasi wisata halal ini. Komitmen pemimpin daerah menjadi penggerak utama pengembangan destinasi wisata halal di Pandeglang. Pelaku usaha juga harus bisa mengambil peluang ini untuk terus berinovasi dalam karya serta berupaya untuk memegang sertifikat halal untuk produk dan jasa yang ditawarkan. Apalagi dengan keberadaan UU Nomor 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH) yang dipandang dapat membantu mengerek jumlah fasilitas, produk, serta jasa yang disertifikasi. Karena halal saat ini bukan hanya brand tapi sudah menjadi life style yang memberi nilai tambah bagi konsumen karena dari berbagai penelitian, halal bukan hanya sebuah aturan tetapi karena memang lebih sehat dan higienis.

Meski telah didukung pemerintah pusat, kondisi Pariwisata halal di Pandeglang saat ini belum maksimal. Padahal jika digarap lebih serius, potensi pengembangan wisata halal di Pandeglang sangat besar. Belum banyak biro perjalanan yang mengemas perjalanan inbound dengan paket halal travel, tetapi lebih banyak pengemasan perjalanan outound seperti haji dan umroh. Kondisi ini diperkuat dengan catatan bahwa Pandeglang sebagai daerah tertinggal sehinggal dibutuhkan banyak dana untuk mengembangkan konsep wisata halal ini. Maka menurut pandangan saya, selain dukungan pemerintah pusat berupa bantuan anggaran, juga harus diperkuat dengan tekad pemerintah daerah untuk terus memacu kinerja dinas terkait untuk mewujudkan dalam hal kelembagaan dan kesiapan sumber daya manusia.

Hal lain yang tak ketinggalan adalah dukungan masyarakat untuk menjaga fasilitas bersama dengan memunculkan sense of belonging yang berkesinambungan sehingga fasilitas tersebut dapat dinikmati bersama secara layak. Peran universitas penting untuk mengimplementasikan tri dharma sebagai bentuk pengabdian masayarakat untuk memberikan penyuluhan tentang urgensi halal produk dan jasa kepada pelaku usaha.

Kemudian tak lupa bahwa ada lembaga penjamin halal untuk mengkajibahanbaku (alternative maupun baru) dan produk akhir (jika diperlukan) yang akan digunakan oleh perusahaan selama dalam masa sertifikat halal berlaku. Dukungan swasta pun tak kalah pentingnya dengan cara memanfaatkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) agar dialokasikan untuk pengembangan kawasan wisata. Dengan kerjasama berbagai pihak ini, diharapkan cita-cita menjadikan Pandeglang sebagai destinasi wisata halal dapat terwujud secara cepat, terintegrasi, dan berkesinambungan. Selamat berkarya. Dirgahayu Pandeglang! (Imas Eva Wijayanti/Auditor LPPO MUI Banten dan Dosen Pendidikan Kimia UNTIRTA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here