Paham Radikal Masih Menjadi Ancaman Bersama

Oleh : Dodik Prasetyo

Radikalisme tampaknya bisa hadir kapan saja, bahkan di tengah suasana idul fitri dan belum berakhirnya pandemi covid-19. Kaum radikal masih saja melancarkan aksi teror kepada aparat kepolisian. Aksi penyerangan teroris terhadap Polsek Daha Selatan menjadi cermin bahwa radikalisme masih menjadi ancaman dan ada diantara masyarakat.

Tercatat pada senin 1 Juni 2020 pukul 02.15 WITA. Markas Polsek Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan. Mendapatkan serangan dari orang yang tidak dikenal. Kronologis penyerangan terjadi ketika anggota kepolisian jaga sentra pelayanan kepolisian terpadu (SPKT) Polsek Daha Selatan melaksanakan piket Jaga Malam.

Saat itu petugas piket berjumlah 3 orang, yakni Brigadir Leonardo Latupapua, Brigadir Djoman Sahat Manik Raja dan Bripda M Azmi. Saat kejadian, Bripda Azmi tengah berada di ruangan unit reskrim. Secara tiba-tiba, dirinya mendengar ada keributan di ruang SPKT. Ia langsung mendatangi ruangan SPKT dan melihat keadaan Brigadir Leonardo Latupapua sudah mengalami luka bacok. Akibatnya Brigadir Leo meninggal dunia setelah mengalami luka bacok.

Bripda Azmi langsung mendatangai Kanit Intel Brigadir Sahat untuk meminta pertolongan dan bersama-sama mendatangi SPKT. Namun OTK tersebut justru mengejar anggota yang mendatangi ruang SPKT dengan senjata tajam jenis katana. Anggota yang dikejar tersebut lari untuk bersembunyi di dalam ruang intel dan binmas sembari meminta bantuan ke Polres Hulu Sungai Selatan.

Kepala Bidang hubungan masyarakat (kabid humas) Polda Kalimantan Selatan Komisaris Besar Mochamad Rifa’i menyatakan bahwa pihaknya menemukan kain berlogo kelompok militan Islamic State Iraq and Syiria (ISIS) dan sepucuk surat wasiat.

Pihak Kepolisian juga telah melakukan sejumlah langkah dalam menyikapi insiden ini, yakni dengan melakukan olah tempat kejadian perkara, mengamankan barang bukti, mengevakuasi OTK pelaku penyerangan ke RSUD Hasan Basyri, serta berkoordinasi dengan Detasemen Khusus (Densus) 88 antiteror.

Hasil pendalaman yang dilakukan, pihak kepolisian menemukan dokumen terkait dengan ISIS, seperti syal dan id card ISIS serta selembar surat wasiat  bertulis tangan dan Al-Qur’an kecil yang disimpan dalam tas pinggang.

Surat Wasiat tersebut tertulis

Jalan ini hanya untuk Islam. Hari ini aku telah datang dan memerangi kalian. Dan pesanku untuk ikhwan dimanapun berada bangun dan sadarlah. Jihad ini tak akan pernah berhenti, sampai kiamat sekalipun. Maka bangun dan sadarlah dari tidur yang panjang ini. Bangun dan Sadarlah.

Meski demikian, pihak kepolisian belum berani apakah motif pelaku penyerang Mapolsek Daha Selatan dipicu aksi jihad seperti yang kerap melandasi pergerakan ISIS. Saat ini generasi milenial rentan terpapar paham radikal karena kebanyakan dari mereka adalah pengakses sosial media. Hal ini tentu saja menjadi katalis generasi tinggi yang terpapar radikalisme.

Center for the prevention of radicalization (2018) menyebutkan bahwa dalam proses radikalisasi, orang mengadopsi sistem kepercayaan yang ekstrem termasuk keinginan untuk menggunakan, mendukung dan memfasilitasi kejahatan dengan tujuan untuk mempromosikan ideologi, proyek politik atau perubahan sosial.

Radikalisme tentu bukanlah salah satu ciri orang beragama, agama apapun tentu mengajarkan cinta kasih dan perdamaian, bukan perang, kebencian atau pembunuhan sesama manusia hanya karena menurut dirinya, mereka yang tidak sepaham adalah sesat dan kafir yang harus dibantai.

Pengamat Intelijen dan Terorisme Stanislaus Riyanta menduga pelaku penyerangan Mapolsek Daha Selatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan tersebut merupakan anggota dari jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiiliasi dengan ISIS. Stanislaus mengatakan bahwa militan yang berafiliasi dengan ISIS biasanya menjadikan polisi sebagai musuh mereka.

Polisi pun harus tetap waspada atas serangan yang dilakukan seorang diri atau biasa disebut sebagai lone wolf. Hal tersebut sulit dideteksi karena mereka bergerak seorang diri sehingga tidak ada komunikasi atau transaksi yang bisa dipantau.

Sebelumnya, Hasil survei dari lembaga kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin oleh Prof Dr Bambang Pranowo, yang juga merupakan Guru Besar Sosiologi Islam di UIN Jakarta pada 2010 lalu, menunjukkan bahwa hampir 50% pelajar setuju dengan tindakan radikal.

Data tersebut juga menunjukkan 25% siswa dan 21 Guru menyatakan bahwa Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan syariat Islam di Indonesia. Radikalisme sudah jelas menjadi ancaman yang tidak bisa diremehkan. Pihak berwenang seperti Polri, BIN hingga BNPT harus tetap siaga dengan segala kemungkinan aksi radikal yang ada. (Penulis adalah kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here