Paguron Silat Kabupaten Serang Mentas di TMII

Pelajar dan paguron saat tampil di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (20/4/2019). *

Pelajar dan paguron silat asal Kabupaten Serang mentas di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu (20/4/2019). Para pelajar dan pesilat tersebut, mewakili Provinsi Banten untuk mengisi acara panggung hiburan terbuka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-44 TMII.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Serang Beni Kusnandar mengatakan, paguron silat yang mentas tersebut, terdiri dari Paguron Medal Suci dan Sinar Pusaka Putra Banten. Mereka semua menampilkan Silat Kaserangan dan Debus.

“Pentasnya gabung dengan Provinsi Bangka Belitung dipanggung terbuka di anjungan Banten, untuk Bangka Belitung menampilkan empat tarian,” katanya, Ahad (21/4/2019).

Sementara untuk tarian, ujar dia, semuanya diisi oleh pelajar, antara lain PAUD Wijaya Kusuma Kramatwatu, SDN 1 Cikande, SDN 1 Kramatwatu, dan SMPN1 Ciruas. Ada enam tarian yang ditampilkan dalam pentas tersebut.

a menuturkan, pentas tersebut, bukan kali pertama Kabupaten Serang diundang oleh TMII untuk mewakili Banten. Namun, setiap tahun sering diundang dalam rangka memeriahkan HUT TMII.”Tahun sebelumnya Kabupaten Serang ikut pawai budaya, nah sekarang pawai budayanya oleh Pandeglang,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga mendorong paguron silat Kabupaten Serang ikut di festival silat bercerita tingkat nasional. Karena kebetulan Kabupaten Serang saat ada festival silat di Banten di Pendopo Lama menjadi penata terbaik, penata artistik terbaik, dan penampil silat terbaik.

“Jadi, diundang juga untuk festival di taman mini, nah sekarang lebih banyak lagi pesertanya, kalau kemarin kan waktu di gubernuran hanya 12 provinsi, sekarang saya dorong suruh ikut lagi. Jadi, sambil tampil di anjungan dia ikut silat bercerita,” ucapnya.

Ia menjelaskan, dalam festival silat bercerita yang ditampilkan oleh Paguron Kabupaten Serang tersebut, yaitu menceritakan terkait Sultan Ageng Tirtayasa pada masa kecil yang diajarkan silat oleh Syekh Yusuf. Setelah dinobatkan menjadi sultan, kemudian ada penyusup yang mau meruntuhkan kesultanan di cerita silat tersebut.

“Nah itu digambarkan oleh sekelompok pesilat, jadi si sultan itu menggambarkan di satu tempat datang ke pasar dan mengayomi masyarakat, itu ditampilkannya lewat silat,” tuturnya. (Dindin Hasanudin)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here