Minggu, 23 September 2018
Para petani sedang menjemur padi yang telah selesai dipanen di bawah terik matahari, di Desa Singarajan, Kecamatan Pontang, Ahad (4/3/2018).*

Padi Diserang Hama, Petani Keluhkan Hasil Panen Menurun

Sejumlah petani di Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang mengeluhkan menurunnya hasil panen padi pada musim panen kali ini, jika biasanya petani bisa memanen hingga 6-7 ton padi per hektare, namun saat ini hanya 2-3 ton per hektare. Hal tersebut, karena adanya serangan hama wereng batang cokelat, bahkan ada beberapa petani yang mengalami gagal panen.

Pengusaha Penggilingan Nur Cahaya di Desa Singarajan, Hayuti mengatakan, untuk panen kali ini bisa dianggap tidak jadi. Sebab, terlalu banyaknya hama yang menyerang tanaman padi para petani, terutama wereng batang cokelat, putih, dan hijau. Penurunan hasil panen juga drastis, biasanya dalam satu hektare, petani bisa memanen hingga 6-7 ton padi, namun saat ini hanya 2-3 ton per hektare.

“Bahkan, ada juga dari mereka yang sampai tidak bisa panen akibat habis terserang hama. Jadi, panen juga gimana ya cuma-cuma doang. Ada sekitar 50 persen yang tidak kebagian panen. Sekarang belum semua yang panen, kemungkinan sampai April baru beres panen semuanya,” katanya kepada Kabar Banten di lokasi, Ahad (4/3/2018).

Padahal, ujar dia, petani sudah mengeluarkan modal yang besar untuk menanam dan merawat padinya. Namun, karena serangan hama tersebut, mereka menjadi merugi. Bahkan, tak jarang dari mereka yang mulai kebingungan untuk menanam kembali padi di musim tanam berikutnya. “Petani enggak punya modal untuk yang berikutnya. Makanya, saya kasihan sama petani, karena biaya gede, tapi hasilnya enggak ada. Banyak yang nangis itu petani,” ucapnya.

Selain gagal panen, penderitaan para petani juga bertambah dengan menurunnya harga gabah. Saat pertama masuk masa panen, harga gabah masih berada di angka Rp 600.000 per kuintal. Namun, saat ini harganya hanya Rp 450.000-460.000 per kuintal. “Berasnya juga turun jauh, beras itu yang bagus sekarang Rp 9.000 per kilogram. Kalau pertama panen sampai Rp 12.500 per kilogramnya, ya karena ada impor juga,” tuturnya.

Padahal, menurut dia, untuk wilayah Pontang hampir 80 persen warganya mengandalkan hidup dari bertani. Hanya sebagian kecil yang bergelut dengan tambak dan perikanan. “Jadi, kalau gagal panen rugi besar di sini mah. Lahan pertanian di sini ada sekitar 2.000 hektare,” katanya.

Sementara, Kepala Bidang Tanaman Pangan Hortikultura pada Dinas Pertanian Kabupaten Serang, Zaldi Dhuhana mengatakan, dari hasil pantauan petugas di lapangan, sampai saat ini untuk wilayahnya yang terkena puso akibat wereng baru 212 hektare, sedangkan tingkat serangan yang terdeteksi petugas saat ini baru berupa spot-spot saja.

“Jadi, spot-spot itu dia misalnya dalam 10 hektare itu enggak semuanya terserang, cuma ada satu titik, cuma titik ini bila tidak dikendalikan cepat dia punya peluang untuk meluas. Kalau dari hasil pantauan yang memiliki potensi ini, tapi belum terserang ada sekitar 2.000 hektare. Tapi, itu masih berupa titik saja atau spot, belum semuanya,” ujarnya.

Ia mengatakan, sulitnya mengendalikan hama tersebut dikarenakan jadwal tanam petani yang tidak serentak. Akibatnya, jika panen di satu tempat, maka wereng tersebut bisa pindah ke tempat lain yang masih ada tanaman padinya. “Kalau tidak cepat dipantau dan dikendalikan itu bisa meluas. Pontang yang banyak,” ucapnya.

Ia menuturkan, bagi para petani yang padinya puso, karena terkena penyakit atau bencana alam, mereka akan mendapatkan bantuan benih. Namun, dengan catatan mereka belum ikut asuransi usaha tani padi. “Kalau dia sudah ikut dia bisa melakukan klaim ke Jasindo untuk diganti. Sementara, untuk musim panen, itu diperkirakan pertengahan Maret sampai awal April,” tuturnya. (Dindin Hasanudin)***


Sekilas Info

47 Desa di Kabupaten Serang Terdampak Kekeringan

SERANG, (KB).- Sebanyak 47 desa di 11 kecamatan di Kabupaten Serang kesulitan mendapatkan air bersih, karena …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *