Jumat, 21 September 2018

OP Gencar, Harga Beras Tetap Tinggi

Operasi Pasar (OP) gencar dilakukan Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divre Serang untuk menstabilkan harga beras di Kota Serang. Namun pada kenyataannya, harga beras yang dijual di Pasar Induk Rau (PIR) Kota Serang masih tetap tingginya. Seorang pedagang beras di PIR, Ari mengatakan, hingga saat ini harga beras masih belum mengalami penurunan. Untuk beras kualitas medium dijual paling rendah kisaran Rp 11.000/kg sedangkan untuk beras premium paling murah dijual Rp 13.000/kg.

Menurutnya, harga yang melambung tersebut tidak bisa dibendung karena persediaan yang kurang,sementara permintaan banyak. OP Beras menurutnya sulit untuk kembali menstabilkan harga. Soalnya, beras dari Bulog pun terbatas. “Operasi pasar kan tidak rutin, mungkin stok bulognya juga sedikit,” ujarnya kepada Kabar Banten, Senin (15/1/2018). Jika melihat kondisi yang terjadi, ia menduga harga beras akan kembali stabil, setelah panen raya yang diperkirakan akan terjadi pada akhir Februari atau awal Maret mendatang. “Masih melonjak, kalau sudah panen raya mungkin turun,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Sub Bulog Serang Fansuri mengatakan, pihaknya akan tetap menggelar OP sesuai dengan instruksi dari Kementerian Perdagangan, meski belum memberikan pengaruh untuk menstabilkan harga. “Sesuai surat kemendag nomor 31 kita akan tetap menggelar OP,” ucapnya. Untuk strategi lain yang akan ditempuhnya, kata dia, sesuai dengan pengalaman yang pernah dilakukannya yaitu dengan percepatan penyaluran Beras sejahtera (Rastra) dan bantuan pangan non tunai (BPNT).

“Percepatan penyaluran Rastra, karena selama ini sudah terbukti bahwa Rastra bisa untuk menjaga stabilnya harga beras di pasaran umum, cepat tidaknya penyaluran ini masih menunggu Pedum Bansos di Kementerian Sosial Pusat,” ucapnya. Terkait adanya penolakan beras impor di Provinsi Banten, ia tidak tahu apakah beras impor sudah masuk atau belum pada saat ini. “Masalah impor saya gak tahu,” ujarnya.

Pada bagian lain, penolakan impor beras di Banten meluas. Setelah Pemprov Banten dan Kabupaten Pandeglang, kini giliran Kabupaten Serang melalui Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah yang tidak setuju dengan kebijakan pemerintah pusat tersebut.¬† Tatu bahkan menilai keberpihakan pemerintah ke para petani melalui program swasembada pangan harus dilanjutkan, bukan malah kembali membuka impor beras. “Kalau sekarang kita mau membuka kembali impor beras, menurut saya berarti ini mundur lagi keinginan untuk berswasembadanya,” ucap Tatu, Senin (15/1/2018).

Menurut dia, pemerintah dari pusat sampai bawah jangan bolak balik jika punya kebijakan atau keinginan. “Ya kita bertahap langsung lakukan, jangan sudah setengah jalan balik lagi, ini (Swasembada) sudah setengah jalan,” tutur Tatu. Menurutnya, keberpihakan ke petani harus dilanjutkan, tapi kalau impor dibuka lagi berarti pembelaan ke petani tidak ada. “Petani kapan mau kita fasilitasi. Mereka sekarang semangat, kemarin-kemarin bantuan alsintan sudah baik, kemudian regulasi pengadaan bibit, pupuk yang tadinya dilelangkan sekarang tanpa lelang, itu untuk pembelaan ke petani.

Sementara, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian Kabupaten Serang, Zaldi Dhuhana mengatakan, di Kabupaten Serang produksi gabah kering giling rata-rata surplus hingga 100 ribu ton setiap tahun. “Cuma kemudian kan hasil panen ini tidak semuanya bisa dikendalikan oleh pemerintah. Karena, tata niaga gabah sebagian besar ada di tengkulak atau di pedagang Krawang maupun Banten. Jadi mau tidak mau kita harus ada strategi tambahan biar hasil panen dari Serang tidak terbawa keluar,” katanya.

Untuk menjaga supaya gabah tetap di Kabupaten Serang, kata dia, harus ada kebijakan tambahan. Kebijakan tersebut seperti pemberdayaan penggilingan padi di Kabupaten Serang. Sehingga, penggilingan padi bisa membeli semua panen yang ada di Kabupaten Serang, kemudian pemasarannya bisa difasilitasi oleh pemerintah seperti pabrik, hotel, rumah sakit, kantor dan lain sebagainya memakai beras dari Serang.

“Dengan adanya kepastian pasar, pihak penggilingan padi punya pasar yang jelas dan mereka berani untuk membeli panen dari petani. Kalau mengandalkan Bulog, saat ini harga pembelian pemerintah kan sangat rendah, cuma Rp 3.700 per kilo gram. Sedangkan di pasaran, sekarang harga gabah saja sudah mencapai Rp 6.000 per kilogram,” tuturnya. Terkait kebijakan impor beras, kata dia, juga bersamaan dengan panen petani. Di bagian selatan, di antaranya di Padarincang, Bandung, Mancak, Pabuaran, sudah panen. Sedangkan di pantai utara (pantura), baru akhir Februari atau Maret baru akan panen serentak. (Masykur)***


Sekilas Info

Maraknya Aksi Kriminal di Kota Serang, MUI Minta Aparat Kerja Ekstra

SERANG, (KB).-¬†Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Serang meminta aparat kepolisian bekerja ekstra demi menjamin rasa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *