Negeri di Atas Awan Diserbu Pengunjung

Ribuan warga dari berbagai daerah memadati jalan menuju objek wisata Negeri di Atas Awan Gunung Luhur Desa Citorek Kidul, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Sabtu (21/9/2019).*

LEBAK, (KB).- Ribuan pengunjung dari berbagai daerah memadati objek wisata Negeri di Atas Awan, di Gunung Luhur, Desa Citorek Kidul, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Sabtu (21/9/2019). Kepadatan pengunjung yang terjadi menimbulkan kemacetan sepanjang 5 kilometer hingga malam hari.

Kepala Desa Citorek Kidul Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak, Narta mengatakan, pesona objek wisata Negeri di Atas Awan Gunung Luhur semakin menarik perhatian para pelancong yang ingin menikmati panorama keindahan alam.

“Para pengunjung mulai berdatangan sejak Sabtu siang. Puncak kunjungan hingga menyebabkan kemacetan jelang malam. Macetnya cukup parah kaya di Jakarta,” ujar Narta kepada Kabar Banten, Ahad (22/9/2019).

Meski terjadi kemacetan cukup parah hingga kiloan meter, namun pihaknya masih bisa mengatasi. Adapun pengunjung yang datang berasal dari berbagai daerah di antaranya Jakarta. Narta berharap, rencana pemerintah baik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak maupun Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten untuk membangun infrastruktur penunjang objek wisata Negeri di Atas Awan segera direalisasikan.

“Alhamdulillah baik kabupaten maupun provinsi sudah respon dan berencana akan membangun objek wisata ini. Tentunya, kami berharap mudah-mudahan sarana dan prasarana terutama infrastruktur jalannya bisa segera terealisasi,” tuturnya.

Secara terpisah, seorang pegiat wisata yang juga koordinator Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) Kabupaten Lebak, AM Erwin mengatakan, kepadatan pengunjung wisata Negeri di Atas Awan menyebabkan kemacetan hingga 5 kilo meter.

“Tentunya ini harus segera disikapi oleh pemerintah, dengan segera membangun infrastrukturnya. Karena jika tidak segera khawatir akan membuat kapok para pengunjung,” katanya.

Ketua Harian Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Banten Ashok Kumar mengatakan, fenomena objek wisata “Negeri di Atas Awan” yang belakangan menjadi viral di media sosial, harus ditangkap secara cepat oleh pemerintah daerah, baik Pemkab Lebak maupun Pemprov Banten.

“Menurut saya, fenomena objek wisata ‘Negari di Atas Awan’ harus ditangkap dengan baik. Selama ini kan sering kita kenal 3A (atraksi amenitas dan aksesibilitas). Tetapi yang terjadi itu, Negeri di Atas Awan sudah mendahului. Oleh karena itu, pemerintah daerah bersegeralah melakukan pembenahan, fokus memoles ‘Negeri di Atas Awan’ supaya terus menarik wisatawan berkunjung,” kata Ashok.

Menurut Ashok, tanpa harus mengeluarkan cost yang besar, pemerintah daerah sudah diuntungkan dengan berbondong-bondongnya wisatawan yang datang. Oleh karena itu, tinggal bagaimana akses jalan menuju ke kawasan tersebut segera bisa dibangun. “Apa perlu dibangun akomodasi, restoran dan fasilitas lainnya,” ujarnya.

Pelaku dan pemerhati pariwisata M Arif Kirdiat mengatakan, viralnya objek wisata Negeri di Atas Awan adalah momentum menaikkan citra bahwa pariwisata bagi Banten adalah tumpuan dan harapan bagi ekonomi masa depan masyarakat.

“Sudah selayaknya pembangunan pariwisata harus integral dan memiliki konsep yang jelas bukan lagi sekadar penghamburan anggaran dengan kegiatan yang tidak dapat diukur keberhasilannya,” tutur Arif. (DH/Rizki Putri)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here