Nasibnya Orang Kampung

Oleh: Nasuha Abu Bakar, MA

Kampung merupakan istilah sebutan untuk sebuah tempat tinggal yang kesannya serba terbatas. Bisa juga sebuah nama tempat yang tertinggal dan jauh dari hingar bingarnya kehidupan masyarakat. Ada kesan seakan-akan yang namanya kampung adalah segalanya serba tertinggal.

Kota merupakan sebutan nama tempat yang masyarakat nya dipandang lebih memiliki kemajuan dan kemandirian dibandingkan dengan masyarakat ysng bertempat tinggal di perkampungan. Dilihat dari strata pendidikan, masyarakat perkotaan lebih maju dan unggul dibandingkan dengan masyarakat di perkampungan. Ditinjau dari segi ekonomi dan keuangan, terutama dalam mekanisme menata perputaran keuangan, masyarakat perkotaan lebih mampu dan lebih produktif karena ditunjang oleh keilmuan.

Masyarakat perkotaan merasa waktu itu sangat mahal dan berharga, sehingga sering diungkapkan waktunya sangat sempit bahkan sering merasa kekurangan waktu. Sementara itu, masyarakat di pedesaan dan di perkampungan suka menghabiskan dan membuang-buang waktu tanpa menghasilkan rupiah ataupun ilmu. Selama ini menurut sorotan pak ustadz Dzul Birri seperti itulah gambaran model masyarakat pedesaan dan perkotaan.

Perbedaan yang sangat menonjol, masyarakat perkotaan karena memiliki ilmu yang tinggi, jaringan yang luas, rekanan dan relasi dengan orang orang yang memiliki potensi potensi juga sangat banyak, sehingga ketika hak personal nya merasa terganggu, terusik, tidak nyaman dan merasa dirugikan, tidak segan segan melakukan pengaduan agar hak personalnya terlindungi. Seperti orangtua siswa tidak segan segan bahkan dengan sombongnya memperkarakan guru anaknya gara gara pak guru atau ibu guru memberi sangsi kepada anaknya.

Yang menyedihkan, belum lama di daerah jawa tengah banyak siswa siswi yang tertindih bangunan aula yang roboh. Bukan luka ringan, patah tulang, dan luka berat. Kepada siapa mereka akan mengadukan kesulitan nya. Menurut pandangan pak ustadz Dzul Birri, mengapa bangunan itu sampai robohnya, apakah angin yang akan diadukan, itu tidak mungkin. Ataukah hujan yang akan diperkarakan. Itupun tidak mungkin. Dan ajaibnya, yang dulu membangun ruang aula itu mudah2n menyaksikan berita nya, dan meminta maaf atas peristiwa musibah itu. Wallaahu ‘alamu bish shawaab wailaihil musta’aan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here