NADZIR WAKAF TIDAK BERGERAK

Prof. Dr. H.B. Syafuri, M.Hum

Ketua BWI Provinsi Banten

Nadzir adalah orang yang ditunjuk oleh wakif (yang mewakafkan tanah). Tugas nadzir adalah mengurus, mengembangkan, dan mengamankan aset wakaf sesuai amanat UU Wakaf No. 41 Tahun 2004. Tugas nadzir mendapatkan penghargaan dalam aturan UU Wakaf, yaitu 10 prosen dari hasil pengelolaan aset wakaf secara produktif oleh nadzir. Oleh karena itu, nadzir dibutuhkan pemahaman pengetahuan tentang pengelolaan aset wakaf.

Ada beberapa persyaratan untuk nadzir, di antaranya yaitu, amanah, serta tidak sedang menjalani kasus hukum. Periodisasi nadzir bisa 2 kali 5 tahun, terkecuali tersangkut hukum, tidak amanah dan meninggal dunia, maka akan terjadi penggantian nadzir yang diusulkan oleh pengurus nadzir ke Badan Wakaf Indonesia (BWI) setempat. Aturan persyaratan lokasi tanah wakaf 1000 metere ke bawah oleh BWI Kabupaten/Kota, sedangkan 1000 meter ke atas sampai 20.000.000 meter oleh BWI Provinsi, dan selanjutnya oleh BWI Pusat.

Kepentingan adanya nadzir dalam tanah wakaf, untuk memanfaatkan tanah wakaf tersebut tidak menjadi lahan tidur. Karena sangat banyak di Banten, tanah wakaf menjadi lahan tidur. Artinya, tanah wakaf belum dimanfaatkan maksimal sesuai dengan amanat wakif. Seperti ada orang tua dulu mewakafkan tanah untuk mesjid, madrasah. Sebetulnya walaupun peruntukannya untuk mesjid dan madrasah, biasanya masyarakat membiarkan tanah tersebut. Karena alasannya mesjid dan madrasah sudah ada, sehingga tanah wakaf itu dibiarkan dengan begitu saja.

Bagaimana supaya tanah wakaf itu bisa bermanfsat sesuai dengan amanat wakif, maka tugas nadzir untuk mengolah dan membuat tanah menjadi produktif, sehingga hasilnya bisa untuk kebutuhan kesejahteraan mesjid dan madrasah. Inilah yang dimaksud bahwa status tanah wakaf menjadi penting, sejak mulai AIW dan PPAIW bahkan sampai sertifikat. Perlu juga diketahui oleh masyarakat, ketika seorang nadzir tidak bisa melaksanakan tugasnya dengan baik, bahkan sama sekali tidak ada keinginan untuk melaksanakan tugasnya, maka aturannya ada pergantian nadzir.

Karena kita prinsipnya tidak boleh memaksakan kepada nadzir yang sudah tidak siap untuk melaksanakan mengelola tanah wakaf tersebut. Perlu juga diketahui bahwa kita juga akan dipersalahkan oleh wakif dan umat, kalo tanah wakaf itu tidak dikelola dengan bsik dan benar. Mungkin juga ada yang bertanya, bagaimana kalau wakif waktu ikrar mewakafkan tanah misal untuk masjid dan madrasah, sedangkan masjid dan madrasah sudah ada di wilayah tersebut? Maka pengurus nadzir supaya tidak dipersalahkan oleh hukum secepatnya mengusulkan perubahan peruntukan tanah wakaf ke BWI wilayah masing-masing sesuai dengan UU Wakaf. Artinya, bahwa yang awalnya ikrar wakif untuk masjid dan madrasah secara pisik bisa menjadi peruntukannya untuk kesejahteraan masjid dan madrasah.

Amanah UU Wakaf No. 41 tahun 2004, bagi seorang nadzir bekerja di bawah naungan hukum, baik mengenai priodisasi nadzir sampai kepada pengurusan tanah wakaf. Karena masih juga ada nadzir seumur hidup, bahkan tidak mau diganti karena mungkin kebelumtahuan yang bersangkutan terhadap tugas berapa lama menjadi nadzir. Atau, ada juga sesungguhnya sudah tau aturan bahwa tugas nadzir 2 kali 5 tahun, tetapi karena sudah merasa nyaman, mungkin ada kegiatan yang membantu kehidupannya, sehingga dia bertahan dan tidak mau untuk ada pergantian nadzir. Perlu juga diketahui, UU Wakaf mengamanahkan bahwa bagi nadzir yang melakukan pengelolaan tanah wakaf tidak sesuai dengan peruntukannya, maka akan menyalahi aturan wakaf. Demikian semoga bermanfaat.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here