Mutiara Nusantara

Oleh: Nasuha Abu Bakar, MA

Sahabat sahabat sejatiku ada yang berpandangan bahwa tanah Nusantara kita dianggap sebagai belahan surga. Karena bentuk dan model surga digambarkan di dalam kitab suci alqur’an seperti model alam di bumi pertiwi kita, misalnya saja banyak tumbuh tumbuhan, suburnya tanam tanamannya, gemercik indah dan beningnya air.

Suara indah burung bermacam macam burung bertambah tambah keindahan kehidupan dunia fana ini. Sehingga wajar orang orang bermimpi ingin memiliki asset dan kekayaan lebih.

Bentangan laut dan luasnya samudera menambah keyakinan bangsa bangsa di dunia menjadi merasa penting untuk berinvestasi baik terkait bisnis bahari, bisnis wisata dan bisnis properti lainnya.

Sayangnya kesadaran tentang betapa pentingnya menjadi pelaku bisnis di tanah nusantara ini hanya segelintir pengusaha anak bangsa sendiri, akan tetapi sebagian besar ditekuni oleh para pelaku penisnis dari luar.

Akibatnya, titik titik objek bisnis yang menjanjikan belum sempat tergarap, dan belum terjamah oleh oleh tangan tangan terampil asli pengusaha anak dalam negeri produk dalam negeŕi dengan sungguh sungguh. Betapa kekayaan alam bahari nusantara masih terhitung sangat luas dan belum bisa menjadi point utama dalam praktek bisnisnya.

Berbeda dengan sudut pandang pak ustadz Dzul Birri, apa yang dimaksud dengan “Mutiara Nusantara”. Pak ustadz Dzul Birri berpendapat bahwa yang dimaksud adalah dua tokoh nasional yang fenomenal. Tokoh yang pertama yang dimaksud pak ustadz adalah murabbi anak bangsa, mursyid dzikir bumi nusantara yaitu ustadz Muhammad Arifin Ilham.

Beliau tutup usia di umur 49 tahun. Ustadz Muhammad Arifin Ilham merupakan mutiara Nusantara yang Allah angkat kembali ke dalam panhkuan Nya, sehingga suara lirih, parau dan serak serak basah yang selalu membasahi bumi nisantara kini hilang seketika bersamaan peristiwa sejarah yang memilukan. Tanggal 22 mei 2019 anak bangsa mulai kehilangan mutiara kesantunan dan kesabarannya yang berefek benturan raga yang tidak bisa dihindari.

Penghormatan dan penghargaan terhadap bulan mulia yaitu bulan suci ramadhan sirna tanpa tanda. Padahal kehadiran bulan mulia ini menjadi sumber pendorong agar sesama anak cucu adam saling asih dan saling asuh. Mutiara inilah yang menjadi proyek besar yang selalu ditanam di seluruh belahan bumi nusantara oleh “bang Arifin Ilham” begitulah panggilan akrab almarhum almagfurlah. Beliau merupakan mutiara nusantara yang langka.

Pada saat khidmatnya anak bangsa memperingati hari “Lahir Pancasila” tiba tiba kita semua dikejutkan dengan berita duka atas wafatnya ibu negara kita yang ke 6 yaitu almarhumah ibunda Ani Yudoyono begitu panggilan beliau.

Almarhumah pun merupakan mutiara nusantara yang sangat langka. Ide brilian beliau yang melahirkan adanya perpustakaan keliling dengan kendaraan roda empat. Harapan beliau agar anak bangsa ini cinta membaca cinta membaca, karena dengan banyak membaca bumi nusantara ini dapat dijaga dan akan terpelihara dengan baik.

Menurut pandangan pak ustadz Dzul Birri bahwa kepulangan dua mutiara nusantara ini seolah olah beliau berdua meyakini bahwa generasi ke depan mampu menjaga tanah nusantara dengan dua cara, cara yang pertama perbanyak dzikir, mendekatkan diri seluruh anak bangsa tanpa kecuali kepada Allah Dzat yang mengatur dan menata alam semesta sebagaimana yang telah dimulai oleh ustadz Muhammad Arifin Ilham.

Dan cara yang kedua banyak menimba ilmu dengan banyak membaca, baik yang berbentuk teks dan tulisan, ataupun membaca suasana dan keadaan alam semesta sebagaimana telah dirintis oleh almarhumah ibu Ani Yudoyono. Perjuangan ibunda tercinta selama 4 bulan menghadapi ujian sepertinya sedikitpun tidak terlihat mengeluh, semangat dan semangat tanpa mengenal waktu dan batas.

Semoga dua mutiara nusantara selalu berada dalam ridho Allah atas segala usaha besarnya dalam membangun tanah nusantara ini. Wallaahu ‘alamu bish shawaab wa ilaihil musta’aan*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here