Jumat, 21 September 2018

Museum Multatuli Segera Diresmikan, Puluhan Artefak Asli dan Replika Siap Dipamerkan

Museum Multatuli yang menyimpan barang peninggalan dan menceritakan sejarah Eduard Douwes Dekker, mantan Asisten Residen Lebak, Banten (sekitar 1856 atau abad XIX) yang memihak rakyat Lebak akan segera diresmikan. Berdasarkan ageda resmi, Museum sejarah Multatuli yang akan diresmikan pada Ahad, 11 Februari 2018, akan diisi dengan simposium dengan pembicara kunci (Keynote Speaaker) Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, DR Hilman Faris, dua sejarawan Peter Carey dan Bonnie Triyana, serta Dosen Universitas Indonesia, Saras Dewi.

Tak ketinggalan, perwakilan dari Kerajaan Belanda dan Kedutaan Besar (Kedubes) Belanda direncanakan akan ikut meresmikan Museum Sejarah Multatuli itu. Setidaknya ada 34 artefak asli maupun replika Eduard Douwes Dekker akan ditampilkan di Museum Multatuli yang dahulu adalah gedung bekas Kawedanan Belanda itu. Bahkan, beberapa di antaranya didatangkan langsung dari Belanda. “Ada artefak dari negeri Belanda, ini juga sinergitas kita dari yayasan rumah Multatuli di negeri Belanda, ada tegel yang dulu jadi rumah tinggal Douwes Dekker. Miniatur kapal VOC juga. Ada beberapa yang dibawa (dari Belanda),” kata Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya, beberapa waktu lalu.

Beberapa barang asli yang dipamerkan akan dibungkus dalam kotak kaca, seperti novel Max Havelaar edisi pertama dalam bahasa Prancis, peta Lebak terbitan pertama, biografi Eduard Douwes Dekker alias Multatuli hingga buku zaman Kerajaan Belanda. “Di mana, sewaktu (Multatuli) menjadi (asisten) Residen Belanda di Lebak, dia bukan menindas rakyat Lebak, justru Multatuli mendorong masyarakat Lebak untuk bangkit dari kemiskinan,” ujar Iti.

Bupati juga bercerita bahwa di museum itu akan dipajang patung perunggu Eduard Douwes Dekker, karya Dolorosa Sinaga. Selanjutnya, ada lima ruangan yang memiliki cerita berbeda-beda, seperti ruangan yang bercerita tentang perjuangan rakyat Lebak melawan penjajahan. Selain itu, ruangan lainnya bercerita tentang potensi Lebak, kisah tentang suku Baduy, hingga kisah tentang tambang emas Cikotok yang terbesar pertama di Indonesia.

Sebelum berdirinya Museum Multatuli, telah banyak warga maupun pemerintah luar negeri yang belajar dan meneliti sejarah Eduard Douwes Dekker di Kabupaten Lebak, seperti dari Belanda dan Jerman. “Ini juga mendorong literasi wisata budaya, pendidikan, dan sejarah yang ada di Lebak. Ini adalah kantor kawedanan dulu yang juga merupakan cagar budaya,” ujar wanita berkacamata ini.

Max Havelaar terbit kali pertama pada 15 Mei 1860 di Amsterdam, Belanda. Novel ini ditulis Eduard Douwes Dekker di bawah nama pena Multatuli. Max Havelaar memang bukan karya biasa. Novel ini menggegerkan karena menghamparkan kenyataan pahit kehidupan masyarakat Lebak di bawah cengkeraman kolonialisme dan feodalisme. Sebagai mantan asisten residen di Lebak, Douwes Dekker dianggap cakap memotret kondisi penduduk pribumi tertindas.

Ketika menerbitkan novel Max Havelaar, ia menggunakan nama samaran ‘Multatuli’. Nama ini berasal dari bahasa Latin dan berarti “Aku sudah menderita cukup banyak” atau “Aku sudah banyak menderita”, di sini, aku dapat berarti Eduard Douwes Dekker sendiri atau rakyat yang terjajah. Setelah buku ini terjual di seluruh Eropa, terbukalah semua kenyataan kelam di Hindia Belanda, walaupun beberapa kalangan menyebut penggambaran Dekker sebagai berlebih-lebihan.

Mendiang Pramoedya Ananta Toer pernah menyebut buku karyaMax Havelaar itu sebagai buku yang “membunuh” kolonialisme. Kemunculan Max Havelaar menggemparkan dan mengusik nurani. Dalam sebuah tulisannya pada jejaring sosial (facebook), sejarawan kelahiran Lebak, Bonnie Triyana menuliskan, museum ini masih jauh dari sempurna; tak seperti museum lain yang dipenuhi koleksi berharga dari masa lalu.

Namun ia berangkat dari gagasan untuk menciptakan ruang publik tempat warga belajar sejarah. Pada museum milik rakyat Lebak (dan Indonesia tentu saja) akan disajikan kisah tentang bagaimana kaum kolonialis datang, mendirikan kekuasaan di atas tanah koloninya dan bagaimana penghisapan serta penindasan terhadap rakyat jajahannya dilakukan. Semoga berkenan datang. Terima kasih. (Nana Djumhana)***


Sekilas Info

Upah Belum Dibayarkan, Pekerja Proyek Penanganan Sungai Cibinuangeun Mundur

LEBAK, (KB).-¬†Pelaksanaan pekerjaan proyek penanganan Sungai Cibinuangeun yang didanai APBD Provinsi Banten tahun anggaran (TA) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *