Selasa, 20 Februari 2018
Museum Multatuli

Museum Multatuli Berhasil Pikat Wisatawan Mancanegara

MELALUI sebuah roman yang berjudul Max Havelaar: Een Koffieveilingen Handelmaatschappij atau Max Havelaar: Persekutuan Lelang Dagang Kopi Hindia Belanda, Eduard Douwes Dekker yang menggunakan nama pena Multatuli, mengenalkan nama Lebak pada dunia luar. Melalui roman yang diterbitkan tahun 1859 itu, Eduard Douwes Dekker yang pernah menjabat sebagai asisten residen di Lebak, menelanjangi praktik busuk kolonialisme di Indonesia. Membongkar penindasan yang dilakukan oleh sistem kolonialisme selama beratus tahun lamanya.

Seratus lima puluh tahun sejak penerbitan pertama roman itu, Kabupaten Lebak membangun sebuah museum yang diberi nama Museum Multatuli sebagai bentuk pembelajaran pada masyarakat. Meski belum diresmikan oleh Bupati Iti Octavia Jayabaya, serta gedungnya belum dibuka untuk umum, namun sejak beberapa bulan terakhir ini turis dari beberapa negara di Asia dan Eropa sudah berdatangan untuk mengunjungi Museum Multatuli di Rangkasbitung. Berdasarkan data buku tamu pengunjung Museum Multatuli, turis dari Asia maupun Eropa di antaranya Korea Selatan, Belgia dan Belanda.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Lebak, Wawan Ruswandi kepada Kabar Banten membenarkan jika Museum Multatuli sejak beberapa bulan terakhir ini sering dikunjungi wisatawan asing dari Asia maupun Eropa. Selain berkunjung ke museum, para wisatawan inipun berkunjung ke bagian dinding yang tersisa eks rumah pribadi Multatuli yang berada di belakang Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Adjidarmo Rangkasbitung di Kampung Kaum Kelurahan Muara Ciujung Barat. ”Kunjungan mereka ke museum tentunya ingin tahu sejarah Lebak serta sejarah keberadaan Multatuli saat berada di Lebak pada zaman Belanda,” ujar Wawan Ruswandi, akhir pekan lalu.

Ditambahkannya, karena tertarik terhadap sejarah Lebak dan sejarah Multatuli, maka sejumlah turis dari beberapa negara tersebut akan mengajak rekan-rekan di negaranya untuk datang ke Lebak. ”Para turis asing yang berkunjung ke Museum Multatuli ini sempat diterima langsung oleh Ibu Bupati Iti Octavia Jayabaya di pendopo. Kepada Ibu Bupati, para turis asing ini berjanji akan membawa rekan-rekannya ke Lebak untuk mengetahui langsung sejarah Lebak dan Multatulinya,” ucap Wawan.

Kepala Seksi Cagar Budaya dan Permuseuman pada Disdikbud Lebak, Ubaidilah Muchtar menambahkan, keberadaan Museum Multatuli di Lebak rupanya sudah terdengar hingga ke mancanegara. Hal itu terbukti bahwa turis asing yang datang, ternyata sebelumnya mendengar di negaranya masing-masing, jika di Lebak terdapat Museum Multatuli. (Lugay/Job)***


Sekilas Info

PEDAGANG PASAR SAMPAY TERANCAM GULUNG TIKAR

LEBAK, (KB).- Transaksi di Pasar Sampay Warunggunung Kabupaten Lebak semakin sepi.  Selain karena tidak dilewati kendaraan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *