Mukernas Ulama Alquran Hasilkan 7 Rekomendasi

BOGOR, (KB).- Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Ulama Alquran yang digelar Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) menghasilkan tujuh rekomendasi. Mukernas berlangsung di Bogor, 25-27 September 2018, diikuit 115 ulama Alquran, dalam dan luar negeri.

Mukernas Ulama Alquran dibuka Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama. Kegiatan ini mengangkat tema, “Washatiyyah Islam untuk Kehidupan Beragama yang Lebih Moderat, Damai dan Toleran.”

Tujuh rekomendasi seperti dibacakan Kepala LPMQ Muchlis M Hanafi pada penutupan Mukernas, Kamis (27/9) menyangkut soal pentingnya perhatian pemerintah dalam layanan kitab suci Alquran. Juga terkait perlunya pengembangan kajian Alquran melalui berbagai lembaga pendidikan.

“Pemerintah perlu menghidupkan dan mengembangkan disiplin ilmu tersebut di berbagai lembaga pendidikan, serta mensosialisasikannya kepada masyarakat luas,” ujar Muchlis.

Berikut ini tujuh rekomendasi Mukernas Alquran:

Pertama, Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Agama memberikan perhatian yang sangat besar terkait pelayanan kitab suci. Bukan hanya dengan berupaya keras menjamin kesahihan teksnya, tetapi juga kesahihan maknanya.

Kedua, di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk perlu mengarusutamakan wasathiyyah sebagai metode keberagamaan sehingga menjadi acuan berpikir, bersikap dan bertindak umat Islam dalam upaya mewujudkan kehidupan beragama yang lebih moderat, damai dan toleran.

Ketiga, Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran perlu menindaklanjuti hasil Kajian dan Pengembangan Rasm Mushaf Alquran Standar Indonesia dan menetapkannya sebagai dasar penyempurnaan Mushaf Alquran Standar Indonesia. Usaha ini harus dibarengi dengan penyempurnaan Naskah Akademik terkait rasm usmani dalam Mushaf Alquran Standar.

Keempat, kajian dan pengembangan Mushaf Alquran standar yang telah dilakukan seyogyanya tidak berhenti pada aspek rasm saja, namun perlu dikembangkan pada aspek dabt, waqf dan ibtida’ dalam rangka penguatan landasan ilmiah Mushaf Alquran Standar Indonesia.

Kelima, pemerintah Indonesia perlu menghidupkan dan mengembangkan disiplin ilmu tersebut di berbagai lembaga pendidikan, serta mensosialisasikannya kepada masyarakat luas.

Keenam, kajian revisi dan pengembangan terjemahan Alquran Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama bekerjasama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud RI merupakan langkah dan upaya dalam menghadirkan terjemahan Alquran yang mudah dipahami oleh masyarakat.

Ketujuh, menghimbau kepada masyarakat luas agar dalam memahami Alquran tidak hanya berpegang pada terjemahan Alquran mengingat keterbatasan yang dimiliki oleh setiap terjemahan. (KO)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here