Kamis, 18 Oktober 2018

MUI BANTEN HADIRKAN ULAMA DARI TUNISIA DAN LIBANON

SERANG, (KB).- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten melalui Komisi Hubungan Internasional dan Kerjasama Luar Nageri menggelar seminar internasional bertema “The Middle Part of Moderasation in Islam (The Qur’anic Concept of Wasathiyah), Jumat (21/9/2018). Kegiatan itu mengundang Prof.Dr. Abdel Kader Naffati dari Universitas Zaitunah Tunisia dan Syaikh Fadi Allamudin dari Lebanon.

Hadir dalam seminar sehari tersebut, antara lain Rektor Untirta Prof. Dr. Soleh Hidayat, Ketua Umum Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Provinsi Banten Prof. Dr. Syibli Sarjaya, perwakilan MUI Kabupaten dan Kota se-Provinsi Banten, ormas keagamaan, perguruan tinggi dan utusan pondok pesantren se-Provinsi Banten.

Dalam sambutan pendahuluan, Ketua Umum MUI Banten, Dr KH.AM. Romly mengatakan, konsep wasathiyah harus difahami secara baik oleh umat Islam zaman ini. Sebab, dewasa ini semakin derasnya benih-benih radikalisme di tengah masyarakat beragama. “Seminar ini merupakan salah satu usaha MUI dalam rangka menghadang arus radikal itu”, katanya.

Kegiatan ini, tambah dia, juga guna mencari solusi dan menyikapi maraknya aksi terorisme di beberapa belahan dunia, baik di belahan barat, timur tengah maupun Indonesia. Acara tersebut berlangsung di ruang pertemuan Gedung Bappeda Provinsi Banten, Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B).

Pada sesi seminar, Prof Abdelkader Naffati menegaskan, sikap moderat (wasathiyah) dalam beragama merupakan suatu keharusan. Sebab, wasathiyah adalah karakter dasar dalam ajaran Islam itu sendiri.

“Perilaku-perilaku berlebihan dalam beragama (ghuluw), atau fenomena mengkafirkan kelompok Muslim lain (takfir), tidak mencerminkan akhlak Islam. Justru ia mereduksi kesempurnaan dan kemuliaan ajaran Islam itu sendiri”, tuturnya. Dari segi tataran praktis, Prof Naffati mengakui bahwa negara-negara Arab saat ini juga menghadapi fenomena takfir ini.

Sementara Syekh Fadhi Alamudin mengajak umat Islam Indonesia untuk tetap berpegang pada ajaran Islam sebagaimana diperkenalkan oleh para ulama Nusantara dahulu. Hal itu, sebagai salah satu cara untuk meredam perilaku radikal dalam beragama.

“Indonesia memiliki sejumlah ulama besar yang dikenal karena konsep wasathiyahnya. Seperti Syekh Hasyim Asy’ari pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama, Syekh Mahfud Tremas, Syekh Nawawi Banten, dan lain-lain” katanya. (KO)*


Sekilas Info

Randis ”Prado” untuk Wali Kota Terpilih, Pemkot Serang Anggarkan Rp 1,8 Miliar

SERANG, (KB).- Kendaraan dinas (randis) Wali Kota Serang dianggarkan Rp 1,8 miliar pada APBD Perubahan 2018. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *