Muhidoh Saroh, TKI Diduga Korban TPPO Akhirnya Pulang

Muhidoh Saroh (23), tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Kampung Kejambulan, Desa Gosara, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang yang diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan dikabarkan mengalami kekerasan fisik yang diduga dilakukan oleh pihak agensi di Abu Dhabi, akhirnya berhasil dipulangkan, Senin (12/8/2019). Ibu satu anak tersebut, pulang dalam kondisi sehat.

Paman korban Sutiadi membenarkan kabar kepulangan Muhidoh. Namun demikian, dalam proses pemulangannya ongkos tiket ditanggung oleh pihak TKI. “Berarti hak-hak TKI belum dipenuhi,” katanya kepada Kabar Banten, Rabu (14/8/2019).

Sementara, Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Provinsi Banten Maftuh Hafi Salim menuturkan, Muhidoh pulang pada Senin (14/8/2019) sekitar pukul 01.40 WIB melalui Bandara Internasional Soekarno Hatta.

“BP3TKI berhasil menyelamatkan Muhidoh di bandara yang jelas sudah ada pihak sponsor menjemput di bandara. Dibantu oleh bu Ba Yeni tim kami juga dari Solidaritas Perempuan untuk mengawal,” ujarnya.

Baca Juga : Diduga Korban TPPO, TKW Ciruas Dikabarkan Disiksa Agensi

Ia mengatakan, proses pemulangan berlangsung cukup cepat. Dalam pemulangannya, upaya dilakukan oleh BNP2TKI dan SBMI. Mediasi juga dilakukan dengan pihak agensi dan majikan Muhidoh sampai akhirnya Muhidoh bisa dipulangkan.

“Upaya penjemputan pun dilakukan oleh keluarga dan SBMI berkoordinasi dengan pihak bandara, BP3TKI Serang untuk penyelamatan yang di pinta keluarga atau suaminya,” ucapnya.

Muhidoh pulang dalam kondisi baik-baik saja. Mengenai adanya luka seperti dijelaskan pada awal kasusnya, tutur dia, perlu pihak keluarga yang memeriksanya. “Dan di bandara pun tidak ada penjelasan dari tim kami saat penjemputan kemarin (tentang kondisi luka),” katanya.

Meski demikian, saat ini pihak korban masih menggugat uang gaji yang dipakai untuk membeli tiket kepulangannya. “Tiket kepulangan Muhidoh bukan dari pihak agensi, tapi dari gaji Muhidoh dan sekarang suami masih menggugat uang haknya Muhidoh yang dibelikan tiket. Gaji yang belum dibayar dua bulan. Uang tiket sekitar 1.400 dirham,” ujarnya.

Saat ini, ucap dia, pihak kepolisian dan BNP2TKI masih mendalami untuk mencari solusi, agar apa yang dituntutkan kembali kepada pihak keluarga. “Uang yang dipakai untuk pembelian tiket tersebut, bisa dikembalikan kepada yang berhak, yaitu Muhidoh,” tuturnya.

Sementara, untuk kasus hukum, saat ini SBMI hanya menunggu dari pihak keluarga apakah akan maju atau tidak. “Karena dari pihak kepolisian masih nunggu kedua belah pihak. Ya kalau kami masih menunggu dilanjutkan atau tidak, karena semua bergantung pelapor dan kalau pun kasus tidak dilanjutkan harus ada penyelesaian dari kedua belah pihak. Karena, tugas kami hanya mendampingi korban atas pelaporan tersebut,” katanya. (Dindin Hasanudin)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here