Mubaligh Dituntut Turut Bantu Pulihkan Trauma Korban Bencana

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Banten Bazari Syam saat memberikan sambutan sekaligus membuka acara "Pembinaan Trauma Healing Pasca Tsunami Bagi Mubaligh", di salah satu hotel di kota Serang, Selasa (26/2/2019).*

Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Banten melalui Bidang Penerangan Agama Islam, Zakat, dan Wakaf, menyelenggarakan Pembinaan Trauma Healing Pasca Tsunami bagi Mubaligh. Kegiatan dengan tema “Mewujudkan Kiprah Mubaligh dalam Pemulihan Psikososial bagi Korban Terdampak Tsunami”, digelar di Hotel Wisata Baru, Selasa-Kamis (26-28/2/2019).

Ketua Panitia yang juga sebagai Staf Pelaksana pada Bidang Penerangan Agama Islam, Zakat, dan Wakaf Hilmi mengatakan, Indonesia merupakan negara yang rawan akan bencana. Pada beberapa waktu lalu, letusan Gunung Anak Krakatau memicu gelombang tsunami di Selat Sunda yang meluluhlantakkan daerah di sekitarnya, hal ini menyebabkan kerugian materi, jiwa, dan lain sebagainya, yang sampai saat ini masih menyisakan luka serta trauma psikologis.

“Kegiatan ini perlu dilakukan untuk mengembalikan kondisi masyarakat, dan lingkungan hidup yang mengalami beban psikologis, maka perlu diadakan kegiatan yang bisa dilakukan pascabencana ini,” tuturnya.

Mubaligh sebagai mitra dari Kementerian Agama, kata dia, sekaligus sebagai ujung tombak, dalam tugas mendidik dan menyampaikan risalah Islam pada masyarakat dalam mencapai kehidupan yang bermutu, sejahtera lahir batin. “Kedudukan mubaligh di tengah-tengah masyarakat sangat penting, dan perannya cukup besar karena tingkat keilmuannya maupun keteladanannya dalam pengalaman keagamaan,” ucapnya.

Kegiatan pembinaan trauma healing ini diikuti sebanyak 40 orang, yang terdiri dari Kepala seksi dan Pelaksana Bimas Islam, serta mubaligh dari Kabupaten Serang sebanyak 17 orang dan dari Kabupaten Pandeglang sebanyak 23 orang. Dengan narasumber dari Pejabat Struktural Eselon II, III, dan IV Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Banten, serta tim trauma healing dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Banten Bazari Syam mengatakan, dalam pembinaan trauma healing pascatsunami, semua diwajibkan menjadi pembina. “Bagaimana orang yang terkena dampak bisa mendapatkan hikmah, itu bisa dilakukan, dengan cara membawa risalah-risalah keagamaan,” ucapnya.

Maka dari itu, kata dia, Kemenag bisa melibatkan para kiai dan akademisi, bukan karena tidak ada tenaga yang lain, tapi ingin memastikan nilai-nilai agama bisa masuk ke dalamnya, dan memang dapat lebih cepat membantu.

“Mengapa harus tokoh agama. Kalau saya menganalogkan, mereka yang trauma berkepanjangan, ini semua menjadi tugas kita. Mengajak, membimbing, apapun namanya, harus dimaksudkan untuk mampu membalikkan fakta, mengajak orang lain pada kebaikan,” tuturnya.

Dia mengatakan, tugas ini menjadi tugas semua individu, karena hanya kiai yang memiliki metode Al-Hikmah. Dalam konteks ini tidak semua orang bisa. Al-Hikmah bukan hanya membawa visi kepada kebenaran, tapi bagaimana kebenaran bisa tersampaikan ke orang lain dengan utuh, dan baik. “Saya yakin hanya mubaligh yang bisa melakukan misi besar ini,” ucapnya. (Besta/Adv)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here