Momentum Hari Pahlawan

Oleh : Dr. (Cand) Hj. Ade Muslimat

Pahlawan” adalah sebuah kata benda. Secara etimologi kata “pahlawan” berasal dari bahasa Sanskerta “phala”, yang bermakna hasil atau buah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berarti orang yang menonjol, karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Pahlawan disebut juga seseorang yang berpahala yang perbuatannya berhasil bagi kepentingan orang banyak. Perbuatannya memiliki pengaruh terhadap tingkah laku orang lain, karena dinilai mulia dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat bangsa atau umat manusia.

Dalam bahasa Inggris pahlawan disebut hero yang diberi arti satu sosok legendaris dalam mitologi yang dikaruniai kekuatan yang luar biasa, keberanian dan kemampuan, serta diakui sebagai keturunan dewa. Pahlawan adalah sosok yang selalu membela kebenaran dan membela yang lemah, gelar untuk orang yang dianggap berjasa terhadap orang banyak dan berjuang dalam mempertahankan kebenaran. Dalam konteks kenegaraan dan kebangsaan, seseorang dijuluki pahlawan, karena jasa-jasanya dalam memperjuangkan negara dan bangsa ini untuk menmperoleh kemerdekaannya. Seorang pahlawan berjuang, karena mencintai negeri dan tanah tumpah darahnya.

Pada 10 November 1945 yang silam, adalah momentum bersejarah dan berharga bagi bangsa Indonesia dalam mewujudkan kemerdekaan yang saat ini bisa dirasakan nikmatnya oleh para generasi penerus bangsa. Sudah menjadi keharusan bagi generasi yang tidak ikut berjuang secara langsung mengangkat senjata merebut kemerdekaan dengan darah dan nyawa, untuk bersyukur kepada Allah SWT dengan mempertahankan dan mengisi kemerdekaan ini dengan kegiatan yang baik dan positif.

Hari Pahlawan bukan hanya menjadi momentum untuk mengenang jasa para pahlawan, namun juga menjadi momentum untuk melakukan introspeksi atas kontribusi yang telah diberikan pada bangsa ini dan memunculkan semangat baru dalam implementasi nilai-nilai kepahlawanan serta menumbuhkan sifat kepahlawanan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, agama juga memainkan peran penting dalam menumbuhkan sifat kepahlawanan dalam diri. Banyak sekali doktrin-doktrin atau ajaran agama yang menekankan pentingnya untuk mau berkorban terhadap sesama. Ada sebuah hadis yang juga berkaitan dengan hal ini, yang berbunyi, “Barang siapa yang memudahkan kesulitan, maka dia akan dimudahkan oleh Allah”.

Jiwa menolong bagian dari kepahlawanan, sepanjang orang itu menolong orang lain, maka dia akan ditolong juga dengan Allah, lewat pertolongan yang tidak diduga-duga. Dengan demikian, secara agama itu adalah sebuah ajaran, sedangkan secara sosial itu adalah tuntutan hukum alam, karena kita adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri.

Dengan demikian, kita juga harus berpikir, bahwa bangsa dan negara ini bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk generasi setelah kita, untuk anak dan cucu kita nantinya. Jika kita hanya berpikir, bahwa negara kita ini hanya untuk kita sendiri, maka kita tentu berpikir pendek dan melakukan aksi-aksi yang bisa merugikan negara, termasuk korupsi, narkoba, kekerasan, dan lain-lain. Kita juga bisa kehilangan komitmen pada negara, tidak bisa lagi mewarisi jasa pahlawan. Dengan demikian, kita harus berpikir kembali untuk berusaha sebaik mungkin untuk membangun bangsa ini dengan menumbuhkan sifat kepahlawanan.

Generasi pemuda, harus terus dididik untuk menghargai jasa para leluhur bangsa dan para pejuang/syuhada yang telah gugur. Mereka juga harus diberi pemahaman tentang keberagaman untuk meningkatkan rasa solidaritas kepada sesama. Apalagi generasi saat ini yang sering disebut generasi milenial, merupakan segmen mayoritas yang mencapai 40 persen dari jumlah penduduk di Indonesia.

Jumlah persentase ini akan melonjak pada 2025 sebanyak 60 persen di mana Indonesia akan mendapatkan masa bonus demografi dan ini tentunya para generasi pemuda saat nanti akan menjadi salah satu penentu utama keberlangsungan bangsa ini. Mereka harus mewarisi spirit perjuangan para pejuang dan pahlawan bangsa yang berasal dari berbagai kelompok agama dan suku. Di tengah perbedaan, mereka bisa bersatu merebut kemerdekaan. Saatnya sekarang di tengah kebinekaan dan kemajuan ilmu serta teknologi, generasi muda harus lebih semangat mempertahankan NKRI dengan mengisi kemerdekaan ini dengan cara yang cerdas dan beretika.

Para pahlawan yang telah gugur mendahului memiliki kata-kata mutiara dalam memperjuangkan kemerdekaan yang terlontar mengandung inspirasi dan spirit. Seperti yang diungkapkan Soekarno: “Perjuanganku lebih mudah, karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit, karena melawan bangsamu sendiri”. Maknanya adalah peperangan terbesar yang sesungguhnya, adalah memerangi nafsu yang ada di diri sendiri.

Tentu akan sangat mudah ketika kita mati-matian berjuang melawan orang yang tak dikenal. Dan kata-kata inspirasi Ki Hajar Dewantoro : “Dengan ilmu, kita menuju kemuliaan”. Maknanya adalah, raihlah ilmu sebanyak-banyaknya. Sumber ilmu akan tetap ada dan tak akan pernah habis. Orang yang tak berilmu biasanya akan mudah untuk diombang-ambing. Namun, orang yang kaya dengan ilmu, akan selalu bermanfaat dan dibutuhkan oleh orang banyak.

Sesungguhnya para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini, dari segala bentuk penjajahan, baik yang kita ketahui maupun yang tidak, mereka hidup di hati kita. Jadi, sebetulnya pahlawan itu tidak pernah mati, karena jasa-jasanya selalu dikenang oleh orang banyak.

Kebaikannya selalu tertabur dalam jiwa umat, sehingga tak pernah sirna untuk dikenang dan didoakan arwahnya setiap saat. Meskipun secara lahiriyah sudah tiada, namun secara hakiki belum, ia mati tetapi hidup. Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kalian sekali-kali mengatakan, bahwa orang-orang yang berjuang (terbunuh) di jalan Allah itu mati, melainkan mereka hidup, tetapi kita tidak merasakan”. (QS. al-Baqarah: 154).

Berikut adalah nilai-nilai kepahlawanan dikutip dari berbagai sumber :
a) Rela berkorban
Bersedia dengan ikhlas, senang hati, dengan tidak mengharapkan imbalan, dan mau memberikan sebagian yang dimiliki sekalipun menimbulkan penderitaan bagi dirinya.

b) Cinta tanah air
Perasaan yang timbul dari dalam hatu sanubari seorang warga negara, untuk mengabdi, memelihara, membela, serta melindungi tanah airnya dari segala ancaman dan gangguan.

c) Kerja keras
Berusaha dengan sepenuh hati dengan sekuat tenaga untuk berupaya mendapatkan keingingan pencapaian hasil yang maksimal pada umumnya.

d) Keteladanan
Suatu sikap positif yang dapat dijadikan sebagai acuan oleh masyarakat.

e) Kejujuran
Keserasian atas berita yang disampaikan dengan fakta yang ada.

f) Mandiri
Melakukan suatu hal tanpa menggantungkan diri pada individu lain.

g) Bertanggung jawab
Keadaan wajib menanggung segala sesuatu hal yang telah diperbuat.

Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan zaman, terjadi pergeseran makna akan apa yang disebut pahlawan. Di kalangan anak milenial, makna pahlawan dipandang lebih luas lagi cakupannya. Generasi sekarang itu cakupan permasalahan yang mereka hadapi jauh lebih luas, musuh itu gak berupa konkret ancaman yang datang dari luar atau mengganggu kedaulatan RI.

Permasalahan itu sudah melingkupi hampir semua aspek kehidupan, ada bermacam hal mulai dari isu tenaga kerja, sampai masalah lingkungan hidup, hampir semua hal yang ada dalam kehidupan ini memiliki permasalahannya masing-masing dan menuntut adanya satu tindakan ataupun satu perbuatan untuk memperbaiki dampak-dampak negatif dari semua itu, dan itu juga disebut sebagai pahlawan dalam mengisi kemerdekaan ini.

Definisi baru tentang pahlawan di era ini, terus bermunculan di berbagai bidang, yang berkontribusi bagi Indonesia. Mereka tidak harus selalu disebut sebagai pahlawan nasional, tetapi terkait apa kontribusi bagi kemajuan Indonesia di masa sekarang, masa yang akan datang dan seterusnya, sehingga nantinya makna dari pahlawan itu sendiri selalu relevan dari setiap generasi ke generasi lainnya.

Peringatan Hari Pahlawan pada 10 November setiap tahunnya juga bukan hanya sekadar hari di mana kita hanya mengingat jasa pahlawan yang telah mengorbankan segalanya untuk bangsa ini. Namun, keteladanan para pahlawan ini bisa dijadikan sesosok figur bagi generasi penerus bangsa ini.

Hal tersebut menjadi sangat penting dalam konteks untuk membangkitkan spirit kebangsaaan yang luntur, maka sesosok figur pahlawan tadi, dapat dijadikan rujukan untuk terus membangun bangsa ini, serta harus dimaknai secara dinamis, sehingga mampu memberikan energi semangat baru nilai perjuangan dan patriotisme bangsa Indonesia.

Mewarisi semangat itu dengan meningkatkan prestasi yang secara langsung berkontribusi bagi peningkatan kesejahteraan bangsa. Untuk itu, sebagai generasi muda, kita harus mampu memberi makna baru atas tonggak bersejarah kepahlawanan dengan mengisi kemerdekaan sesuai perkembangan zaman. Menghadapi situasi seperti sekarang kita berharap muncul banyak pahlawan dalam segala bidang kehidupan.

Harapannya hari Pahlawan yang selalu kita peringati setiap tahun, hendaknya jangan hanya mengedepankan unsur seremoni belaka, tanpa menghayati nilai-nilai perjuangan yang dipesankan oleh para pahlawan ini. Akan sangat ironi jika memperingati Hari Pahlawan sebatas seremoni saja tanpa mengambil teladan dari nilai-nilai perjuangan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, peringatan Hari Pahlawan sebaiknya dijadikan momentum sebagai hari besar yang dirayakan secara khidmat dan dengan rasa kebanggaan yang besar, karena merupakan kesempatan bagi seluruh bangsa untuk mengenang jasa-jasa dan pengorbanan para pejuang yang tak terhitung jumlahnya dalam memperjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. “Selamat Hari Pahlawan”.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here