Modal Sosial Membangun Banten

Oleh
Lili Romli
Ketua ICMI Orwil Banten

Pada 15 November 2018 yang lalu, Badan Penguhubung Daerah Provinsi Banten mengadakan Silaturahmi dan Sarasehan Masyarakat Banten se-Jabotabek. Selain dihadiri beberapa pejabat dari kalangan Pemda Provinsi, hadir beberapa tokoh masyarakat Banten, antara lain, Letjen (Purn) Taufiqurahman Ruky, Tb. Farih Nahril, H. Mardini, Hasan Gaido, Ali Mujahidin, Eden Gunawan, Udin Saparudin, Anang Rahmat, untuk menyebut beberapa nama.

Dalam Silaturahmi dan Sarasehan tersebut, saya diberi kesempatan untuk menyampaikan gagasan dan sumbangan pemikiran terkait dengan pembangunan Banten ke depan. Saya mengemukakan, jika kita melihat kemajuan negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan, salah satu faktornya adalah kuatnya modal sosial (social capital) yang dimiliki negara-negara tersebut. Untuk tidak mengatakan faktor modal sosial sebagai satu-satunya faktor.

Dalam Teori Pertumbuhan Ekonomi yang kita kenal melalui buku buku teks selalu menyebut tiga modal yang menjadi kunci keberhasilan pembangunan suatu wilayah yaitu, modal alam, modal fisik (uang dan bangunan), dan modal manusia (sumberdaya manusia). Dalam konteks ini juga Piere Bourdieu (1986), mengemukan jenis modal-modal lain, yaitu modal ekonomi, modal kultural, modal simbolik, dan modal sosial. Dari jenis-jenis modal tersebut, modal sosial merupakan jenis modal yang tidak kalah pentingnya sebagai hasil interaksi manusia yang terlibat dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Bourdieu mendefinisikan modal sosial sebagai sumber daya yang dimiliki seseorang ataupun sekelompok orang dengan memanfaatkan jaringan, atau hubungan yang terlembaga dan ada saling mengakui antar anggota yang terlibat di dalamnya. Besarnya modal sosial yang dimiliki seseorang tergantung pada kemampuan orang tersebut memobilisasi hubungan dan jaringan dalam kelompok atau dengan orang lain di luar kelompok.

Dalam modal sosial, menurut Robert Putnam (1993), ada tiga hal penting, yaitu: jaringan sosial (social network), kepercayaan (trust), dan kerjasama. Jaringan sosial memungkinkan adanya koordinasi dan komunikasi yang dapat menumbuhkan rasa saling percaya di antara sesama anggota masyarakat. Kepercayaan memiliki implikasi positif dalam kehidupan bermasyarakat. Berbagai keberhasilan yang dicapai melalui kerjasama dalam jaringan akan mendorong bagi keberlangsungan kerjasama pada waktu selanjutnya.

Francis Fukuyama (1995) berpendapat bahwa modal sosial akan menjadi semakin kuat apabila dalam suatu masyarakat berlaku norma saling balas membantu dan kerjasama yang kompak melalui suatu ikatan jaringan hubungan kelembagaan sosial. Fukuyama menganggap kepercayaan itu sangat berkaitan dengan akar budaya, terutama yang berkaitan dengan etika dan moral yang berlaku. Karena itu ia berkesimpulan bahwa tingkat saling percaya dalam suatu masyarakat tidak terlepas dari nilai-nilai budaya yang dimiliki masyarakat bersangkutan (Rusydi Syahra, 2003).

Banyak Potensi

Dari dulu sampai sekarang, Banten selalu digambarkan sebagai sebuah wilayah yang mempesona, yang bergelimang anugerah Tuhan. Karena itu, siapa pun memandang Banten dalam segala aspeknya, akan menilai bahwa sudah selayaknya Banten menjadi salah satu kawasan yang paling makmur di Indonesia. Ini bukan tanpa preseden, sebab sejarah telah membuktikan Banten pernah mengalami zaman keemasan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa.

Jika kita membahas keunggulan kewilayahan, maka tidak ada provinsi di Indonesia yang memiliki dua objek vital perhubungan, yakni terminal Pelabuhan Merak dan Bandara Internasional Soekarno Hatta. Setidaknya hubungan lokal, nasional dan internasional dalam segala aspek, bertumpu pada pelabuhan dan bandara yang berada di Provinsi Banten. Tetapi, apakah dengan kedua sarana tersebut hanya sekedar akses atau ada nilai lebih yang bisa dimanfaatkan oleh Provinsi Banten?
Sama halnya pada aspek ekonomi, terdapat kawasan industri kimia, mineral, sandang, otomotif, perdagangan, kuliner dan jasa yang tumbuh dan berkembang di Provinsi Banten.

Namun demikian apakah keberadaan aneka industri hanya mensejahterakan penanam modal dan menempatkan masyarakat lokal sebagai buruh tanpa ada proses transfer knowledge, sehingga dampak pembangunan baru pada pertumbuhan belum pada peningkatan kesejahteraan.

Dalam aspek pariwisata, Banten seharusnya paling mampu menyaingi Bali, dimana wilayahnya dikelilingi pantai mulai dari utara hingga selatan, dari Anyer hingga Sawarna. Bahkan Banten menjadi objek pembangunan kawasan parisiwata skala internasional melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung. Segala potensi yang ada merupakan berkah tersendiri bagi Banten. Masih banyak potensi-potensi lain yang dimiliki Banten.

Kini Provinsi Banten sudah berusia 18 tahun, namun  kita masih menghadapi masalah yang relatif sama dalam hal kesejahteraan. Banyak hasil pembangunan yang sudah dicapai, tetapi tampaknya jauh lebih banyak PR yang harus dikerjakan secara sungguh-sungguh. Pemprov sekarang sedang giat-giatnya melakukan pembangunan, semoga tujuan utama pembentukan provinsi Banten untuk mencapai kesejahteraan masyarakat Banten dapat terwujud.

Nilai-Nilai Perjuangan

Jika kita baca dari berbagai sumber, sebagai sebuah entitas Banten memiliki modal sosial berupa budaya yang relijius sebagai warisan kesultanan banten yang pernah berjaya di abad 16 s/d abad 18 lalu. Perjalanan sejarah yang panjang juga dapat dijadikan sebagai modal sosial bagi masyarakat Banten, sebagai mana sejarah Kesultanan Banten yang merupakan kerajaan maritim dan mengandalkan perdagangan dalam menopang perekonomiannya.

Modal sosial masyarakat Banten yang tak kalah menonjol adalah karakter anti penjajahan, atau semangat perlawnan terhadap kaum penjajah. Karakter anti penjajahan ini tercermin dari beberapa kejadian sejarah, seperti pemberontakan petani Banten pada tahun 1888 atau yang dikenal dengan peristiwa geger Cilegon, perlawanan Kyai Tapa dan Ratu Bagus Buang pada tahun 1750, hingga perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa terhadap kebijakan kerja rodi dari kompeni, sehingga berdampak pada dihapuskannya kesultanan Banten pada tahun 1808.

Nilai-nilai religius dan keagamaan yang kuat yang dimiliki masyarakat Banten merupakan modal sosial utama. Jika merujuk pendapat yang dimukakan oleh Max Weber (1905) mengemukakan pentingnya spirit agama sebagai modal dasar bagi berkembangnya awal kapitalisme, yang menekankan kerja keras dan sungguh tanpa pamrih. Maka masyarakat Banten dengan nilai-nilai ajaran Islam yang kental juga memiliki spirit dan semangat kerja keras untuk mengejar kemajuan, seperti telah dicontohkan oleh warisan masa lalu dan para pejuang. Apalagi bila merujuk kepada ayat-ayat suci Al-Quran dan Hadist Nabi, banyak perintah-perintah perlunya kerja keras dan semangat mengejar kemajuan.

Sebagai masyarakat pesisir, masyarakat Banten juga memiliki nilai-nilai, seperti semangat kerja keras, dinamis, kebersamaan, egaliter, toleran, saling percaya, dan berorientasi kedepan merupakan bagian yang tidak terpisahkan bagi tumbuh kembangnya perdaban Banten. Saya berharap dengan modal sosial yang dimiliki masyarakat Banten tersebut menjadi fondasi utama bagi akselerasi pembangunan Banten. Semoga!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here