Milenial Perlu Pahami Kesehatan Reproduksi

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Banten, Drs. Aan Jumhana M.Si saat menyampaikan sambutan sekaligus membuka 'Rapat Koordinasi Mitra Kehumasan Program KKBPK Provinsi Banten 2019', di hotel Le Dian, Kota Serang, Senin (9/12/2019).*

Pentingnya bagi remaja milenial saat ini dalam pemahaman kesehatan reproduksi dan kontrasepsi terhadap pergaulan. Oleh karena itu, perlu para orang tua, guru, kelompok, baik organisasi remaja maupun ibu-ibu, untuk memberikan pengertian serta pemahaman bagaimana mempersiapkan segala sesuatunya dalam hidup berumah tangga.

Hal tersebut dikatakan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Banten Aan Jumhana, usai membuka rapat koordinasi mitra kehumasan program KKBPK tingkat Provinsi Banten, di salah satu hotel Kota Serang, Senin (9/12/2019).

Ia menjelaskan, seiring perkembangan zaman, banyak anak usia remaja yang terjerumus ke pergaulan yang salah.

“Sehingga pemahaman kesehatan reproduksi dan kontrasepsi ini sangat lah penting, bagi remaja milenial saat ini. Apalagi dengan munculnya Revolusi 4.0 saat ini, jangan sampai anak-anak terjerumus dalam pergaulan yang salah. Memang penting mengenal pemahaman seperti itu, tapi tetap harus dibarengi dengan pemantauan orang tua,” katanya, Senin (9/12/2019).

Dalam pemahaman tersebut, ujar dia, peran keluarga sangat penting. Mulai dari pembentukan karakter serta tumbuh kembang sang anak. Sebab, keluarga merupakan titik sentral pertumbuhan dan berkepentingan terhadap perkembangan anak. Termasuk juga menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

“Kemudian, meningkatkan akses dan pelayanan yang merata dan berkualitas tinggi, dalam sistem jaminan kesehatan nasional. Kami selalu melakukan pendekatan kepada masyarakat. Terkait persoalan KB, kami sudah melakukan pendekatan terhadap permasalahan isu gender, kesehatan reproduksi, hingga hak asasi manusia,” ujarnya.

Melalui program tersebut, juga diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih kepada masyarakat. Khususnya bagi remaja terkait kesehatan reproduksi dan kesiapan kehidupan berkeluarga. Hal tersebut penting terhadap jumlah kematian ibu dan anak yang cukup besar dan perlu kami antisipasi. Minimal, para remaja tersebut terpapar dalam aspek kesehatan reproduksi.

“Jadi, kesehatan reproduksi ini bukan hanya menggunakan alat kontrasepsi saat berhubungan. Akan tetapi, bagaimana para remaja ini mempersiapkan kehidupan dalam berkeluarga. Mulai dari persiapan pernikahan, memasuki usia kehamilan sampai memiliki anak,” ucapnya.

Baca Juga : Miliki Peran Penting dan Strategis, Bakohumas Didorong Sosialisasikan Program KKBPK

Sebelumnya, dia menjelaskan, pada beberapa tahun ke belakang, usia minimal pernikahan, adalah 16 tahun bagi perempuan dan 18 tahun bagi laki-laki. Tentu ini, menurut dia, masih sangat dini, karena sel telur belum secara sempurna matang. Selain itu, secara emosional dan kematangan dalam berpikir juga masih minim, sehingga usia tersebut begitu rentan dalam kesehatan reproduksi dan berkeluarga.

“Namun, seiring berkembangnya zaman, kini undang-undang tersebut, diubah menjadi batas usia minimal menikah 19 tahun untuk perempuan dan 21 tahun untuk laki-laki. Akan tetapi, secara ideal, seharusnya usia yang benar-benar matang dan siap dalam segala hal adalah untuk perempuan 21 tahun dan laki-laki 25 tahun,” tuturnya.

Pihaknya juga membuka pelayanan bagi pasangan masa subur. Terkait dengan peningkatan alat kontrasepsi dan mengajak masyarakat, untuk berpartisipasi memeriksakan atau melakukan deteksi dini kanker reproduksi.

“Kami pun bekerja sama dengan berbagai pihak, sehingga program kami ini dapat berjalan secara baik dan tepat sasaran dan yang terpenting adalah sosialisasi,” katanya.

Kepala Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian (Diskomsantik) Provinsi Banten Komari mengatakan, Keluarga Berencana (KB) penting dan perlu disosialisasikan dengan baik. Sebab, masih banyak masyarakat yang menginginkan memiliki banyak anak. Untuk membangun keluarga juga itu perlu, namun tetap berbasis keluarga.

“Tentu sangat penting, sebab pertumbuhan penduduk di Indonesia, khususnya Banten terus berkembang. Adapun memiliki anak lebih dari dua, namun tetap harus memiliki jarak usia dari anak satu dengan yang lainnya, sehingga dapat merata dan tidak terlalu banyak. Zaman sekarang dan saat ini kan berbeda,” ucapnya. (Rizki Putri)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here