Mikranan, Tradisi di Era Modern

Suasana Mikranan salah satu tradisi di bulan Ramadan yang masih dipertahankan oleh masyarakat Lingkungan Kadipaten, Kelurahan Kedaleman, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon.*

Di bulan Ramadan, berbagai macam tradisi dan budaya pun muncul menjadi bagian yang tidak terpisahkan di masyarakat. Salah satu tradisi yang masih melekat adalah mikranan. Tradisi tersebut masih ada dan banyak ditemui, seperti di Lingkungan Kadipaten Kelurahan Kedaleman Kecamatan Cibeber.

Menurut Pembina Yayasan Kampung Madani Juju Jumaroh, ada sejumlah tradisi di bulan Ramadan, di antaranya adalah mirengaken kajian Alquran (mendengarkan kajian Alquran atau mikranan). Setiap sore menjelang Magrib, anak-anak remaja hingga pemuda dan orang tua berkumpul di masjid menunggu Magrib sambil bersalawat dan membaca kitab dalail khoirot. Kegiatan itu dipimpin pemuka agama setempat, termasuk Ketua DKM Masjid Nurul Ahyan Kadipaten.

“Setiap sore selama bulan Ramadan kami selalu ada kegiatan dalail,dimana anak-anak membawa makanan dari rumah untuk disantap berbuka bersama di sini dan membaca Alquran,” katanya kepada Kabar Banten, Senin (6/5/2019).

Juju menjelaskan, kegiatan mikranan bisa dibilang ngabuburit yang rutin diikuti hampir seluruh warga Kadipaten, khususnya yang laki-laki.Tujuan kegiatan tersebut menanamkan jiwa agamis dan pendidikan agama di usia dini.

“Banyak pengertian mikranan yang intinya membaca Alquran. Kami ingin menanamkan jiwa agamis kepada anak usia dini dan mendidik mereka supaya kedepannya mampu mengisi kegiatan yang positif setiap waktunya dan juga mengharapkan keberkahan serta syafaat dari Allah SWT, karena sebelum berbuka kita bersama-sama bersalawat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DKM Nurul Ahyan Ustaz Junaedi mengatakan, mikran terdiri atas dua suku kata yakni mik dan ran. Pengertian mik, artinya mikrofon alat ucap yang menyambungkan kepada pengeras suara, dan ran yang artinya Alquran.”Jadi definisi versi warga Kadipaten Cibeber secara umum, mikran yang berarti mengaji atau membaca Alquran dengan pengeras suara,” tuturnya.

Tradisi tersebut dilakukan setiap bulan puasa setelah Salat Tarawih hingga menjelang sahur. Dalam pelaksanaannya, biasanya diisi oleh anak remaja hingga pemuda dari warga setempat yang mengaji, baik dengan lantunan merdu atau sekadar membaca tanpa dilagu yang penting makhrojnya sesuai.

“Kalau boleh dianalogikan, ngaji atau mikran ini sebagai wujud uji mental setelah 11 bulan belajar mengaji Alquran bersama ustaznya masing-masing. Maka di bulan puasa ini mereka mengaji sendiri yang diperdengarkan langsung oleh masyarakat tanpa terkecuali,” ucapnya.

Kegiatan yang dilaksanakan setiap sore hari selama bulan Ramadan ini diikuti oleh puluhan warga, baik anak-anak hingga orang tua. Mereka berbondong-bondong datang ke masjid membawa bekal makanan untuk berbuka puasa bersama.

“Namun sebelum itu, kami secara bersama pula membaca kitab dalail khoirot. Bahkan, kata dia, sistem yang selalu dipergunakan seperti sudah baku. Masing-masing santri setiap malamnya mengaji selama 1 jam tanpa henti hingga jam sahur atau pukul 03.00 dini hari. Setelah itu, pulang ke rumah masing-masing untuk santap sahur,” ujarnya. (Himawan Sutanto)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here