Rabu, 16 Januari 2019
Simulasi Pengamanan Pemilu.*

Mewaspadai Potensi Kerusuhan Pemilu

Polarisasi politik di lapisan masyarakat semakin meruncing menjelang pilpres yang akan dilaksanakan tiga bulan lagi. Meskipun pemilu tahun 2014 sudah jauh meninggalkan kita, tetapi aroma perpecahan dan terbentuknya kelas sosial semakin terlihat. Hakikat kebenaran pun sepertinya hanya sebuah narasi politik, mendukung kebijakan pemerintah diartikan pendukung Jokowi dan berlaku sebaliknya.

Ini tidak dapat dibenarkan dengan argumentasi apapun, bahkan kebijakan pembangunan infrastruktur pun bisa didesain sedemikian rupa menjadikan sebuah cibiran. Tanpa memandang preferensi politik, semua warga negara membutuhkan infrastruktur yang layak dan handal untuk kemajuan kehidupan. Hampir di ujung pemerintahan Jokowi-JK pun, perpecahan di masyarakat akibat beda pandangan politik tahun 2014 masih dirasakan. Tidak dapat dikatakan bahwa ini adalah sebuah kebetulan. Setidaknya itulah yang terkuak dalam diskusi “Mewaspadai Potensi Kerusuhan Pemilu” yang diselenggarakan Forum Kebhinnekaan di salahsatu rumah makan di Cikupa, Kabupaten Tangerang, Jumat (11/1/2019).

Pengamat masalah sosial politik, Rizal Arifin mengatakan, menuju Pemilu 2019, aroma perpecahan di tengah masyarakat kembali dihembuskan. Saling serang pendukung capres dengan isu isu yang mereka anggap akan melemahkan pasangan masing masing (calon presiden) capres.

“Ini bukanlah sebuah imajinasi kosong tanpa pemikiran mendalam. Beberapa waktu silam ada Capres yang meramalkan Indonesia akan punah jika dirinya kalah pada pemilihan presiden 2019. Jika sebagian orang menganggap itu sebagai guyonan, rasanya tak elok dan tidak mungkin seorang Capres mengeluarkan pendapat kontroversi di muka umum. Ini adalah sebuah keceplosan Capres tersebut atas apa yang ia pikirkan selama ini,” ujar Rizal pengamat dari Forum Kebangsaan.

Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S. Pane, mengatakan bahwa pihaknya menduga Prabowo sedang mempersiapkan provokasi agar masyarakat melakukan kerusuhan dan terjadi kekacauan dalam Pemilu 2019 terkait dengan pernyataan Capres. bahwa Indonesia akan punah jika dirinya kalah.

Salah satu penyebab kegagalan sebuah negara adalah terjadinya perang saudara. Akibat dari pernyataan tersebut bisa memantik kemarahan kelompok kontra pemerintah untuk melancarkan serangan kepada pemerintahan yang sah. Bahkan tidak dapat disalahkan jika banyak pihak yang berpendapat pernyataan tersbut memang sengaja memprovokasi masyrakat.

Menurut Neta, pernyataan mengenai Indonesia yang akan punah tersebut bukan sekadar analisa kosong yang disampaikan begitu saja, namun juga patut dicurigai bahwa pernyatan tersebut diduga untuk menyiasati bilamana dirinya kalah dalam Pilpres, akan terjadi kerusuhan, apa yang disampaikan tersebut perlu dicermati sebab bagi IPW pernyataan itu mengandung hal serius antara memprovokasi atau menciptakan sebuah konflik.

“Jadi ini perlu dicermati, makanya IPW melihat bahwa pernyataan Indonesia akan punah itu bukan sekadar pernyataan kosong dan sekadar menakut-nakuti. Ini sesuatu yang sangat serius yang harus diwaspadai, apakah itu  memprovokasi atau mau menciptakan sebuah konfilk ?” papar Neta.

“Kita semuanya tentu berharap keutuhan bangsa ini adalah harga mati. Seyogyanya kita tidak mudah terpengaruh dengan provokasi oleh kelompok yang menginginkan terjadinya konflik horizontal di tengah masyarakat. Yakinlah bahwa kita ditakdirkan menjadi Indonesia adalah anugerah yang harus selalu disyukuri dan TNI/Polri akan selalu menjadi garda terdepan menjaga keutuhan bangsa ini,” pungkas Rizal. (Gito Waluyo)*


Sekilas Info

Dukung Polri Ungkap Peneror Pimpinan KPK

Oleh : Akbar Revi Serangkaian aksi teror yang menyasar pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *