Merespon Disrupsi dengan ”Self Discipline”

Oleh : Sudaryono

Disrupsi menurut Rhenald Kasali (2017) adalah membuat hal baru sehingga yang lama ketinggal zaman. Pendidikan akan tertinggal jika hanya mengulang hal lama dengan sedikit perbaikan (iterasi) dan tidak mau melakukan disruptive innovation. Sebab menyusul revolusi industri 4.0 masyarakat mulai mengalami pergeseran pula menjadi society 5.0 yang ditandai dengan masyarakat dengan kecerdasan super. Di perguruan tinggi, representasi masyarakat ini adalah mahasiswa yang sedang studi.

Harus dipikirkan juga beberapa jenis pekerjaan yang terdisrupsi dan hilang, kemudian inovasi apa yang perlu dirancang oleh pendidikan? Sebab kalau rancangan kurikulum pendidikan masih berkutat di society 4.0 (information society), apalagi lebih ke belakang, society 3.0 (industrial society) dan society 2.0 (agrarian society) pendidikan hanya menjadi tempat menunda pengangguran. Dan kelak jika sudah lulus, sulit memperoleh pekerjaan. Dengan begitu, terjadi mismatch antara pendidikan dengan dunia usaha dan dunia industri.

Namun ada peran pendidikan yang sulit digantikan oleh teknologi yang super canggih sekalipun. Lagipula menurut Schwab (2018), revolusi industri 4.0 harus tetap di bawah kendali dan berpusat pada manusia, maka meski tetap perlu melakukan adaptasi terhadap teknologi baru, pendidikan tidak boleh melupakan peran abadinya dalam memanusiakan manusia. Pendidikan harus memastikan manusia tetap sebagai khalifah dan hamba Tuhan yang mampu mengendalikan ciptaannya sendiri untuk kemaslahatan manusia, bukan malah sebaliknya.

Faisal Hoque (2014) penulis buku Everything Connects: How to Transform and Lead in the Age of Creativity, Innovation & Sustainability, menyebut lima ciri pemimpin yang disruptif. Pertama, mereka yang tidak lelah memburu kebenaran. Kedua, memandu orang untuk melewati kekacauan (chaos). Ketiga, berani mengambil keputusan. Keempat, berani mendobrak aturan lama yang sudah tidak relevan dan menghambat kemajuan dan membuat aturan baru. Kelima, dia tumbuh dan berkembang bersama dengan ketidakpastian.

Eleanor Roosevelt mengatakan, setiap langkah yang kita ambil mengajarkan kita sesuatu yang membuat kita melupakan segala ancaman dan risiko. Tidak ada yang mampu mengalahkan manusia-manusia yang disiplin. Menurut Rhenald Kasali, ada tiga jenis disiplin yang menimbulkan akibat yang berbeda-beda dan tentu saja sumbernya juga berbeda. Pertama, Forced discipline. Disipline ini digerakkan dari luar oleh lembaga tempat kita bekerja, orangtua, guru, trainer atau coach kita.

Kedua, Self discipline. Disiplin ini berasal dari dalam diri masing-masing yang dibentuk secara bertahap dan melawan ketidaknyamanan-ketidaknyamanan diri. Ketiga, Indisiplin. Ini adalah perilaku yang tidak berdisiplin. Tentara yang bertindak diluar perintah komandannya, pegawai yang bertindak diluar jam yang sudah ditetapkan, mahasiswa yang tidak menyerahkan tugas, dan seterusnya adalah contoh yang dimaksud. Berbeda dengan makhluk hidup lainnya yang hanya digerakkan oleh kebiasaan atau habit, manusia adalah makhluk intelektual yang dibekali pikiran.

Dengan pikiran itulah kita bisa memilih, mana yang menyenangkan dan yang kurang menyenangkan. Dengan kecerdasannya, apalagi yang dipilih manusia kalau bukan hal-hal yang menyenangkan, yang mudah, enak, tidak perlu banyak pengorbanan, dan tidak menyakitkan. Sudah pasti manusia akan lebih banyak memilih hal-hal yang tidak menuntut banyak disiplin. Sebab disiplin itu menyakitkan, memerlukan banyak pengorbanan, tidak enak dan tentu tidak mudah. Seperti kata McCleland, human being is a lazy organism.

Perhatikanlah, buku-buku yang paling banyak terjual adalah buku-buku yang tipis, berharga murah, dan banyak gambar. Bukan buku-buku yang sulit dipahami, tebal, dan berteori. Demikian juga musik yang paling banyak diminati adalah musik pop, bukan musik klasik. Untuk mendengarkan musik-musik pop, selain murah kita tidak perlu berpikir. Dalam sekejap, bibir kita sudah bergerak, kaki, dan tangan kita menari tanpa diperintahkan. Berbeda dengan musik klasik yang tidak mudah dicerna, dan kita pun harus membayar agak mahal.

Demikianlah dalam pekerjaan sehari-hari, manusia cenderung memilih sikap yang tidak memerlukan disiplin, yang mudah, murah, disubsidi besar-besaran, dan seterusnya. Datang dan pulang sesuka hati, menyelesaikan pekerjaan tanpa tenggat waktu, namun ingin mendapatkan fasilitas seluas-luasnya dengan gaji yang besar tentu saja tidak banyak orang yang bisa melakukan hal ini, sebab tidak banyak atasan yang membiarkan bawahannya indisipliner.

Kita mempunyai pilihan: berdisiplin sendiri (self discipline) atau didisiplinkan orang lain (forced discipline). Manusia yang berdisiplin diri akan mendapatkan alat kontrol yaitu self control. Dalam hal ini, kita bisa membedakan dua titik ekstrem, yaitu manusia yang hanya hidup untuk dirinya sendiri (selfish) dan manusia untuk orang lain (altruistic). Manusia yang hanya hidup untuk dirinya sendiri cenderung lemah dalam mengendalikan tuntutan-tuntutan kesenangan yang datang dari dalam maupun luar dirinya.

Self discipline adalah sebuah kemampuan yang memungkinkan kita bertindak tanpa terganggu oleh keadaan emosi. Kita tidak membutuhkan mood untuk melakukannya. Kita sangat terpacu untuk mencapai goals (sasaran) yang kita tetapkan sendiri. Jadi ada rasa tanggung jawab dan kehendak tanpa campur tangan orang lain. Namun tentu saja self discipline terbentuk karena latihan. Mulanya kita melakukan hal-hal yang kita tidak sukai karena desakan orang lain untuk mencapai sesuatu yang mungkin tidak kita inginkan. (Penulis adalah Rektor Universitas Banten Jaya)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here