MEREFLEKSI PERAN GURU DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Isuti Rachman, M.Pd.*

Oleh : Isuti Rachman, M.Pd

Hari ini bertepatan tanggal 25 November 2019 adalah Hari Guru Nasional (HGN) yang sekaligus ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Hari guru ini lahir tentunya  hasil dari sejarah perjuangan para guru tanah air sebelumnya, mengingat begitu besarnya kontribusi atau peran guru dalam mencapai tujuan pendidikan nasional.

Berdasarkan hal tersebut, Tujuan Pendidikan Nasional menurut UU Sistem Pendidikan Nasional nomor. 20 tahun 2003 pasal 3, berbunyi :” Tujuan Pendidikan Nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.” 

Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional tersebut, tentunya diperlukan kerjasama antar komponen yang terlibat dalam pendidikan yang salah satunya komponen terpenting yaitu adalah guru.  Dalam undang-undang Sistem Nasional Pendidikan disebutkan bahwa guru termasuk dalam komponen sistem pendidikan dimana yang dimaksud dengan sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Komponen pendidikan tersebut terdiri dari satuan pendidikan (sekolah), peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, kurikulum dan lain sebagainya. Salah satu komponen pendidikan yang paling penting adalah guru, mengingat guru merupakan ujung tombak dalam sistem pendidikan nasional. Guru sangat berperan penting dalam memajukan pendidikan nasional, karena guru berhadapan langsung dengan siswa dalam proses belajar mengajar, dan menentukan keberhasilan dalam proses belajar mengajar tersebut.

HGN seharusnya dimaknai bukan sekedar Annual of Ceremony semata melainkan sebagai ajang refleksi bersama akan peran guru. Peran guru sebagai tenaga professional mempunyai tugas mendidik, mengajar, membimbing mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Bahkan, Efektivitas dan efisien belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada peran guru.

Hal ini dikemukakan Abin Syamsuddin (2003), dimana peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik, mencakup atas (1) Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems).; (2) Guru sebagai pelaksana (organizer), yang harus dapat menciptakan situasi, memimpin, merangsang, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana, di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person), konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik (manusiawi) selama proses berlangsung (during teaching problems). (3) Guru sebagai penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan, menganalisa, menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement), atas tingkat keberhasilan proses pembelajaran, berdasarkan kriteria yang ditetapkan, baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produknya.

Dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia, Abin Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher counsel), di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikasi peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar, melakukan diagnosa, prognosa, dan kalau masih dalam batas kewenangannya, harus membantu pemecahannya (remedial teaching).

Kedudukan Guru dalam Sistem Pendidikan Nasional telah dijelaskan pula dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, disebutkan bahwa Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal (TK). Sebagai seorang profesional, guru harus menguasai kompetensi yang dipersyaratkan untuk profesi tersebut.

Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Paling tidak terdapat 4 (empat) macam kompetensi yang harus dikuasai oleh guru, yaitu : kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional.

Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: (a) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan; (b) pemahaman terhadap peserta didik; (c) pengembangan kurikulum/ silabus; (d) perancangan pembelajaran; (e) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis; (f) evaluasi hasil belajar; dan (g) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan kepribadian yang: (a) mantap; (b) stabil; (c) dewasa; (d) arif dan bijaksana; (e) berwibawa; (f) berakhlak mulia; (g) menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat; (h) mengevaluasi kinerja sendiri; dan (i) mengembangkan diri secara berkelanjutan.

Kompetensi sosial merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : (a) berkomunikasi lisan dan tulisan; (b) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional; (c) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik; dan (d) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.  Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: (a) konsep, struktur, dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar; (b) materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; (c) hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; (d) penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari; dan (e) kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.

Kedudukan atau peran guru dalam komponen pendidikan berdasarkan undang – undang dan para ahli di atas, harusnya menjadi kekuatan untuk mencapai  Tujuan Pendidikan Nasional lebih efektif dan efisien lagi terutama dalam menghadapi Era Revolusi Industry 4.0. Dimana, tantangan ke depan yang akan dihadapi akan lebih kompleks mengingat efek perubahan yang besar pengaruhnya di semua bidang kehidupan manusia di dunia. Apakah kompetensi yang sudah dirumuskan oleh pemerintah masih relevan ataukah harus ada pola atau bentuk peningkatan kompetensi lagi? Tentu, hal ini menjadi bahan refleksi kita bersama terutama di moment Hari Guru Nasional.

Kompetensi Guru Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Istilah  4.0 di Indonesia berawal dari terjadinya revolusi industri di seluruh dunia, yang mana merupakan lahirnya sebuah era revolusi generasi keempat yang lebih familiar disebut dengan industry revolution 4.0 atau disingkat IR4.

Sejarah revolusi industri dimulai pada akhir abad ke-18 yang ditandai dengan munculnya berbagai peralatan yang didukung oleh mesin uap air. Masa-masa ini disebut sebagai era revolusi industri 1.0. Gelombang perubahan pun terjadi kembali pada akhir abad ke-19 yang disebut dengan era revolusi industri 2.0. Pada masa ini, perubahan signifikan terlihat pada dunia industri yang berubah dengan hadirnya pabrik-pabrik dengan berbasis pada energi listrik.

Laju perubahan pun berlanjut pada abad ke-20 dengan hadirnya revolusi industri 3.0 ditandai dengan penggunaan teknologi elektronik yang digunakan dalam proses produksi di pabrik-pabrik. Pada era ini banyak terjadi pengurangan tenaga kerja atau buruh karena penggunaan tenaga manusia sudah dikurangi secara drastis. Keberadaan tenaga manusia sudah tergeser oleh hadirnya peralatan mesin yang dikendalikan secara elektronik sehingga dapat manghasilkan kuantitas produksi yang lebih banyak. Kondisi ini tentu menguntungkan pihak perusahaan karena tidak perlu lagi mengeluarkan biaya produksi yang lebih besar untuk upah lembur para karyawannya

Dapat dikatakan sebagai sebuah revolusi, karena perubahan yang terjadi memberikan pengaruh yang sangat besar pada ekosistem dunia dan tata cara kehidupan sampai ke semua lini termasuk sistem dunia pendidikan. Era Revolusi Industri 4.0 yang menekankan pada digital economy, artificial intelligence, big data, dan robotic, menuntut dunia pendidikan mengonstruksi kreativitas, pemikiran kritis, penguasaan teknologi, dan kemampuan literasi digital (Krjogja.com, 10 Desember 2018).

Era revolusi industri 4.0 pada akhirnya mengubah cara pandang tentang pendidikan. Dimana, perubahan yang dilakukan tidak hanya sekadar cara mengajar, tetapi jauh yang lebih esensial, yakni perubahan cara pandang terhadap konsep pendidikan yang tentunya itu tidak mudah. Untuk bisa menghadapi tantangan yang ada, syarat penting yang harus dipenuhi adalah bagaimana menyiapkan kualifikasi dan kompetensi guru yang berkualitas sehingga menghasilkan peserta didik yang mampu menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0.

Pasalnya, di era revolusi industri 4.0 profesi guru makin kompetitif, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Guru harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Untuk menghadapi tantangan profesionalitas tersebut, guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. Artinya, guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus.

Disamping itu, guru masa depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya. Dengan demikian, kedudukan guru dalam sistem pendidikan nasional betul-betul dapat menunjang proses belajar mengajar yang bermutu, yang pada gilirannya menghasilkan lulusan yang bermutu dan mempunyai daya saing yang tinggi.

Berdasarkan data UNESCO dalam Global Education Monitoring (GEM) Report 2016 menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia menempati peringkat ke-10 dari 14 negara berkembang. Sedangkan komponen penting dalam pendidikan, yaitu guru menempati urutan ke-14 dari 14 negara berkembang di dunia.

Harus disadari dan juga menindak lanjuti kondisi tersebut, maka negara kita di masa  revolusi industri 4.0, harus mampu memiliki kebijakan untuk memperbarui kompetensi dan cara rekrutmen guru yang berstandarisasi sehingga guru memiliki kemampuan dalam menghadapi era pendidikan 4.0. Jika kita melihat bahwasanya peserta didik yang sedang dihadapi guru pada era 4.0  kini adalah peserta didik dari generasi milenial yang sangat akrab dengan dunia digital.

Peserta didik pada masa ini sudah terbiasa dengan arus informasi dan teknologi industri 4.0, sehingga menunjukan bahwa produk lulusan sekolah harus mampu menjawab segala tantangan industri dalam kehidupan di negara ini. Melihat tantangan tersebut guru diharuskan untuk mampu meningkatkan kompetensi untuk menghadapi peserta didik generasi milenial ini.

Era pendidikan 4.0 adalah era dimana seorang guru mendapatkan tantangan yang berat dan harus dihadapi. Dalam pertemuan tahunan World Economic Forum 2018, Jack Ma yang merupakan CEO dari Allibaba Group menyatakan, bahwa pendidikan pada abad ini memiliki tantangan yang cukup besar. Jika kita tidak dapat mengubah metode pembelajaran dalam hal belajar dan mengajar, maka untuk 30 tahun mendatang kita akan mengalami masalah yang sangat besar.

Pendidikan dan pembelajaran yang terjadi saat ini adalah pendidikan dan pembelajaran yang serat akan ilmu pengetahuan dan juga mengkesampingkan keterampilan sikap pada saat ini terimplementasi maka akan menghasilkan generasi yang tidak mampu bersaing dengan teknologi dan mesin. Oleh sebab itu peran seorang guru sebaiknya mengurangi dominasi pengetahuan dalam pembelajaran dengan maksud  agar peserta didik akan sangat bijak dalam menggunakan  teknologi untuk kebutuhan masyarakat.

Tantangan seorang pendidik tidak berhenti pada kemampuan menerapkan teknologi informasi pada proses belajar mengajar akan tetapi  ada 5 (lima) kompetensi yang harus disiapkan guru menurut Qusthalani dalam laman rumah belajar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud.go.id, 10 Desember 2018) yaitu, pertama, educational competence, kompetensi pembelajaran berbasis internet sebagai basic skill; kedua, competence for technological commercialization. Artinya seorang guru harus mempunyai kompetensi yang akan membawa peserta didik memiliki sikap entrepreneurshipdengan teknologi atas hasil karya inovasi peserta didik; ketiga, competence in globalization, yaitu, guru tidak gagap terhadap berbagai budaya dan mampu menyelesaikan persoalan pendidikan.

Keempat, competence in future strategies dalam arti kompetensi untuk memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi di masa depan dan strateginya, dengan cara joint-lecture, joint-research, joint-resources, staff mobility, dan rotasi. Kelima, conselor competence, yaitu kompetensi guru untuk memahami bahwa ke depan masalah peserta didik bukan hanya kesulitan memahami materi ajar, tetapi juga terkait masalah psikologis akibat perkembangan zaman.

Dalam hal pengembangan pendidikan dan perubahan metode pembelajaran  pemerintah Indonesia memiliki peran yang sangat penting. Ketersediaan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik merupakan suatu hal yang tak kalah penting, oleh karena itu pemerintah Indonesia diharpakan mampu memenuhi kebutuhan fasilitas sarana dan prasarana pembelajaran berbasis teknlogi yang mumpuni secara merata hingga pelosok nusantara yang agar peserta didik generasi penerus bangsa ini dapat memperoleh bekal yang layak dan cukup dalam menghadapi persaingan era ervolusi Industri 4.0 ini.

Ketertinggalan bangsa Indonesia dalam segi pendidikan seharusnya menjadi sorotan utama bagi pemerintah dan dapat menyadarkan seluruh elemen pendidikan bahwa negara dengan kualitas generasi penerus yang aktif, kreatif, inovatif dan peduli dengan bangsa dan negara akan mampu mengubah keadaan Indonesia menjadi negara yang lebih baik, maju, dan dapat bersaing di kacah dunia pada era revolusi Industri 4.0 saat ini. (Penulis, Kepala Sekolah SDIT Irsyadul ‘Ibad 2 Pandeglang, Aktivis Pendidikan/Anggota Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here