Rabu, 22 Agustus 2018
Ratusan warga Desa Purwaraja, Kecamatan Menes demo di depan Kantor Desa Purwaraja dan Kecamatan Menes, Selasa (7/11/2017). Mereka menuntut Pilkades digelar ulang, karena 2.200 orang tak mendapatkan hak pilih.*

Merasa Hak Pilih Dirampas, Warga Desa Purwaraja Demo Pilkades

PANDEGLANG, (KB).- Ratusan orang asal Desa Purwaraja, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang menggelar demo di dua lokasi berbeda yaitu, Kantor Desa Purwaraja dan Kantor
Kecamatan Menes, Selasa (7/11/2017).

Dalam aksinya, warga menuntut agar panitia Pilkades menggelar ulang pencoblosan, karena dari 5.400 warga masuk Daftar Pemilih Tetap (DPT), sebanyak 2.200 warga tidak diberikan kesempatan untuk menggunakan hak pilihnya. Berdasarkan pantauan, aksi tersebut diawali dengan aksi jalan kaki dari Alun-alun Menes menuju Kantor Desa Purwaraja.

Di lokasi tersebut, warga menyampaikan aspirasinya terhadap panitia, karena sebanyak 2.200 warga tidak mendapatkan hak pilih. Setelah berorasi sekitar satu jam, massa balik arah bergerak menuju Kantor Kecamatan Menes.

Satu persatu perwakilan massa berorasi sambil meneriaki kecamatan terhadap panitia Pilkades. Para pendemo menyampaikan orasi dengan pelantang suara dan membawa karton bertuliskan kecaman terhadap panitia.

Tidak sedikit warga dari kaum perempuan, tampak histeris menangis sambil berteriak bahwa hak untuk memilih dalam pilkades telah dirampas oleh oknum panitia. Dalam aksinya, sebagian kaum ibu menggendong anak kecil. Ibu-ibu tidak berhenti untuk menyampaikan aspirasinya menuntut keadilan dari para penyelenggaraan atau panitia Pilkades Purwaraja.

Salah seorang koordinator aksi (Korlap), Didi Rosadi mengatakan, ada sekitar 2.200 warga Purwaraja yang sudah mendapatkan surat panggilan pencoblosan dalam Pilkades serentak itu, tidak diberikan kesempatan untuk memilih oleh panitia. Ia mengaku, hak warga untuk memilih sudah dirampas oleh pihak panitia.

“Datang ke sini kami minta keadilan dari panitia Pilkades, karena hak kami dan warga untuk memilih sudah dirampas. Ini sangat tidak adil,” ucapnya. Menurutnya, surat panggilan pencoblosan telah diambil oleh pihak panitia. Akan tetapi, warga tidak bisa memilih. “Surat panggilan Pilkades aing dikamanakeun ku panitia (Surat panggilan saya untuk mencoblos dikemanakan oleh panitia),” tuturnya.

Hal hampir senada dikatakan perwakilan warga lainnya, Hendri. Ia mengatakan, panitia Pilkades Purwaraja dinilai sudah melanggar aturan yang ada. Dengan menghilangkan hak memilih itu sudah menyalahi aturan. Oleh sebab itu, ia mengancam akan menggugat panitia Pilkades tersebut.

“Kami ingin para panitia hadir hari ini untuk memberikan penjelasan kepada kami. Jika tidak, maka jangan salahkan kami kalau ada tindakan di luar hukum. Untuk itu, kami menuntut agat panitia melakukan pemilihan ulang,” ucapnya.

Sementara itu, Camat Menes, Suparta Wijaya mengatakan, adanya aspirasi masyarakat itu hal tersebut sah-sah saja. Karena hal itu bagian dari hak masyarakat itu sendiri. Tetapi memang tujuannya bukan kepada pihak kecamatan, melainkan kepada panitia Pilkades Purwaraja.

Karena menurutnya, dengan adanya gejolak massa tersebut, merupakan sikap ketidakpuasan dari calkades yang kalah. “Gerakan massa ini adanya ketidakpuasan dari Calkades yang kalah, bukan gerakan murni masyarakat,” ujarnya.

Menurut camat, seharusnya jika memang ada calkades yang kalah dan merasa tidak puas, diharapkan menempuh dengan jalur hukum. Tetapi pihaknya mengapresiasi atas aspirasi yang disampaikan pendemo tersebut.

“Semua sudah ada aturannya. Jika ada yang tidak puas, silakan tempuh dengan jalur hukum yang baik,” katanya. Saat ditanya adanya gejolak dari masyarakat yang merasa hak untuk memilihnya itu dirampas oleh panitia Pilkades, apakah ini cerminan kinerja panitia kurang maksimal atau tidak. Pihaknya mengaku, mungkin saja pihak panitia ada kelalaian, sehingga tidak bisa mengantisipasi gejolak dari masyarakat.

“Kemungkinan hal itu adalah kelalaian dari panitia, sehingga sekarang ini timbul gejolak dari warga,” ucapnya. Sementara itu, saat dimintai keterangan, Ketua panitia Pilkades Purwaraja, Juhaeni enggan memberikan komentar, atas aksi massa dari Purwaraja. Alasannya ia sedang banyak pekerjaan. “Saya mau bekerja, jadi mohon maaf saya. Saya lagi banyak pekerjaan. Nanti, nanti aja ya,” katanya. (IF)***


Sekilas Info

Warga Adukan Pencemaran Sungai

PANDEGLANG, (KB).- Warga Kampung Ciherang, Desa Cimoyan, Kecamatan Picung, Kabupaten Pandeglang berencana mengadukan pencemaran Sungai Ciherang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *