Merasa Dianaktirikan, Warga Berangbang Tuntut Pemekaran

Warga Kampung Berangbang, Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa saat melakukan musyawarah terkait kelanjutan rencana pemekaran desa yang telah bertahun-tahun tanpa kejelasan.*

SERANG, (KB).- Warga Kampung Berangbang, Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa menuntut adanya kejelasan pemekaran desa yang telah diajukan sejak 2008. Pengajuan pemekaran dilakukan, karena masyarakat merasa dianaktirikan dalam hal pemerataan pembangunan dari desa induknya yang dinilai terlalu padat.

Ketua Pokja Pemekaran Desa Berangbang, Saan mengatakan, proses pengajuan untuk pemekaran desa tersebut telah dilakukan sejak 2008. Namun, kemudian proses tersebut sempat tertunda dan dilanjutkan 2016 dibuat proposal baru. “Walau sempat terhenti, sekarang proposal pemekaran telah diajukan kembali. Bahkan, proposalnya sudah masuk kepada Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah, Wakil Bupati Serang, Pandji Tirtayasa, dan Bidang Pemerintah Desa. Masyarakat sampai sekarang menanyakan kepada pokja, mau lanjut atau bagaimana. Jadi, saya minta ada kejelasan,” katanya kepada Kabar Banten, Ahad (4/2/2018).

Ia menjelaskan, selama ini masyarakat di kampungnya sudah menggebu-gebu meminta secepatnya dilakukan pemekaran, karena wilayanya dianggap sudah layak dimekarkan. “Jumlah jiwa Desa Lontar hampir 10.000. Berangbang bisa menjadi pusat desanya,” ujarnya. Selain itu, ucap dia, jarak antara Berangbang dengan desa induk terhitung jauh sekitar dua kilometer.

Alasan lainnya, selama ini desanya sering dianaktirikan dalam hal pemerataan pembangunan. Meski demikian, dia memaklumi hal tersebut, sebab anggaran yang ada selama ini masih belum cukup untuk membangun Desa Lontar. “Kebetulan sekarang pemerintah desanya, adalah orang Berangbang, kalau dulu desa kami ini merasa diasingkan atau dianaktirikan,” ucapnya.

Tokoh Pemuda Berangbang, Jajuli Refa menuturkan, proses pengajuan pemekaran telah dimulai sejak 2005. Kemudian, setelah dua-tiga tahun perjalanan, Sekretaris Daerah Kabupaten Serang pada 26 Mei 2008 mengeluarkan surat pemekaran desa. Ada beberapa desa yang masuk dalam lempiran surat tersebut, di antaranya Bojong Menteng (Tunjung Teja), Sukajaya (Pontang), Lontar (Tirtayasa), Sukabares (Ciomas), Harjatani (Kramatwatu), dan Renged (Binuang). “Jelas di sana Lontar ada. Setelah itu diproses, namun kemudian terganjal, karena ada masalah politik di desa,” tuturnya.

Pihaknya kemudian melakukan upaya, akan tetapi, muncul pro kontra, yakni adanya pihak yang ingin melakukan penggabungan dengan Desa Alang-alang. “Adanya surat penggabungan itu, karena pemerintah desanya mungkin enggak ingin melepas,” katanya.
Kemudian, ujar dia, 2008 kabag pemdes turun ke desa untuk mengklarifikasi masalah tersebut. Warga juga sudah datang ke DPRD Kabupaten Serang meminta klarifikasi sembari menyampaikan aspirasi keinginan untuk pemekaran.

“Saya mohon kepada ketua dewan, daripada digabungkan Desa Berangbang dengan Alang-alang mendingan jangan. Kemudian, tidak digodok lah proses pemekarannya khususunya Kecamatan Tirtayasa, Desa Lontar. Saat itu, sekda juga mengeluarkan surat, agar dilakukan pengondusivitasan masyarakat. Sekarang masalahnya telah selesai dan pemekaran Kampung Berangbang diharapkan segera terealisasi,” ucapnya.

Menurut dia, Kampung Berangbang sudah memenuhi kriteria pemekaran. Apalagi Desa Lontar-nya dinilai telah terlalu padat. Sehingga, Berangbang sering ketinggalan saat ada program pembangunan. Selain itu, potensi PAD juga besar. Bahkan, untuk infrastruktur mulai dari SMP satu atap, ponpes, dan madrasah juga sudah ada. “Struktur jiwa sudah memenuhi, geografik dan peta sudah memenuhi, tanda tangan masyarakat sudah. Pemekaran ini, karena kami ingin menggerakkan roda perekonomian masyarakat,” tuturnya. (DN)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here