Merajut Kembali Kebersamaan

Oleh : Hj. Ratu Tatu Chasanah, SE, M.Ak

”Barangsiapa yang memberi makan berbuka bagi yang berpuasa, maka pahalanya serupa dengan pahala yang berpuasa, tanpa mengurangi sedikit pun pahala yang berpuasa itu,” (HR Ahmad dan Nasai).

Ramadan, bulan penuh berkah. Pada bulan suci ini, umat Islam yang menjalankan ibadah puasa akan merasakan nilai-nilai persaudaraan dan rasa kebersamaan. Sebelum bulan Ramadan, dengan berbagai aktivitas, kadang kebersamaan ini menjadi renggang. Antara anak dan orangtua, istri dan suami, karyawan dengan atasan, masyarakat dengan pemimpinnya, umat dengan ulama, kaum kurang mampu dengan kalangan agniya dan sebagaianya.

Puasa Ramadan melatih orang yang menjalaninya membiasakan hidup dalam kebersamaan. Antara lain, melalui buka puasa bersama, Salat Tarawih berjamaah maupun saat sahur bersama. Selain itu, amaliah Ramadan seperti memperbanyak sedekah, infak, membayar zakat, dan amal shalih lainnya.

Maka momentum bulan Ramadan adalah perekat hubungan yang mungkin renggang tersebut. Melalui berbagai aktivitas ritual ibadah maupun sosial selama Ramadan tersebut, rasa kebersamaan tersebut dirajut dan dipupuk kembali. Harapannya, tentu tidak kebersamaan tersebut tidak hanya pada saat Ramadan saja, tetapi pada bulan-bulan selanjutnya.

Ramadan tahun 2019 atau 1440 Hijriah bertepatan dengan suasana pasca pelaksanaan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden (Pilpres) yang diselenggarakan pada 17 April 2019 lalu. Masa kampanye yang cukup lama, harus diakui terjadi gesekan antar kelompok masyarakat. Perbedaan pilihan terkadang tak bisa dihindarkan, meskipun merupakan teman, saudara dan sebagainya.

Oleh karena itu, kepada para alim ulama, tokoh masyarakat dan para kasepuhan di wilayah masing-masing bisa mengajak masyarakat agar merajut kembali kebersamaan dan silaturahim pascapemilu 17 April lalu.

Adanya perbedaan pilihan di masyarakat yang menimbulkan perpecahan beberapa waktu lalu hendaknya tidak berlanjut sampai saat ini. Semuanya harus dihentikan karena pemilu sudah terlaksana dengan aman.

Kita berharap kepada seluruh masyarakat bahwa tugas kita sudah selesai, dimana kita pada pemilu lalu untuk memberikan hak suaranya sudah selesai, dan kita tinggal menunggu penetapan KPU pada 22 Mei 2019 mendatang.

Momentum Ramadan yang penuh berkah akan sangat rugi jika terus diwarnai dengan perbedaan-perbedaan, perselisihan-perselisihan, apalagi masih saling mencaci. Saya berharap jangan sampai terjadi putus silaturahim, karena itu perbuatan yang sangat tidak disukai oleh Allah SWT.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hujarat ayat 10. “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat nikmat.”

Saya mengimbau kepada para ASN Kabupaten Serang mengajak masyarakat agar menjalin silaturahim, tidak ada lagi perbedaan, tidak ada lagi beda pilihan. Perbedaan itu hanya sampai 17 April 2019 lalu. Tugas kita adalah bersama-sama kembali membangun Kabupaten Serang.

Tugas berat masih menanti. Yakni persoalan kemiskinan, persoalan pengangguran. Itu yang wajib kita selesaikan, itu yang harus kita tuntaskan. Pembangunan ini akan bisa terlaksana dalam suasana yang kondusif, kalau di masyarakatnya tidak kondusif mustahil, pembangunan akan berjalan dengan lancar.

Semoga Ramadan ini menambah semangat bagi semua komponen masyarakat Kabupaten Serang untuk lebih baik lagi dan memberikan kerja nyata. Tujuan akhirnya, masyarakat merasakan kesejahteraan, ketentraman, kenyamanan dan mewujudkan tatanan kehidupan yang rukun dan damai. (Penulis, Bupati Serang)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here