Rabu, 24 Oktober 2018

Menyulap Limbah Pelepah Sawit Menjadi Kerai

SEBAGAI negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia setelah Malaysia, Indonesia yang memiliki luas tanaman lebih dari 2.9 juta ha belum bisa memanfaatkan potensi yang terdapat dari tanaman kelapa sawit itu secara optimal. Pemanfaatan biomassa kelapa sawit baru sebatas pada buah untuk memproduksi minyak, serta sampai pada tingkat tertentu, pada sabut, dan tandan. Sedangkan batang dan pelepah daun yang merupakan bahan pembuat particle board, yang masih belum digarap secara optimal, karena tingginya biaya pengolahan.

Di Kabupaten Lebak, perkebunan kelapa sawit terhampar luas disejumlah wilayah kecamatan. Hal itu tentunya menjadi peluang usaha yang sangat terbuka bagi masyarakat yang memiliki kreativitas tinggi, sehingga limbah sawit bisa termanfaatkan secara optimal. Peluang usaha itulah yang kemudian dengan cerdik ditangkap oleh sebagian masyarakat, termasuk di antaranya pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Desa Rangkasbitung Timur yang sejak beberapa waktu lalu mengolah limbah pelepah kelapa sawit menjadi kerai.

Melalui pelatihan yang tidak terlalu sulit, UMKM di bawah pimpinan Anda itu berhasil membuat kerai yang ternyata bisa menarik minat konsumen, dan tentunya bisa memberikan penghasilan tambahan bagi kelompoknya.
“Dalam sehari kami bisa menjual kerai dari pelepah kelapa sawit antara dua sampai tiga unit dengan harga Rp 35.000 per unit,” kata Ketua UMKM perajin kerai sawit Desa Rangkasbitung Timur, Kabupaten Lebak, Anda, Senin (30/4/2018).

Menurut Anda, saat ini pelaku UMKM kerajinan kerai sawit berjumlah sekitar 150 perajin dan tersebar di Desa Rangkasbitung Timur. Para perajin itu memanfaatkan limbah pelepah kelapa sawit yang dibuang pihak perkebunan.
”Pelepah sawit itu selanjutnya diproduksi menjadi kerai dan dijual oleh penampung. Produksi kerai sawit bisa mencapai ratusan unit per pekan dan dipasok ke berbagai daerah di Provinsi Banten. Dari usaha kerajinan kerai itu, masyarakat bisa mendapatkan penghasilan yang dapat membantu perekonomian keluarganya,” ujar Anda.

Sebagian besar perajin kerai sawit, ujar Anda, berasal dari keluarga prasejahtera yang bekerja sebagai buruh sadap kelapa sawit di PTPN VIII Cisalak. Para keluarga perajin itu memanfaatkan waktu luang dengan mengolah limbah pelepah sawit yang tersedia menjadi seni kerajinan yang layak jual. ”Musim penghujan seperti saat ini, menjadi berkah tersendiri bagi kami dan para perajin, karena permintaan akan kerai terus bertambah. Saat ini, para perajin merasa kewalahan untuk melayani permintaan,” tuturnya.

Kepala Seksi Aneka Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak Sutisna mengatakan, pihaknya hingga kini terus mengembangkan UMKM kerajinan kerai sawit di sejumlah kecamatan. “Kami membina warga yang tinggal di sekitar perkebunan dapat memanfaatkan limbah kelapa sawit untuk dijadikan kerajinan untuk mengatasi kemiskinan. Selain di Desa Rangkasbitung Timur, kerajinan serupa juga sudah dilakukan oleh masyarakat di Desa Banjarsari, Kecamatan Cileles,” kata Sutisna. (Nana Djumhana)*


Sekilas Info

Hari Santri Nasional Babak Baru Islam di Indonesia

LEBAK, (KB).- Asisten Administrasi Umum dan Kesra Dedi Lukman menjadi inspektur upacara pada peringatan Hari Santri …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *