Minggu, 19 Agustus 2018

MENYOAL TENTANG POLIGAMI

Poligami menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah ikatan perkawinan yang salah satu pihak memiliki/ mengawini beberapa lawan jenisnya diwaktu bersamaan. Atau poligami adalah suami yang memiliki isteri lebih dari satu dalam waktu yang bersamaan.

Kebolehan poligami dalam Islam dijadikan orang luar Islam sebagai senjata untuk menuduh bahwa Islam tidak menghormati kaum perempuan, padahal poligami sudah ada sejak zaman sebelum Islam. Pada masa itu jumlah istri yang dinikahi tidak terbatas dan tidak ada persyaratan tertentu. Ketika Islam datang, poligami mulai dibatasi, tidak boleh lebih dari empat isteri dengan persyaratan yang ketat, yaitu berlaku adil dan mampu menanggung nafkah.

Sebelum Nabi Muhammad diutus, bangsa Arab terkenal sebagai bangsa yang kasar dan saling bermusuhan. Sering terjadi peperangan antar suku yang satu dan yang lainnya. Akibatnya, banyak perempuan yang menjadi atau dijadikan tawanan.

Perempuan diperjualbelikan, diperdagangkan dan diwariskan. Raja dan kepala sukupun kemudian beristri banyak demikian juga orang-orang kaya yang berduit. Diantara mereka, ada yang beristri sepuluh, dua puluh, bahkan ada yang lebih. Budak, gadis-gadis cantik dapat dibeli dan ditukar tambah. Perzinaan merajalela, akhirnya, masyarakat arab merasa malu bila mendapat anak perempuan karena takut terjatuh kejurang kehinaan.

Berikutnya setelah Nabi Muhammad membawa dan menyebarkan agama Islam, ia segera mengatur poligami sesuai dengan norma-norma kesopanan dan kemanusiaan. Poligami diberi batas, perzinaan dan perbudakan dilarang.

Islam memang tidak menghapuskan poligami tetapi mengatur dan membatasi maksimal empat istri dengan ketentuan syarat yang berat dan sulit. Syarat yang berat dan sulit ini dimaksudkan agar laki-laki tidak asal-asalan dalam mengambil langkah untuk berpoligami.

Umumnya, pelaku poligami menggunakan dalil surat Annisa’ ayat 3 “Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim.”

Al Qur’an pada dasarnya memerintahkan monogami, poligami adalah pengecualian bagi laki-laki yang betul-betul sanggup untuk menjalankannya dan itupun dibatasi hanya maksimal empat.

Pada dasarnya, tujuan menikah baik yang pertama ataupun yang kedua yaitu untuk membina keluarga dan rumah tangga bahagia. Namun sangat disayangkan, apa yang terjadi di masyarakat banyak disalahgunakan. Ada sebagian yang menjadikan poligami hanya sebagai pelepas hawa nafsu semata. Nikah silih berganti, perempuan ditinggal atau dicerai tanpa alasan yang jelas, sehingga perempuan-perempuan merana dimasa muda dan menderita dimasa tua. Bahkan anak-anaknya pun menjadi korban kesengsaraan, pendidikannya sia-sia dan tak jelas.

Atas dasar kenyataan ini, sudah seharusnya ulama dan pemuka agama untuk memberikan pencerahan bahwa peraturan-peraturan Islam, termasuk poligami dimaksudkan untuk menyelamatkan dan membahagiakan, bukan sebaliknya memelaratkan dan menyulitkan. Sejalan dengan misi Al Qur’an, “Engkau tidak kami utus, wahai Muhammad kecuali untuk memberi rahmat kepada seluruh umat manusia”. Qs. Al Anbiya 79.

Sedangkan poligami yang dilakukan Nabi Muhammad saw. Adalah bertujuan untuk memelihara dan menyelamatkan. Bila kita telaah peristiwa pernikahan Nabi Muhammad maka akan kita dapatkan bahwa misinya adalah sebuah perjuangan, kasih sayang, perasaan sosial yaitu memelihara dan menyelamatkan perempuan-perempuan yang merana dan menderita lahir batin karena ditinggal mati suaminya dalam memperjuangkan dan mempertahankan aqidah Islam.

Sebagai contoh pernikahan Nabi dengan sayyidah Khadijah, seorang janda yang dinikahi untuk membantu dan menegakkan kebenaran dan keadilan, memerangi kejahilan dan kezaliman. Khadijah membantu Nabi secara all out tanpa pamrih.

Perlu kita ketahui bersama bahwa Nabi Muhammad saw. Hanya sekali menikah dengan gadis, yaitu dengan sayyidah Aisyah ra. Seorang perempuan cerdas, bijaksana, sama seperti sayyidah Khadijah, sayyiddah Fatimah juga secara total membantu Nabi dalam berdakwah, sehinga sangat tidak tepat bila ada tuduhan yang mengatakan bahwa Nabi mempermainkan kaum perempuan dan Islam sebagai agama poligami.

Poligami yang dilakukan Nabi tidak harus diteladani baik jumlahnya maupun orang yang akan dijadikan isteri kedua, ketiga dan keempat, karena hal tersebut merupakan kekhususan Nabi Muhammad saw. Sebagaimana ditegaskan Al Qur’an: “Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah engkau berikan maskawinnya dan hamba sahaya yang engkau miliki, termasuk apa yang engkau peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersamamu, dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi ingin menikahinya, sebagai kekhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki agar tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” QS. Al-Ahzab: 50

Islam memperbolehkan poligami karena ada beberapa sebab psikis dan sosial yang mendesak, diantaranya dengan tujuan kesejahteraan yang merata, kemaslahatan umum, tidak untuk tujuan menganiaya dan menyulitkan, sebagaimana firman Allah, “Allah sekali-kali tidak menghendaki aniaya pada hamba-hamba-Nya”. Qs. Al Mukminun 31, demikian juga di jelaskan, “Tuhan menghendaki kelapangan dan kesejahteraan, dan bukan kesempitan dan kesukaran”. Qs. Al Baqarah 185

Sumbangan Islam yang paling berharga terhadap kaum wanita adalah menganjurkan agar hubungan antara pria dan wanita merupakan hubungan yang terhormat dalam kerangka hubungan suami isteri, dimana disahkan dalam ikatan suatu pernikahan. Islam melarang keras terhadap seorang suami untuk melakukan hubungan gelap, karena hal itu sama saja dengan merendahkan wanita. Akan tetapi Islam memperkenankan bagi seorang suami untuk melakukan poligami, suami harus berani bertanggung jawab dan bersikap adil terhadap anak dan istrinya, dengan demikian kedudukan wanita akan tetap terjaga dari kerendahan harkat dan martabatnya. Wallahu ‘alam bisshawab. (Kholid Ma’mun/Pengajar di Ponpes Modern Daar El Istiqomah kota Serang dan Pengurus MUI Provinsi Banten)*


Sekilas Info

Bisnis dan Muslim

Oleh: Nasuha Abu Bakar, MA Mendengar kata dan istilah “BISNIS” sebagian masyarakat pedesaan sering masa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *