Menyoal Banjir yang Satire

Efi Syarifudin.*

Oleh : Efi Syarifudin

Banjir di akhir bulan ini ramai kembali. Padahal, belum lagi beban yang lalu terlewati. Walau banjir hitungan jari, namun membutuhkan recovery dari dampak yang sepertinya panjang sekali. Kita perlu mengevaluasi banyak hal dari bencana, karena apa yang terjadi menunjukkan siapa dan bagaimana kondisi kita. Buktinya, banjir dan perubahan cuaca rupanya menjadi anomali bagi suasana politik. Terutama di Jakarta.

Banjir dan suhu yang dingin telah memicu suasana untuk terus memanas. Banjir menjadi adu tarung media dan citra politik. Bukannya mengempati, di media sosial malah ramai ungkapan nyinyir. Membuat suasana terasa sengit. Kita semua berduka terhadap korban banjir, tapi juga sedih melihat apa yang terjadi di perdebatan sekitar.

Media di awal banjir seolah hanya berfokus pada Jakarta, lalu bergeser ke tempat lainnya. Karena memang faktanya banjir melanda banyak wilayah di Pulau Jawa. Baru kemudian terungkap di Lebak Banten dan perbatasan Bogor, adalah yang terparah. Tapi tentu wajar jika Jakarta menjadi perhatian utama, karena suhu politiknya juga memang selalu hangat. Namun setelah banjir juga merendam Kota Surabaya, kenapa malah semakin karut. Para pemimpin wilayah ikut dibanjiri perundungan, pembelaan, dukungan, juga cacian.

Para pemimpin disalahkan mungkin saja dampak dari kebingungan. Karena siapa yang berani menyalahkan alam atau Tuhan atas peristiwa ini? Karena Tuhan tak pantas disalahkan. Tuhan sudah mengingatkan bahwa bencana adalah karena ulah manusia. Tapi jenis manusia yang bagaimana juga perlu kita definisikan. Memang seyogyanya perdebatan kita bukan hanya tentang siapa pemimpinnya.

Tapi apa yang sudah kita lakukan sebagai warga juga perlu sesekali ditanyakan. Karena bisa saja, kita juga sebetulnya punya kontribusi terhadap bencana. Bahkan mungkin ikut berdosa karena membuat keruh bencana banjir dengan komentar dan gestur yang nampak nyinyir.

Energi media wajar jika tersedot memotret Jakarta, sebab punya dampak berita. Siapa pun yang berani maju sebagai Gubernur Jakarta, penanganan banjir adalah konsep utama yang harus dipertaruhkan sepanjang masa kerja. Walau banjir adalah kuasa alam dan Tuhan, tapi siapa yang menjadi Gubernur Jakarta seolah adalah penanggung jawab utamanya.

Parahnya kali ini, sebagian politisi memanfaatkannya untuk menggoreng sisi buruk. Untuk meningkatkan pamor golongan dan pribadi, sambil menjatuhkan lawan politiknya. Bukannya saling menguatkan koordinasi dan empati untuk berbagi, malah sibuk mencari-cari citra diri. Betapa disayangkan, karena banjir di beberapa kota telah membuat sebagian orang lepas kontrol dipermainkan emosi.

Wali Kota Surabaya pernah dimaki dengan menyebut nama hewan dan Gubernur Jakarta disamakan dengan tokoh jahat sebuah film fiksi. Syukur hal ini tidak terlalu ditanggapi, walau karenanya jadi sibuk juga kantor polisi.

Tidak hanya para politisi, para pendukung dan barisan pemilih juga seperti kena “alergi”. Harusnya banjir bisa meredam konflik karena semua bahu membahu dan memelihara empati. Tapi malah dijadikan ajang kontes kekurangan dan kelebihan pemimpin negeri. Bangsa ini kenapa sih?

Seharusnya diskusi dan keramaian kita adalah tentang dua hal saja. Bagaimana menangani dampak yang telanjur terjadi dan bagaimana mencegah atau mencari solusi atas apa yang kelak terjadi. Urusan siapa yang terpilih dan siapa yang gagal menjalankan tugas, kita selesaikan bersama persoalan ini setelah banjir lewat dan masyarakat mulai pulih. Sehingga energi kita terpakai untuk tangani masalah, bukan memperumit rajutan masalah.

Diskusi di ruang terbuka akan lebih maslahat jika kita membahas secara mendalam apa sesungguhnya yang menyebabkan banjir. Kajian-kajian terbuka tersebut dapat mengedukasi publik untuk lebih paham tentang apa yang sejatinya terjadi. Jangan-jangan kita terlalu lama fokus pada bukan persoalan pokoknya. Kita sibuk mengorek borok, tapi penyebabnya kita abaikan lalu semakin bobrok.

Selain mengkaji berbagai dugaan penyebab, masyarakat juga perlu diedukasi secara intensif, bagaimana menghadapi bencana. Sehingga dampaknya bisa diminimalisasi. Sambil menunggu langkah strategis mengurangi penyebab dan penanggulangannya, kita pastinya perlu banyak belajar pada negara-negara yang menjadikan bencana sebagai bagian edukasi wajib. Sehingga saat bencana terjadi, dampaknya tidak terlalu besar. Setidaknya secara psikologis, masyarakat jauh lebih tenang.

Selanjutnya, pembahasan juga boleh ramai tentang bagaimana seharusnya banjir diselesaikan di masa depan. Kita beri panggung kepada para pakar untuk tampil mengkaji. Kita telah lama tidak memberi ruang para pemikir dan ahli untuk memimpin pada bidangnya. Seolah pemimpin adalah pakar atas segala masalah. Padahal tentunya tidak. Setiap orang pemimpin pada bidangnya masing-masing.

Perlu digarisbawahi bahwa tentang banjir, para politisi bukan lah ahlinya. Mereka tetap diberi ruang bicara, tapi dari sisi lain. Misalnya pada sudut pandang koordinasi. Boleh juga menagih janji agar pemimpin tak lupa akan narasi saat kontestasi. Tapi tetap menjaga situasi, agar masyarakat tak saling memaki. Suasana damai dibutuhkan menghadapi banjir yang tak tenang.

Jika banjir faktanya ada dimana-mana. Tentu porsi pemberitaan Jakarta perlu ditimbang oleh berbagai media. Masih banyak pekerjaan yang tersisa dari banjir di berbagai tempat. Di Banten misalnya, persoalan infrastruktur seperti jembatan dan pemulihan ekonomi para penyintas banjir masih samar-samar. Penyebabnya juga belum dipastikan secara akademis, masih pakai asumsi kira-kira. Simpang siur tentang apa saja yang menjadi penyebab bencana dan samarnya penangangan pascabencana, membuat banjir penanganannya terkesan ambyar.

Akhirnya sebagai bangsa yang tingkat pendidikan warganya kian meningkat, tentu tak ingin kehilangan akal sehat. Alih-alih merundung atau mendukung para pemimpin, tapi gagal membimbing pikiran dan sumberdaya untuk berkontribusi pada penanganan bencana dan pemulihannya. Karena seharusnya kita menyambut hujan sebagai rahmat Tuhan.

Hujan adalah harapan bagi para petani dari kekeringan dan hadiah bagi anak-anak yang bosan dengan gawai. Semoga ke depannya, turun hujan tak lagi berarti akan ada bencana. Karena air hujan harusnya menghapus dosa-dosa dan menjadi ruang terbaik untuk berdoa. (Penulis, Dosen FEBI UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here