Rabu, 26 September 2018
H Bazari Syam

Menyemai Pesan Kebaikan

Beberapa bulan terakhir saya banjir pertanyaan tentang manfaat dan mudarat media sosial (medsos). Awalnya saya kurang paham, mengapa pertanyaan seperti itu diarahkan kepada saya. Tetapi, belakangan saya jadi mafhum, ternyata banyak sahabat yang menganggap saya “lincah” bermain medsos. Mengetahui penilaian banyak orang tersebut, perasaan saya jadi tidak karuan: ada senang, risih, bangga (tetapi sekaligus kadang juga muncul rasa malu hehehe). Sebab, terus terang saja, satu-satunya jenis medsos tempat saya bersosialisasi, ya Facebook. Padahal, dalam perkembangan sekarang, medsos sudah berkembang sangat pesat. Lihat saja, ada Twitter, Google Plus, Instagram, Pinterest, Tumbir, Flickr, Likedln, Ask.fm, dan Social Chat Apps.

Jadi, jika dari sekian banyak medsos, tetapi hanya berkutat di satu medsos, tentu saya tidak pantas disebut “lincah”. Akan tetapi, memang saya termasuk yang senang bermain medsos, Facebook tepatnya. Saya seringkali memanfaatkan medsos yang lahir pada 2004 tersebut, untuk ekspose berbagai kegiatan, baik pribadi maupun dinas kantor. Tujuannya satu, untuk menyosialisasikan program Kementerian Agama kepada masyarakat. Sebab, dewasa ini hampir setiap individu baik di perkotaan maupun di perdesaan punya Facebook.

Menurut saya, Facebook sudah menjadi salah satu media efektif untuk berbagi informasi di dunia maya. Oleh sebab itu, saya sangat berterima kasih kepada Mark Zuckerberg, penemu Facebook yang kini menjadi salah seorang terkaya di dunia di usia masih muda.
Sebagai pengguna medsos, belakangan saya jadi ikut-ikutan gelisah. Bukan hanya karena banyak yang bertanya terkait manfaat dan mudarat, tetapi juga karena belakangan isi medsos sudah semakin liar. Banyak “aktivis” medsos yang kerjanya hanya menyerang pribadi orang lain, bahkan tak sedikit juga yang memanfaatkannya untuk menghancurkan rumah tangga (baik rumah tangga dirinya maupun orang lain).

Kasus terakhir, saya benar-benar dikejutkan dengan pemberitaan di media massa yang menyebut ribuan rumah tangga di Bekasi Jawa Barat hancur berantakan gara-gara medsos. Muncul di benak saya, gara-gara medsos masyarakat dibikin tak sehat jiwa. Wajar jika KH Ahmad Ishomuddin, Dosen UIN Raden Intan Lampung menilai, medsos sudah menjadi penyebab utama sakitnya jiwa masyarakat.
Dalam sebuah wawancara dengan NU Online, Kiai Ishom menilai, medsos berhasil mengikis daya kritis penggunanya. Ketika menerima informasi misalnya, langsung dibagikan kepada teman medsos lain, tanpa dikroscek terlebih dahulu apakah berita tersebut benar atau hoax.

Masyarakat di era medsos, tambah dia, banyak yang tidak pernah berpikir apakah sebuah berita bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat luas. Bagi mereka, terpenting adalah ikut menyebarluaskan. Medsos juga dinilainya telah berhasil menjadikan sebagian penggunanya males dan ogah tabayyun atau klarifikasi. Mereka tak sadar telah ikut menyebarluaskan fitnah, hoax, dan adu domba. Pendek kata, medsos banyak menjadikan penggunanya gampang su’uzon, gampang buruk sangka kepada orang lain. Padahal sejatinya, medsos harus digunakan untuk hal-hal positif, yang menyatukan dan yang mendamaikan, agar membuat negara lebih aman.

Sebagai alat, medsos bisa sangat berguna untuk menjaga kerukunan dan saling pengertian antarindividu, kelompok, golongan, antarbangsa, dan bahkan juga antarpemeluk umat beragama.
Tak bisa dimungkiri, dewasa ini Nahdlatul Ulama dan para kiainya juga menjadi korban “serangan medsos”. Alhamdulillah, seperti harapan kita bersama, Nahdliyin tidak mudah terpancing oleh hoax.
Hal tersebut bukan saja menandakan dewasanya Nahdliyin, namun juga karena para ulama kita selalu menyadari, bahwa dakwah memang selalu diiringi dengan rintangan. Itulah antara lain yang dialami Rasulullah SAW di Thoif.

Alkisah, tiga tahun sebelum hijrah, Rasulullah SAW melakukan perjalanan ke Thaif. Perjalanan tersebut dilakukan tidak lama setelah wafatnya Siti Khadijah pada 619 Masehi dan wafatnya Abu Thalib, pelindung utama yang juga paman Rasulullah SAW pada 620 Masehi. Seperti diketahui, sepeninggalnya Abu Thalib dan Siti Khadijah, kaum musyrikin Quraisy semakin berani mengganggu Rasulullah SAW. Itu sebabnya, jika warga Kota Thaif mau menerima Rasulullah, mungkin kota ini akan menjadi tempat berlindung kaum Muslimin dari kekejaman kaum musyrikin Mekkah, bukan di Madinah.

Perjalanan Rasulullah ke Thaif dilakukan secara diam-diam dengan berjalan kaki. Di kota tersebut, Rasulullah tinggal selama 10 hari. Namun ternyata, penduduk Thaif sangat kasar kepada Rasulullah. Sebab, sebelumnya mereka memang telah termakan hoax tentang Rasulullah SAW. Tak hanya mencaci, mereka bahkan melempari Rasulullah SAW, sehingga kakinya terluka. Zaid bin Haritsah berusaha melindungi Rasulullah, sehingga kepalanya juga terluka akibat terkena lemparan batu. Akhirnya, Rasulullah berlindung di kebun milik ‘Utbah bin Rabi’ah.

Saking beratnya ujian yang diterima, Rasulullah berdoa, “Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapa diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku?

Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak ku hiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan akhirat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan mempersalahkan diriku. Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apapun selain atas perkenan-Mu”.

Lihatlah, karena hoax, masyarakat Thaif menjadi beringas, terbakar emosi. Itu sebabnya, medsos yang seringkali dijadikan kendaraan untuk menyebar hoax, adalah bagian dari tantangan rintangan dakwah. Tantangan dan rintangan dakwah akan terus ada. Ketidaksukaan terhadap dakwah juga akan terus ada, bahkan bisa jadi ketidaksukaan itu datang dari umat Islam sendiri.

Itu sebabnya, dakwah tidak bisa dipisahkan dari upaya merebut hati. Untuk bisa merebut hati, maka dakwah harus dilakukan dengan cara-cara seperti diamanahkan Rasulullah SAW, yakni dengan makruf. Jika ada yang mengasari, balaslah dengan kebaikan. Itulah inti dakwah, yakni menyemai bibit kebaikan.
Akan tetapi, kehadiran medsos, adalah sebuah kenyataan, tidak bisa dihambat, apalagi dihilangkan. Medsos adalah bagian dari perjalanan dunia. Oleh sebab itu, kita tidak perlu antipati pada medsos. Justru, kita harus memanfaatkan medsos untuk dakwah, yakni menjadikannya sebagai sarana untuk menyemai pesan kebaikan. (H Bazari Syam/Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Provinsi Banten)*


Sekilas Info

MENGENAL IDENTITAS SANTRI

Oleh: Kholid Ma’mun Mendapatkan kesempatan belajar di pesantren adalah sebuah kenikmatan yang besar, karena banyak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *