”Menyandera” Tuhan

Fauzul Iman, Rektor UIN SMH Banten.*

Fauzul Iman

Gegap gempita dan hingar bingarnya syiar ibadah Ramadan tahunan yang biasa tampil ke permukaan masih tetap terasa. Sedikit terganggu karena virus corona ikut disyiarkan namanya di tengah perayaan spiritual umat. Sebagian masyarakat geregetan atas reaksi virus yang telah mentransendensi syiar Ramadan. Sebagian lagi mengikuti arus virus yang telah dikapling (high light) sebagai badai besar yang akan mempetakai Ramadan.

Skismatika sosial ini terjadi karena masih ada sosio keagamaan umat yang dikendalikan mesin hasrat ( desire mechanism) untuk merayakan citra Ramadan ( image celebration). Ramadan disyiarkan oleh mesin hasrat begitu kuat seakan ruang sakral yang tiada bandingannya dengan ruang-ruang lain.

Umat pada kelompok ini dengan penuh khidmat merayakan Ramadan tanpa perlu terganggu oleh apapun. Bahkan mereka meyakini momentum Ramadan merupakan ruang previlege dari Tuhan. Di ruang ini Tuhan mengutus para malaikat untuk memborgol para setan jahat yang akan mengganggu para pelaku puasa.

Siapapun dari umat manusia yang berlumuran dosa — lebih-lebih yang salih–akan ditemani dan dijaga ketat para malaikat untuk melakukan ibadah puasa sehingga akan terbebaskan dari dosa-dosa teranyar maupun dosa yang telah diperbuat sebelumnya. Tak pelak lagi kemudian Ramadan menjadi ruang pertobatan agung yang paling dramatik bagi seluruh strata dan segmentasi sosial kehidupan.

Sejak pemabuk, penzina, penyamun dan sejenisnya yang dahulunya jaga jarak dengan ritualitas ibadah, saat bulan Ramadan tiba mereka mulai getol melibatkan diri ke dalam aktivitas ritual Ramadan. Dari keterlibatannya sebagai peserta buka puasa bersama, salat tarawih berjamaah hingga menawarkan diri menjadi panitia gerakan zakat, infak dan sedekah.

Seperti biasa di bulan Ramadan ini juga ramai di kediaman para pengusaha kaum fakir dan miskin menerima santunan zakat yang sengaja di undang bersama kamerawan televisi yang meliputnya. Disinyalir berdasarkan info teman dekat yang duduk di lembaga-lembaga zakat, tidak jarang di bulan Ramadan ini banyak dari koruptor yang dahulunya pejabat tinggi dan politisi dengan rela mengeluarkan uang dari koceknya untuk dizakatkan lewat lembaga filantropi tersebut.

Semarak ritual Ramadan yang demikian dramatik mampu menyedot peminat ritual di hampir semua lini sigmen karena bulan Ramadan telanjur diklaim sebagai bulan Tuhan (syahrullah). Sayangnya bulan Tuhan dipahami sebagian umat merupakan bulan suci. Bulan berkah dan bulan ijabah. Di bulan ini Tuhan hadir secara khusus melindungi Hamba-Nya dan melakukan pembebasan dosa terhadap siapapun yang serius bertobat dan disertai sejumlah amalan Ramadan.

Setelah bulan Ramadan usai. Tidak dijumpai lagi di bulan lain Tuhan spesifik lagi Maha Agung. Tuhan seakan disandera di ruang terbatas dan diletakkan dalam kotak Ramadan secara sempit. Padahal Tuhan Maha Besar berada di mana-mana merahmati dan mentransendensi seluruh ruang alam yang tak terbatas.

Pandangan keliru ini menyebabkan sebagian umat di tengah wabah pandemi mengabaikan protokol kesehatan karena merasa di bulan suci Tuhan sangat spesifik menjamin dan melindungi dari virus/wabah jahat yang hendak mempetakai Ramadan. Lalu para kaum elite dan para penjahat yang kembali ke jalan suci di bulan Ramadan, menurut imanual Kant dalam bukunya Critique of Pure Reason, ketika daya nalar sudah tidak lagi mampu merumuskan hukum logika dan ilmu pengetahuan, orang pada akhirnya meloncat pada kebutuhan iman.

Kebutuhan iman yang amat fragmatis dan insidential ini boleh jadi permanen mengawal kesadaran mereka pada kualitas keimanan yang berkelanjutan dan boleh jadi hanya sekadar menempuh kebahagiaan kimiawi ( biochemical happines). Jenis kebahagiaan kimiawi ini serupa dengan obat penenang yang hanya digapai secara temporer karena terbius oleh bulan Tuhan.

Adalah tidak keliru apabila dijumpai usai Ramadan banyak umat yang kambuh ke habitat keburukannya semula karena bulan Ramadan telanjur dicitrakan sebagai bulan Tuhan (image celebration), yaitu bulan yang menyandra Tuhan. Inilah barangkali yang dimaksud dengan firman Allah, ” dan telah diresapkan pada hati mereka menyembah anak sapi karena kecintaannya pada kekafiran” (Q.S . 2 : 91). (Penulis, Rektor UIN SMH Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here