Senin, 23 April 2018

Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan Siswa

MATA pelajaran kewirausahaan di sejumlah sekolah, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saat ini kurang diminati oleh siswa. Salah satu penyebabnya, karena sebagian besar siswa lebih berkeinginan menjadi pekerja, dibanding menjadi seorang enterpreneur atau berwirausaha.

Hal tersebut seperti disampaikan guru Kewirausahaan di salah satu SMK di Kota Serang, Yuli. Menurutnya, saat ini jiwa kewirausahaan siswa memang mengalami kemerosotan. Ia melihat, dibanding memiliki usaha sendiri, siswa sekarang lebih banyak menyukai untuk bekerja bersama orang lain atau bekerja di sebuah perusahaan.

“Saya kira perlu upaya menumbuhkan kembali jiwa kewirausahaan siswa. Upaya itu tentu perlu dukungan dari semua pihak, tidak hanya sekolah,” katanya, Rabu (11/4/2018). Menurutnya, kewirausahaan merupakan suatu proses untuk mengembangkan atau menerapkan suatu ide inovatif dalam memanfaatkan peluang mendapatkan sesuatu yang bernilai. Sehingga, pengembangan potensi itu sangat baik diterapkan dalam diri sebagai bentuk manajerial dalam kehidupan.

“Banyak orang yang keliru menganggap berwirausaha itu hanya berdagang saja. Padahal, berwirausaha itu bisa berupa apa saja,” ujarnya. Perlu mengubah manset pikiran agar siswa memiliki jiwa berwirausaha sejak dini. Karena sekarang ini, ketika lulus sekolah, anak-anak lebih menyukai sesuatu hal yang serba instan, yaitu lebih memilih bekerja menjadi buruh, dibandingkan membuka usaha atau berwirausaha.

“Memang iya, sekolah adalah untuk mencetak siswa agar memiliki suatu keahlian sebagai bekal menghadapi dunia kerja. Tapi akan lebih baik, jika siswa berinovasi untuk membuka usaha dan memiliki usaha sendiri. Dengan begitu dapat memberikan kesempatan kerja bagi orang lain,” ucapnya.

Selain itu, lanjut dia, dengan berwirausaha pendapatannya pastinya akan berbeda. Ketika menjadi pekerja, maka penghasilannya hanya mengandalkan gaji dari perusahaan yang diterima setiap bulan dengan nilai gaji yang sama. Sedangkan menjadi pengusaha pendapatannya tak terbatas, bergantung dari diri inovasi sendiri. “Kalau ingin berpenghasilan banyak, usahanya lebih rajin dan waktupun kita yang menentukan. Beda dengan pekerja,” tuturnya.

Bagi sebagian orang, berjualan atau berwirausaha bukanlah suatu pekerjaan, melainkan sebuah profesi. Sedangkan menjadi buruh adalah suatu pekerjaan yang bisa disebut bekerja. Namun, tak jarang orang merasa malu jika dirinya berjualan atau usaha sendiri. Berbeda jika dirinya bekerja sebagai buruh, dengan pakaian rapi. Tetapi waktu diatur perusahaan dan pendapatan terbatas.

“Kalau kita lihat, pemikiran seorang wirausaha lebih kreatif dan inovatif serta memiliki tantangan bagaimana ia bisa mengembangkan usahanya. Ya kalau buruh, begitu saja seterusnya,” ujarnya. (Rizqi Putri/Galuh Malpiana)*


Sekilas Info

Hipmi Diminta Cetak Pengusaha Muda

SERANG, (KB).- Pemerintah Provinsi Banten siap mendorong Himpunan pengusaha muda (Hipmi) Banten dalam menciptakan pengusaha-pengusaha muda …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *