Menumbuhkan Ekonomi Pedesaan Melalui BUMDes

Pemerintah melalui Kementerian Desa PDTT telah menetapkan empat prioritas penggunaan dana desa untuk 2018 yakni pengembangan produk unggulan kawasan pedesaan, embung dan sarana olah raga, serta pengembangan BUMDes atau BUMDes Bersama Berdasar Permendesa No. 19/2017 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa 2018.

Berbagai kegiatan atau program yang bisa dilakukan desa dengan dana desanya adalah mendukung dari sisi permodalan pada pengelolaan usaha ekonomi yang produktif, menjalankan peran distribusi dan pemasaran bagi usaha pertanian yang produktif dan usaha lainnya yang arahnya adalah pembentuukan produk unggulan desa atau produk unggulan kawasan desa dalam BUMDes Bersama Sejalan dengan program prioritas.

Pemerintah Kabupaten Lebak mendorong Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menumbuhkan ekonomi masyarakat pedesaan sehingga dapat mengendalikan kemiskinan dan pengangguran. “Kita yakin BUMDes dapat meningkatkan pendapatan ekonomi warga melalui berbagai usaha kerajinan maupun ‘home industry’,” kata Kepala Bidang Usaha Ekonomi Masyarakat Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Lebak Dede Sutisna di Lebak, Jumat,(24/11/2017).

Menurutnya, Pemerintah daerah mendorong masyarakat pedesaan agar mampu memiliki jiwa kewirausahaan berbasis potensi daerah, mengingat Kabupaten Lebak memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah dan bisa dijadikan bahan baku kerajinan usaha masyarakat. “Bahan baku itu, antara lain komoditas pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan pertambangan. Selain ituLebak memiliki potensi pariwisata yang luar biasa, di antaranya wisata pesisir pantai, budaya masyarakat Baduy, dan wisata alam. Potensi usaha itu, tentu dapat dikelola oleh masyarakat melalui pembentukan BUMDes, sehingga bisa menyerap lapangan pekerjaan baru bagi warga dan mengantisipasi urbanisasi ke luar daerah maupun luar negeri,” ujarnya.

Dijelaskan, saat ini, usaha yang dikelola BUMDes di Kabupaten Lebak, di antaranya kerajinan jamur, abon ikan, makanan olahan dan camilan, kerajinan bambu, telur asin, kerupuk emping, dan tikar pandan. Disamping itu ada pula wisata Pantai Sawarna di Kecamatan Bayah, Pusat Kerajinan Sale Pisang Kecamatan Cilograng, dan Plaza Komoditas di Kecamatan Cibadak.

Begitu juga usaha perdagangan kebutuhan bahan pokok dan jasa sewa alat tenda, kursi, dan hiburan untuk perkawinan. “Semua usaha masyarakat itu dikelola melalui BUMDes sehingga dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat pedesaan juga lapangan pekerjaan,” tuturnya

Dede mengatakan saat ini BUMDes di Kabupaten Lebak tumbuh danberkembang dan tercatat 175 dari 340 desa. “Kemungkinan BUMDes terus berkembang, meski tidak diwajibkan, tapi dalam mengelola aset untuk meningkatkan Pendapat Asli Desa (PADes). Kehadiran BUMDes dapat menggali dan mengelola potensi desa sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,”ucapnya.

Ditambahkan, Pemerintah daerah mengapresiasi BUMDes yang dikelola di sejumlah desa di Kecamatan Cilograng dan Kecamatan Cibadak, yang berhasil mengelola aneka usaha kerajinan masyarakat sehingga berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat. Bahkan, BUMDes di Desa Kadu Agung Barat, Kecamatan Cibadak yang dialokasikan Rp40 juta dari dana desa mengelola usaha jamur tiram.

“Dengan berkembangnya usaha di desa itu tentu anak-anak tidak mencari kerja ke luar daerah. BUMDes bisa menjalin kerja sama dengan perbankan untuk menerima penguatan modal melalui dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) maupun lembaga perbankan lainnya.Pengembangan usaha itu membutuhkan penguatan modal. Kami berharap BUMDes bisa kerja sama dengan bank pemerintah untuk menerima program KUR karena pengembalian bunga relatif kecil,” katanya. (Nana Djumhana) ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here