MENUJU PEMERINTAHAN YANG AMANAH

Amanah dapat diartikan sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Dalam kaitanya dengan pemerintahan yang demokratis amanah yang diemban oleh aparatur pemerintahan itu bersumber dari rakyat. Ini yang disebut dengan prinsip kedaulatan rakyat.

Untuk mewujudkan sebuah pemerintahan yang demokratis tentu mekanismenya adalah dengan menyelenggarakan pemilihan umum yang berdasarkan kejujuran, transparan dan keadilan. Hasil dari pemilihan adalah mandat untuk pemimpin pemerintahan.

Mandat adalah sebuah amanah yang harus betul-betul dijaga, dipelihara dan dijalankan dengan sebaik-baiknya. Suatu bentuk pemerintahan yang amanah dalam konteks demokrasi adalah suatu sistem kekuasaan yang dikekola oleh sejumlah orang yang dipilih oleh rakyat.
Syarat dan kunci utama untuk menciptakan sebuah pemerintahan yang amanah adalah rule of law, maka dengan adanya rule of law inilah akan terwujud good government.

Bergulirnya reformasi secara otomatis menuntut terciptanya berbagai bentuk perubahan dari segala hal yang negatif dari berbagai segi bidang kehidupan. Kita sebagai rakyat tentunya sangat berharap, siapapun nanti yang akan menjadi pemimpin baik dalam cakupan Kab/ Kota, privinsi ataupun skala Nasional, maka ia harus sadar bahwa jabatan adalah sebuah amanah yang harus ditunaikan.

Satu peringatan keras dari Nabi saw. Dalam sebuah hadis “apabila amanat telah disia-siakan maka tunggulah saatnya. Sahabat bertanya: “apakah maksudnya ya Rasullah? Nabi menjawab: “apabila suatu urusan telah diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancuranya. HR. Al Bukhari.

Untuk membentengi dan menjaga persatuan, kesatuan bangsa, pemerintahan harus dikelola dengan benar dan sebaik-baiknya sesuai dengan amanah yang telah diberikan oleh rakyat. Menurut Imam Al Ghazali amanah adalah sebagai moral politik bukan prinsip politik. Al Ghazali mengecam keras setiap kepala negara dan pejabat pemerintahan yang menciderai kejujuran dalam jabatanya. Bahkan ia menyampaikan nasehat agar rakyat tidak taat, tunduk kepada penguasa dzalim, hal ini sesuai dengan sebuah pesan Nabi “kekuasaan dapat kekal beserta kekufuran, tetapi tidak bisa kekal dengan kedzaliman”.

Dalam ungkapan yang lain Al Ghazali menyampaikan, untuk menciptakan dunia yang utuh dibutuhkan empat unsur dalam masyarakat, pertama, bimbingan ulama, ini adalah sebuah isyarat bahwa untuk mengatur suatu bangsa dan negara dibutuhkan peran ulama untuk membimbing dan bersinergi kepada umara, atau bisa juga dengan ikut terjun langsung kedalam lembaga-lembaga negara. Kedua, keadailan para penguasa, ketiga para pemilik modal, konglomerat dan yang ke empat, do’a dari rakyat yang tiada henti.

Sebagai gambaran tentang beratnya amanah, dulu sahabat Abu Dzar pernah meminta jabatan kepada Nabi, lalu Nabi berkata kepada Abu Dzar: “Hai Abu Dzar! Engkau ini sangat lemah, sedangkan pekerjaan itu adalah amanah yang pada hari kiamat nanti akan dipertanggung jawabkan dengan penuh resiko kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang-orang yang memenuhi syarat dan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. HR. Imam Muslim

Sangat berat tanggung jawab seorang pemimpin dihadapan Allah, sebagaimana yang terungkap dalam peringatan Nabi: “Tiada seorang hamba yang dipercayakan oleh Allah untuk mengurus rakyatnya, kemudian ia mati, sedang pada hari kiamat ia masih dalam keadaan menipu rakyatnya, Allah mengharamkan surga baginya. HR. Imam Muslim.

Dalam tinta sejarah kepemimpinan Islam, ada banyak profil pemimpin yang patut di teladani oleh setiap orang yang ingin membentuk masyarakat yang adil makmur, diantaranya adalah sahabat Umar bin Khatab ra., hidupnya sangat sederhana, dalam satu keterangan disampaikan pakaian yang ia kenakan terdapat 21 tambalan, disebutkan juga hadiah yang dikirimkan oleh Gubernur Utbah bin Farqad ia kembalikan agar dinikmati rakyatnya. Umar ialah orang pertama yang lapar jika rakyatnya lapar, dan orang terakhir yang kenyang jika rakyatnya kenyang.

Ia adalah seorang yang mendapat anugerah hati nurani yang sangat peka dengan keadaan, tercermin dalam falsafah hidupnya, “Bagaimana aku bisa mengurusi orang-orang itu, apabila apa yang menimpa mereka tidak menimpa diriku.”

Semoga masyarakat dan bangsa kita tumbuh dan berkembang menjadi masyarakat dan bangsa yang cerdas dalam menentukan pilihan, tidak terpancing dengan politik uang yang kotor, dapat membaca keadaan dan situasi bangsanya sehingga mereka mendapatkan pemimpin yang amanah dalam jabatan dan mampu mensejahterakan bangsa dan rakyat yang dipimpinnya. Wallahu ‘alam bisshawab. (Kholid Ma’mun/Pengajar di Ponpes Modern Daar El Istiqomah Kota Serang dan Pengurus FSPP Provinsi Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here