Menolak Politik Uang

Masudi SR.*

Oleh : Masudi SR

Setiap kali memasuki masa pemilihan jabatan politik di ruang publik, seperti kepala daerah, anggota legislatif atau jabatan lain, soal politik uang selalu mendapat perhatian lebih. Ada yang ingin meredam persebarannya karena dianggap merusak tata nilai berdemokrasi. Namun tidak sedikit pula yang ingin (baik secara diam-diam atau terang-terangan) menikmatinya.

Dalam dunia politik elektoral, politik uang telah menjadi salah satu cara atau strategi meraih simpati dan dukungan dari pemilih. Sudah banyak penelitian yang dilakukan guna memotret bagaimana cara kandidat memengaruhi preferensi politik masyarakat pemilih. Termasuk bagaimana “mengandangkang” basis suara yang diproyeksikan menjadi pemilih nantinya.

Sebenarnyalah, tanpa perlu sebuah penelitian yang rumit sekalipun, kita bisa menyaksikan dengan jarak terdekat bagaimana kedekatan para kandidat, tim pemenangan, dan pemilih dalam satu rangkaian relasi. Seperti apa mata rantai dibangun, siapa yang berada di panggung depan dan siapa yang berada di balik layar. Dengan cara apa mata rantai itu bergerak mendistribusikan material kepada pemilih.

Begitupun, menarik membaca hasil penelitian bagaimana politik elektoral bekerja di akar rumput. Edward Aspinall dan Mada Sukmajati dalam buku Politik Uang di Indonesia; Patronase dan Klientalisme pada Pemilu Legislatif 2014, menggambarkan mekanisme perilaku politik uang bekerja. Buku yang berisi hasil penelitian diberbagai daerah itu mengulas bagaimana para kandidat dan organisasi/kendaraan politik yang digunakan menjangkau para pemilih dan memenangkan suara mereka.

Menurut Aspinall, ada beberapa bentuk pertukaran keuntungan demi memperoleh keuntungan politik yang dilakukan para kandidat. Pertama, pembelian suara (vote buying). Praktik ini dibanyak tempat dilakukan dengan terorganisir dan sistematis. Waktunya tidak lagi terbatas pada sesaat sebelum pencoblosan (subuh atau pagi hari yang dikenal dengan istilah serangan fajar). Jauh hari sebelum hari pencoblosanpun, seperti pada masa tenang, kegiatan pembelian suara dilakukan.

Kedua, pemberian-pemberian pribadi (individual gifts). Biasanya dilakukan untuk mendukung upaya pembelian suara yang lebih sistematis, sehingga memberikan daya tekan yang efektif. Praktik ini dilakukan kandidat ketika bertemu dengan pemilih, kunjungan ke rumah warga, atau pada kampanye terbatas. Pemberian yang diberikan umumnya dalam bentuk benda atau barang, seperti sarung, bahan sembako, peralatan ibadah (sajadah, mukena, peci, dan Alquran).

Pemberian yang mengarah ke personal ini sebisa mungkin harus menyentuh sisi humanis. Itu sebabnya terkadang tidak jarang kandidat melakukan hal yang kecil dan remeh temeh, seperti membayarkan makan dan minum pemilih. Harapannya terbangun hubungan sosial-personal yang lebih erat dengan pemilih.

Ketiga, pelayanan dan aktivitas (services and activities). Kandidat bersama tim sukses seringkali menjadi penyadang dana bagi kegiatan-kegiatan yang dilakukan komunitas. Misalnya saja donor darah, demo memasak, pertandingan olah raga, forum pengajian, dan kegiatan sejenis lainnya. Ada yang memfasilitasi pelayanan pengobatan murah bahkan gratis, ambulans keliling, termasuk kegiatan lingkungan.

Keempat, barang-barang kelompok (club goods). Politik uang model ini, penerimanya lebih diarahkan kepada kelompok atau komunitas bukan kepada personal. Seorang calon atau kandidat yang mendatangi sebuah komunitas selalu disertai dengan membawa barang-barang yang disesuaikan dengan kebutuhan kelompok dimaksud. Tidak jarang dalam kunjungan kelompok ini, ada pemberian sumbangan untuk memperbaiki sarana tempat atau gedung.

Kelima, proyek-proyek gentong babi (pork barrel projects). Cara ini umumnya dilakukan para petahana dengan mengalokasikan kegiatan pemerintah yang diarahkan kepada wilayah geografis tertentu. Ada juga dalam bentuk janji program atau proyek yang ditujukan kepada kelompok konstituen. Pengelolaan paket kegiatan yang pendanaannya bersumber dari dana publik itu diberikan dengan harapan publik akan memberikan dukunga politik berupa suara.

Semua bentuk pertukaran keuntungan politik tersebut, bermuara pada bagaimana agar dukungan suara dari pemilih diperoleh sebesar mungkin. Praktik ini dilakukan melibatkan banyak pihak, mulai dari tim sukses sampai broker dengan beragam statusnya. Ada yang oknum pejabat pemerintah, penyelenggara, tokoh masyarakat, agama, tokoh adat dan lainnya. Semua membentuk jejaring yang saling terhubung. Mandatnya utama adalah mendistribusikan uang atau materi, membangun citra positif, dan mobilisasi pemilih.

Pembusukan demokrasi

Ditinjau dari aspek mana pun, praktik politik uang tidak membawa manfaat apapun. Sebaliknya, cara ini mengandung mudharat yang maha dahsyat. Pelakunya layak dikategorikan sebagai perusak sistem, tata nilai, dan sendi kehidupan berdemokrasi. Ia telah secara nyata dan sadar menodai kompetisi yang jujur, bersih, dan adil. Jika berlangsung dalam jangka panjang, demokrasi akan membusuk.

Demokrasi perlu diselamatkan dengan cara membersihkan gelanggang pemilihan dari cara-cara kotor meraih kekuasaan. Pemilihan umum bukan tempat pertukaran keuntungan politik. Ia tempat pertukaran gagasan dan impian masa depan masyarakat beradab. Tempat diberikannya reward and punishment terhadap mereka yang pernah dititipkan kepercayaan mewujudkan gagasan dan impian masa depan.

Sementara itu, politik uang meniadakan pertarungan gagasan dalam sebuah pemilihan. Yang dipilih bukan mereka yang memiliki rekam jejak bagus, bersih dari perilaku korup, punya kapasitas moral-intelektual.Tidak jarang yang terpilih adalah sosok dengan rekam jejak hitam, kapasitas intektual minimalis, perusak lingkungan hidup atau pencoleng uang rakyat. Tetapi mereka punya banyak uang untuk membeli suara pemilih.

Karenanya, harus ada ikhtiar yang serius menghambat gerak maju praktik ini. Perlu ada penataan ulang norma hukum yang mengatur pemilihan agar tidak berbiaya tinggi. Termasuk antisipasi yang efektif bagaimana menanganinya sehingga bisa berdampak bagi partai politik, pelaku, dan jejaringnya. Tanpa menyelesaikan akar persoalannya secara serius, praktik politik uang bertambah masif dan publik semakin permisif. (Penulis, Anggota KPU Provinsi Banten 2018-2023)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here