Kamis, 15 November 2018
Museum Multatuli

Menjelajah Sejarah di Museum Multatuli

MUSEUM Multatuli yang berada di Kabupaten Lebak tepatnya di Alun-Alun Timur Nomor 8 Rangkasbitung merupakan sebuah museum anti kolonialisme pertama di Indonesia. Museum yang mengenang tokoh Belanda penolak kolonialisme tersebut, menampilkan sejarah kolonialisme dan antikolonialisme dari berbagai sisi.

Museum Multatuli berdiri di bangunan bekas Kewedanaan, Lebak. Bangunannya sangat mudah ditemui jika Anda berkunjung ke Kota Rangkasbitung, di sisi kanan Kantor Bupati dan berdampingan dengan Perpustakaan Saidjah dan Adinda, perpustakaan daerah terbesar di Banten.

Dalam museum dengan luas 1.842 meter persegi tersebut, terdapat banyak barang bersejarah milik Eduard Douwes Dekker, pemilik nama asli Multatuli. Koleksi seperti novel Max Havelaar edisi pertama yang masih berbahasa Prancis (1876), tegel bekas rumah Multatuli, litografi/lukisan wajah Multatuli, peta lama Lebak, arsip-arsip Multatuli, dan buku-buku lainnya.

Yang menarik, ialah terdapat bukti fisik, surat-menyurat Multatuli dengan pejabat Hindia-Belanda tentang kondisi masyarakat Lebak, foto-foto, serta novel Max Havelaar terbitan pertama. Alun-alun Rangkasbitung yang dikelilingi gedung pemerintahan juga Masjid Agung Al-Arraf, penjara, serta rumah dan perpustakaan tersebut, untuk menghormati Multatuli.

Pemerintah daerah setempat memang sudah lama menjalin kerja sama dengan Perhimpunan Multatuli (Multatuli Genootschap) di Belanda. Hal tersebut, untuk menduplikasi sejumlah dokumen terkait Eduard Douwes Dekker.

Museum Multatuli memiliki tujuh ruangan yang terbagi menjadi empat tema. Keempat tema tersebut, yaitu sejarah datangnya kolonialisme ke Indonesia, Multatuli dan karyanya, sejarah Lebak dan Banten, serta perkembangan Rangkasbitung masa kini.
Kepala Seksi Cagar Budaya dan Museum, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kabupaten Lebak, Ubaidillah Muchtar menyebutkan, konten di museum dibuat secara interaktif dan informatif, seperti ruangan audiovisual serta labirin.

Pada bagian luar museum terdapat monumen interaktif Multatuli, Saija dan Adinda. Berbagai aktivitas yang bisa dilakukan pengunjung, ialah dapat menikmati ruang audiovisual serta labirin yang sangat informatif. Melihat dan mendengarkan sejarah dengan peralatan modern, mulai dari layar LCD serta alat pedengar atau headset.

Museum Multatuli menyediakan berbagai informasi yang luas, seperti sejarah, pengetahuan, artefak, buku-buku, foto, podcast, infografis, multimedia, dan gambar.  Jadi, untuk kalian yang akan berkunjung ke Rangkasbitung wajib untuk mampir ke Museum Multatuli. Karena, di sini kalian akan tahu bagaimana sejarah yang terjadi pada masa penjajahan serta perjuangan Eduard Douwes Dekker dalam membela masyarakat Lebak demi kemerdekaan mereka.

Ada sebuah pertanyaan, untuk apa sejarah ditulis? Sebagian masyarakat menjawab, agar anak serta cucu kita tahu bagaimana awal mula sebuah cerita ataupun tempat, bahkan orang yang berpengaruh pada masanya. Bagi kalian yang akan berkunjung, Museum Multatuli tersebut, buka setiap Selasa hingga Ahad, mulai pukul 08.00 WIB sampai dengan 16.00 WIB. (Rizki Putri)*


Sekilas Info

Nelayan Dilarang Tangkap Benur, Pemerintah Didesak Berikan Solusi

LEBAK, (KB).- Sejumlah nelayan di Binuangeun, Kecamatan Wanasalam, meminta pemerintah memberikan solusi terbaik untuk para nelayan, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *