Rabu, 16 Januari 2019

Menjaring Wisatawan Melalui Festival Wewengkon Desa Warungbanten

WARUNGBANTEN, sebuah desa di Kecamatan Cibeber yang sarat dengan prestasi, seakan tak pernah kering dengan ide dan kreativitas untuk mencuatkan nama desa yang berada di ujung selatan Kabupaten Lebak. Dipenghujung tahun 2018 lalu, desa yang dipimpin Kepala Desa (Kades) Rohandi itu berhasil menjaring wisatawan dari berbagai komunitas literasi melalui Festival Wewengkon Desa Warungbanten yang dihelat di halaman kantor Desa Warungbanten.

Festival yang digelar sebagai ungkapan rasa syukur itu dihadiri para penggiat literasi Banten, seperti Motor Literasi, Forum TBM Banten, Relawan Kedai Proses, Kelompok Mahasiswa dari Untirta, Banten Raya, STKIP Setia Budhi, dan IPB. Tokoh Nasional seperti Abdon Nababan dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Firman Venayaksa, Ketua Forum TBM Nasional, John Pluto dari Yayasan Bina Desa, Boni dari Sawit Watch dan Aji Panjalu dari Jaringan Kerja pemetaan Partisipatif (JKPP) Bogor.

Festival Wewengkon Desa Warungbanten dihelat dengan penuh kekhasan layaknya sebuah desa adat, dengan melibatkan seluruh eleman masyarakat desa, terutama tokoh masyarakat Kaolotan Adat Cibadak.

Salah satu peserta Festival Wewengkon Desa Warungbanten, Budi Harsoni mengatakan, seluruh hidangan yang disajikan termasuk makanan tradisional yang masih diolah dan dikonsumsi oleh warga pada setiap acara kenduri seperti carucub, bubur sair, bangkerok, bakecrot, putri noong dan sudah pasti dodol, uli serta beragam jenis minuman, mulai dari kopi dan teh, hingga minuman khas wedang berupa olahan gula aren yang masih cair disediakan secara gotong royong olah warga.

Beragam rangkaian hiasan janur (daun kelapa muda), bubuai (bunga rotan), dan bingbin (bunga pohon aren) bertebaran diseluruh penjuru desa. Termasuk gerai pameran yang diperuntukkan untuk memamerkan produk-produk kreatif karya warga Desa Warungbanten seperti kerajinan anyaman bambu, kanderon, miniatur leuit, miniatur kongkorak, wayang golek, juga kerajinan alat musik, angklung buhun, gambang, biola, kendang, kacapi dan suling. Selain itu, terdapat lantaian (bambu tempat mengaitkan ikatan padi atau pocongan) dan leuit mini yang menjadi properti tempat untuk berswafoto.

Festival menampilkan beberapa kesenian tradisional khas Kaolotan Cibadak, yakni kesenian rengkong, gegendeh, dan angklung buhun serta dibacakan narasi yang mengiringi pada setiap masing-masing penampilan. Seluruhnya ditampilkan oleh warga Desa Warungbanten yang dalam usia mereka yang sudah terlihat sepuh tapi masih sangat bersemangat.

Sebagai ungkapan rasa syukur dalam Festival Wewengkon dipamerkan sejumlah prestasi dan penghargaan. Selama kepemimpinan Ruhandi, dalam tiga tahun terakhir Desa Warungbanten telah banyak meraih prestasi. Selama bulan Mei 2017.

Pada acara puncak Hari Aksara Internasional 2018 di Deli Serdang, Sumatera Utara, 8 September 2018, Ruhandi menerima penghargaan dari Muhadjir Effendi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebagai TBM Kreatif Rekreatif; Penghargaan Desa Prakarsa dan Inovasi Terbaik dari Kemendes PDTT, Kamis 29 November 2018; dan terkahir Penghargaan Satu Indonesia Awards 2018 untuk kategori Inovasi Desa melalui Pertanian Alami dari PT Astra Internasional.

Festival ini digagas oleh Ruhandi Kepala Desa Warungbanten bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan karunia-Nya dalam berbagai capaian kinerja pemerintahan desa, baik pembangunan infrastruktur maupun sumber daya manusia. Selain itu, festival juga bermaksud melakukan syukuran atau selamatan atas selesainya pembangunan kantor desa yang dibiayai oleh APBDes dan bantuan dari seorang dermawan yang tidak ingin disebutkan namanya.

Menurut Ruhandi, Festival Wewengkon bertujuan untuk merefleksi kembali perjalanannya selama menjadi kepala desa. Memulai langkahnya dengan membangun gerakan literasi hingga ke praktik pola pertanian alami dan melakukan pemetaan batas-batas desa bekerja sama dengan Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP) Bogor.

”Awal saya menjadi kades, langkah yang saya tepuh adalah membangun gerakan literasi dengan pendampingan dari Penggiat Literasi Lebak, Bang DC Aryadi. Kemudian saya bertemu dengan Pak Firman Venayaksa dan diajak berkenalan dengan Menteri Desa di kantornya bersama Najwa Shihab. Dalam waktu yang bersamaan saya juga berkenalan dengan Yayasan Bina Desa melalui Kang Aji yang kemudian melakukan pemetaan batas-batas desa. Jadi Desa Warungbanten sudah punya Peta Desa,” kata Jaro Ruhandi.

Asda III Pemkab Lebak Dedi Indepur menyampaikan apresiasi kepada Pemerintahan Desa Warungbanten yang telah berhasil menjalankan program pembangunan yang sejalan dengan visi dan misi Kabupaten Lebak.

”Desa Warungbanten telah berhasil menjalankan program pembangunan dengan cara sangat demokratis dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat desa. Dimana pertanian alami digalakkan oleh warga, gerakan literasi masyarakatnya tumbuh dan berkembang dengan melibatkan jaringan kerja sama antar penggiat serta serta potensi ekonomi yang juga terangkat. Hal itu sesuai dengan visi misi Pemerintahan Kabupaten Lebak yaitu Lebak Sehat, Lebak Cerdas dan Lebak Sejahtera,” ucap Dedi.

Abdon Nababan mengungkapkan kesannya menghadiri Festival Wewengkon, termasuk suguhan kemewahan kuliner khas Kaolotan adat Cibadak yang dihasilkan dari kebun dan pertanian alami.

”Salah satu prioritas Desa Warungbanten adalah pengembangan pertanian alami. Sebuah metode yang telah dijalankan oleh para leluhur kita. Maka empat hal pokok yang harus dijaga oleh Jaro Ruhandi yaitu tradisi adat, tanah wilayah adat, pengetahuan adat dan sistem demokrasi adat yang berlangsung selama turun temurun, bukan sistem demokrasi liberal seperti sekarang ini,” tutur Abdon. (Dini Hidayat)*


Sekilas Info

Berwisata Edukasi di Museum Multatuli dan Perpustakaan Saija Adinda

Selain ragam potensi wisata alam yang dimiliki, Kabupaten Lebak memiliki sejumlah destinasi wisata buatan, baik …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *