Rabu, 21 November 2018

MENIMBANG MASLAHAT DAN KEADILAN DALAM ISLAM

Betapa besar kedudukan kaidah hukum Islam dalam kaitanya dengan upaya menjaga eksistensi dan relevansi agama Islam, Ibn al-Qayyim menegaskan bahwa hal itu merupakan sesuatu yang amat besar manfa’atnya. Karena tanpa mengetahui kaidah tersebut akan terjadi kekeliruan besar dalam pandangan atau penilaian terhadap hukum Islam dan akan menimbulkan kesulitan dan kesempitan yang tidak dikehendaki oleh hukum Islam itu sendiri. Sebab prinsip hukum Islam adalah untuk mewujudkan kemaslahatan didunia dan akhirat.

Tujuan hukum syara’ (Allah) menurut Imam Muhammad Abu Zahrah: “Syariat Islam datang dengan membawa rahmat bagi umat manusia”. Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah swt:
Artinya: “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam” (al Anbiya:107) juga firman Allah swt.: Artinya:“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembah bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Yunus: 57)

Oleh karena itu, ada tiga sasaran hukum Islam: (1). Penyucian jiwa (tahzibu al fardi), agar setiap muslim bisa menjadi sumber kebaikan –bukan sumber keburukan- bagi masyarakat lingkunganya. Hal ini ditempuh melalui berbagai ragam ibadah yang di syari’atkan, yang kesemuanya dimaksudkan untuk membersihkan jiwa serta memperkokoh kesetiakawanan sosial. Ibadah-ibadah itu dapat membersihkan jiwa dari kotoran-kotoran (penyakit) dengki yang melekat dihati manusia. Dengan demikian akan tercipta suasana saling mengasihi, bukan saling berbuat zalim dan keji diantara sesama muslim. Dalam hubungan ini Allah swt berfirman: Artinya: “sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaanya dari ibadah-ibadah yang lain) (al Ankabut: 45).

Dalam ayat diatas disampaikan bahwa Ibadah shalat yang dikerjakan secara berjama’ah memiliki fungsi membersihkan jiwa masyarakat, baik secara individual maupun kelompok. Begitu pula ibadah puasa dan haji. Ibadah haji dengan amat jelas mengandung implikasi ketertiban masyarakat (at tanzhim al ijtima’y), sedang zakat dalam pengertianya yang lebih mendalam mengandung aspek ta’awun (kesetiakawanan sosial) antara si kaya dan si miskin. Karena itu, Nabi Muhammad saw. Dalam memberikan instruksi kepada para petugas pengumpul zakat mengatakan: “ambilah zakat dari orang-orang kaya, dan berikanlah kepada orang-orang fakir”.

(2). menegakkan keadilan dalam masyarakat Islam: adil baik menyangkut urusan diantara sesama kaum muslimin maupun dalam berhubungan dengan pihak lain (non muslim), firman Allah swt.: Artinya: “Dan janganlah sekali-kali kebencian terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adilah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (al Maidah:8). Tujuan ditegakkanya keadilan dalam Islam amatlah luhur. Ia menyangkut berbagai aspek kehidupan: Adil di bidang hukum, peradilan dan persaksian serta adil dalam bermuamalah (bergaul) dengan pihak lain. Bahwa setiap orang mempunyai hak-hak yang sama dengan dirinya. Dalam kaitan ini Nabi Muhammad saw. Memberikan penjelasan sangat gamblang, dengan sabdanya: “Gaulilah sesama manusia dengan sikap dan perbuatan yang kalian suka” .

Islam mengacu kepada keadilan sosial. Di dalam Islam, setiap orang mempunyai kedudukan yang sama di depan undang-undang dan pengadilan. Tidak di beda-bedakan antara si kaya dan si miskin. Islam tidak mengenal stratifikasi sosial (kasta) dengan memberikan prevelege kepada suatu kelas tertentu. Bahkan orang yang kuat adalah lemah, sehingga dapat diambil suatu hak dirinya; dan orang yang lemah adalah kuat, sehingga dapat mengambil haknya. Sebab semua manusia adalah sama, berasal dari tanah liat yang satu; tidak bisa dibeda-bedakan oleh perbuatan warna kulit atau jenis/ kebangsaanya. Mereka sama di depan hukum Islam. Dalam hubungan ini Nabi Muhammad saw. Bersabda: “ kamu sekalian adalah keturunan Adam. Dan, Adam tercipta dari tanah. Tidak ada keutamaan bagi bangsa Arab atas Ajam (non Arab) kecuali dengan taqwa”.

Demikian juga dijelaskan dalam firman Allah swt.: Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal”. (al Hujurat:13). Dalam usaha mewujudkan keadilan sosial dengan cara yang maksimal, Islam mengharuskan agar dijunjung tinggi hak-hak asasi manusia. Karenanya Islam melarang tindakan penyiksaan, meski dalam kancah peperangan. Allah swt. menerangkan kemuliaan derajat manusia dalam firman-Nya: Artinya: “Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan”.(al Isra’ 70)

Dalam rangka mewujudkan keadilan sosial itu pula, Allah swt. memberi kesempatan sama kepada setiap orang yang bernaung di bawah naungan panji-panji Islam untuk melakukan pekerjaan yang sanggup di kerjakanya. Ketika membicarakan perihal fardhu kifayah telah di uraikan bagaimana Islam mewajibkan kepada semua umatnya untuk mencoba melaksanakan tugas/ kewajiban pada tahap pertama. Jika gagal, dan hanya berhenti pada tahap pertama, dan tidak melanjutkan pada tahap kedua, maka ia berarti tertinggal pada suatu tingkatan yang dituntut oleh fardhu kifayah. Dan barang siapa mampu meneruskan perjalanan pada tahap kedua, dan berhenti hanya sampai situ, maka ia berhenti pada fardhu kifayah juga. Begitu pula pada tahap ketiga dan seterusnya.

Ini semua, tak lain, merupakan pemberian kesempatan kepada semua orang dengan bekal kemampuan yang dimilikinya untuk saling memberi dan menerima manfaat bersama pihak lain. Agar masing-masing orang memperoleh bagian yang menjadi haknya dengan penuh, tidak di rugikan dan tidak teraniaya, maka Allah swt. memberi imabalan atas hasil karyanya setimpal dengan usahanya. Siapa yang menabur kebaikan akan menuainya, dan sesuai dengan jerih payah dan hasil karyanya seseorang memperoleh imbalanya. Allah swt.telah mewujudkan keadilan dengan sangat sempurna ketika menjadikan hak seimbang dengan kewajiban.

Kaum wanita, misalnya, dibebani kewajiban-kewajiban sesuai dengan hak-hak yang diperolehnya. Sebagaimana firman Allah swt.: Artinya: “Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’ tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya”. (al Baqarah: 228).

Demikianlah di dalam Islam setiap hak selalu diimbangi dengan kewajiban. Dengan kata lain, hubungan timbal balik antara hak dan kewajiban merupakan sesuatu yang mesti ada. Oleh karena itu, Syari’at Islam menetapkan sanksi hukuman untuk hamba sahaya/ budak (‘abd) setengah dari sanksi hukuman untuk orang merdeka dalam hal pidana-pidana yang dapat dibagi dua. Sebab hak-hak hamba sahaya/ budak lebih sedikit dibanding hak-hak yang dimiliki orang merdeka. Maka sangat wajar jika sanksi hukuman hamba sahaya di bawah sanksi hukuman orang merdeka. Oleh karena itu, perihal amat amat (budak wanita) Allah swt. berfirman: Artinya:”Dan apabila mereka Telah menjaga diri dengan kawin, Kemudian mereka melakukan perbuatan yang keji (zina), Maka atas mereka separo hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami”.(an Nisa’ 25).

Usaha mewujudkan keadilan akan terhambat, kecuali apabila sifat-sifat utama (al fadhilah), dan kasih sayang (al mahabbah) telah berkembang merata di tengah masyarakat, dan kemaslahatan bagi satu anggota masyarakat juga telah dirasakan sebagai kemaslahatan bagi sesamanya. Ayat al Qur’an yang dipandang menghimpun intisari hukum islam, adalah firman Allah swt: Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”.(an Nahl: 90).

(3). Dan ini merupakan tujuan puncak yang hendak dicapai, yang harus terdapat di dalam setiap hukum Islam, ialah maslahat(kemaslahatan). Tidak sekali-kali suatu perkara disyari’atkan oleh Islam melalui al-Qur’an maupun Sunah melainkan di situ terkandung maslahat yang hakiki, walaupun maslahat itu tersamar pada sebagian orang yang tertutup oleh hawa nafsunya. Maslahat yang dikehendaki oleh Islam bukanlah maslahat yang seiring dengan keinginan hawa nafsu. Akan tetapi,  maslahat yang hakiki yang menyangkut kepentingan umum, bukan kepentingan pihak tertentu (khusus).

Adapun tujuan dasar hukum syara’ menurut Dr. Rasyad Hasan Khalil (Dosen Fakultas Syari’ah Al Azhar Cairo) dalam muqarrar/ diktat yang beliau tulis: (1). Menjaga/ memperhatikan  kemaslahatan manusia secara keseluruhan (Ria’yat Mashalih an Nas Jami’a), Syari’at Islam di tujukan untuk mewujudkan kemaslahatan baik bagi individu ataupun golongan baik di dalam dunia maupun akhirat, dan hal tersebut nampak dalam beberapa contoh diantaranya:

a. Hikmah di utusnya Rasulullah Muhammad saw sebagai pembawa rahmat untuk umat manusia dan alam semesta.

b. Hikmah di jadikanya kehidupan dan kematian untuk menguji manusia, mana yang paling banyak amal kebaikanya .

c. Maslahat yang terdapat dalam suatu kewajiban, seperti: Shalat, puasa, haji dll.

d. Maslahat di berlakukanya hukum qishash untuk menjaga eksistensi manusia.

(2). Terikatnya  kemaslahatan terhadap hukum ada dan tidak adanya (Rabtu al Hukmi  bi al Maslahah wujudan wa adaman.) maksudnya bahwa hukum syari’ah Islam itu mempunyai illat, dan illat itu berlaku sesuai dengan hukum tersebut (al illal yaduru ma’a al hukmi wujudan wa ‘adaman), dengan kata lain jika ada illat pasti ada hukum begitu juga sebaliknya jika tidak ada illat maka tidak ada hukum. Contohnya sebagaimana yang terdapat dalam Al Qur’an:

a. Artinya: ” Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(al Maidah: 38)

b. Artinya: “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”.(al Hasyr; 7).

(3). Terwujudnya keadilan secara mutlak (tahqiq al ‘adalah al mutlaqah).

Syari’at islam cenderung bersifat umum bukan untuk satu golongan saja akan tetapi untuk kemaslahatan seluruh umat manusia, tidak membedakan ras, golongan, warna kulit, tidak membedakan antara yang arab dan ‘ajam akan tetapi yang membedakaan antara yang satu dan yang lainya hanyalah ketakwaan dan amal shaleh. Maka dari itu keadilan yang mutlak (persamaan derajat) merupakan salah satu esensi yang membedakan antara syari’at Islam dengan yang lainya, hal ini sebagaimana yang di fimankan oleh Allah dalam al Qur’an: Artinya: “ Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (An Nahl: 90) dan juga firman Allah: Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat”.(an Nisa’ 58).

(4). Tidak adanya kesempitan dalam menjalankan ajaran agama dan sedikitnya beban (‘adamu al haraj wa qillah at takalif), Syari’at Islam sangat manusiawi karena tidak memberikan beban diatas batas kemampuan manusia serta memberikan kemudahan kepada pemeluknya hal ini sesuai dengan firman Allah swt.: Artinya: “Allah menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesulitan” (al Baqarah: 185) dan juga firman Allah swt: Artinya: “…dan dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. Al-Hajj, 78). Sebagai contoh dalam hal ibadah, misalnya shalat yang wajib kita kerjakan itu tidak memerlukan waktu yang banyak dan bagi yang bepergian (musafir) diperbolehkan mengqasar dan menjamak shalat. Begitu juga puasa yang wajib kita kerjakan tidak setahun penuh tetapi hanya satu bulan saja dalam satu tahun yaitu pada bulan ramadhan.

(5). Pembebanan yang bertahap (at tadarruj fi at tasyri’), syari’at Islam ketika menurunkan suatu hukum tidak sekaligus kepada intinya akan tetapi memakai uslub dan gaya bahasa yang bisa diterima oleh akal dan tabi’at manusia sehingga manusia bisa menerima dan tidak merasa terbebani dengan hukum yang di bebankan kepadanya, seperti yang penulis jelaskan di pendahuluan bahwa hukum Islam memuat tiga aspek yaitu i’tiqadiyah, khuluqiyah, dan juga amaliyah, ketiga aspek inilah yang di turunkan oleh Allah swt. kepada manusia dengan bertahap sebagaimana urutanya. Contoh lain ketika Allah swt, memerintahkan shalat, pada masa awal permulaan Islam shalat hanya di wajibkan dua reka’at di pagi hari dan dua reka’at di sore hari karena pada masa itu manusia belum mengetahui keutama’an dan fadhilah shalat yang ternyata bisa menjadikan kenikmatan taqqarrub kepada Allah swt, baru ketika manusia mengetahui fadhilah dan keutamaan shalat maka pada saat itulah Allah swt, mewajibkan shalat sebanyak lima waktu dalam sehari dan semalam, begitu juga dengan zakat, larangan minum khamr dan yang lainya.

Di antara keistimewaan hukum Islam menurut Dr. Abdul Sattar Fathullah Said:

(1). Janji Allah swt dengan akan terjaganya syari’at Islam dari penyimpangan, hal ini seperti yang terdapat dalam Al Qur’an surat Al Hijr ayat 9: Artinya: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.

(2). Menjadikan Al Qur’an sebagai kitab yang bisa dicerna oleh akal dan juga fitrah manusia sehingga Al Qur’an bisa menjadi ‘ijaz (mukjizat) dan juga memberi pengaruh hingga hari kiyamat, sedangakan mukjizat yang lain (sebelum datangnya syaria’t Islam) hanya bersifat sementara dan terbatasi dengan waktu, hal ini seperti yang di sabdakan oleh Nabi Muhammad saw:

ما من الانبياء من نبي الا وقد اعط من الايات ما مثله امن عليه البشر, وانما كان الذى اوتيته وحيا اوحاه الله الي, فارجو ان اكون اكثرهم تابعا يوم القيامه (رواه الشيخان واحمد عن ابي هريرة)

(3). Bahwa Islam ditujukan kepada seluruh umat manusia sepanjang masa sedangkan syari’at yang dibawa para Anbiya’ a.s sebelum Nabi Muhammad saw hanya ditujukan dan diperuntukan kepada suatu kaum tertentu.

(4). Menjadikan hukum-hukum Islam yang amaliah (furu’iyah) dengan sangat toleran, tidak kaku sehingga sesuai dengan setiap generasi walaupun dalam keadaan zaman yang berbeda-beda.

(5). Walaupun dengan adanya bentuk masalah dan problemantika yang baru meskipun demikian akan selalu ditemukan solusi hukumnya.

(6). Membenarkan syari’at dan juga ajaran yang telah diselewengkan oleh orang-orang ahli kitab.

Tujuan syara’ yang berhubungan dengan makhluk ada lima: menjaga agama (hifdz ad din), menjaga jiwa (hifdz nafs), menjaga akal (hifdz aql), menjaga keturunan (hifdz nasl), menjaga harta (hifdz mal). Maka setiap hal yang mengandung upaya menjaga lima perkara pokok tersebut adalah maslahat. Sebaliknya, setiap hal yang tidak mengandung lima perkara pokok tersebut adalah mafsadah, dan menolaknya termasuk maslahat. Menurut penelitian memang lima urutan diatas yang banyak disepakati oleh para fuqaha dan juga usuliyyin, bila dibanding dengan apa yang ditulis al Imam as Syatibi (730-790 H) didalam kitab al Muwaafaqat yaitu: menjaga agama (hifdz ad din), menjaga jiwa (hifdz nafs), menjaga keturunan (hifdz nasl), menjaga harta (hifdz mal), dan menjaga akal (hifdz aql). Bahkan pentahkik kitab al Muwafaqat sendiri Syekh Abdullah Daraz lebih cenderung mengikuti apa yang di tulis imam al Ghazali (wafat th 505 H) dalam kitab al Mustasyfa.:

“Jika maslahat menjadi tujuan hukum taklify dan hukum wadh’iy-diantara keduanya terdapat keterkaitan yang erat –maka dengan demikian hukum syari’ semuanya amat memperhatikan kemaslahatan pribadi seseorang. Kemaslahatan pribadi ini tidak bisa ditinggalkan kecuali apabila berhadapan dengan kemaslahatan yang lebih besar, atau apabila kemaslahatan pribadi merugikan orang lain. Misalnya, seseorang memakan harta orang lain demi menutupi kebutuhan pribadinya. Hal ini merupakan kemaslahatan yang tidak bisa di terima, karena kemelaratan yang menimpa orang lain lebih berat dibanding kemanfaatan yang diperoleh untuk kepentingan diri sendiri. Di samping itu, kerugian yang diakibatkan memperbolehkan memakan harta orang lain lebih berat dibanding kemaslahatan yang diperoleh dari mengambil harta itu.

Maka dari itu, islam menetapkan bahwa apabila kepribadian seseorang terancam dalam keadaan darurat yang tidak bisa dihindari kecuali dengan meraih barang terlarang yang bukan hak orang lain, maka ia boleh mengambil barang terlarang itu, bahkan wajib. Para ulama’ fiqih telah membuat sebuah kaidah yang berbunyi: “ adh-dhaarurah tubihu al mahzhurat”(keadaan darurat bisa menyebabkan diperbolehkanya meraih barang terlarang). Bahkan pada kondisi tertentu, meraih barang yang semula dilarang menjadi wajib. Syaratnya apabila di situ tidak mengambil hak orang lain atau tidak termasuk perbuatan yang oleh islam dijanjikan akan mendapat pahala jika dihadapi dengan penuh kesabaran. Karena itu Allah berfirman: Artinya: “ Sesungguhnya Allah Hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah,. tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(al Baqarah: 173).

Islam sangat memperhatikan kemaslahatan manusia. Islam tidak menetapkan taklif atas manusia kecuali taklif yang mampu mereka kerjakan dan bisa dijalani secara kontinyu. Dengan demikian, taklif syar’i secara umum merupakan taklif yang tingkat kesulitanya dapat diatasi dengan cara menjalaninya secara kontinyu. Sebab kemaslahatan yang bisa terealisir  melalui taklif tidak akan terwujud kecuali ditempuh dengan mengerjakanya secara kontinyu.

Demikianlah, Islam dengan hukum-hukum syari’ahnya mengacu kepada usaha mewujudkan kemalahatan yang nyata, memberi kemudahan menuju jalan ketaatan. Atas dasar ini, para ulama ahli fiqh menetapkan kaedah-kaedah yang diambil dari tujuan tersebut, antara lain: ”adh-dharar yuzalu” (bahaya itu harus dihilangkan); yudfa’ asyaddu adha-rarayn” (ditolak bahaya yang lebih berat dengan memilih yang lebih ringan); dalam menghadapi dua bahaya, maka bahaya khusus dapat dipakai sebagai sarana untuk mengatasi bahaya yang umum); daf’u adh-dharar muqaddaman ‘ala jalb al-mashalih” (menolak bahaya didahulukan atas menarik kemanfaatan).

Dengan demikian dapat kita fahami bahwa para ulama ketika mengambil istimbat dari ayat-ayat al-Qur’an adalah untuk mencari suatu kaidah yang bertujuan mengambil maslahat dan menolak bahaya. Hal itu bukanlah berarti suatu upaya meniadakan nash, karena ia tidak mampu mewujudkan kemaslahatan. Bagaimanapun kemaslahatan harus sesuai dengan nash, karena kemaslahatan yang bertentangan adalah rekayasa nafsu dan fikiran manusia, berarti menetapkan keinginan nafsu terhadap ketetapan nash, dan itu bertentangan dengan Islam. Wallahu ‘Alam. (Kholid Ma’mun/Pengajar di Ponpes Daar El Istiqomah/Pengurus MUI Prof Banten, Bidang Kerjasama Internasional dan Hubungan Luar Negeri)


Sekilas Info

Panen Garam di Empang Bandeng

Sejak saya kecil, Kampung/Desa Domas, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang terkenal sebagai penghasil ikan Bandeng. Rasa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *