Menikmati Pesona dan Dinginnya Air Curug Ciporolak

Salah satu objek wisata alam yang sangat layak dikunjungi adalah Curug Ciporolak yang berada di ujung selatan Kabupaten Lebak, tepatnya di Kampung Lebakpicung, Desa Hegarmanah, Kecamatan Cibeber yang berjarak sekitar 145 dari kota Rangkasbitung.

Kondisi infrastruktur jalan yang cukup bagus dari Rangkasbitung hingga ke wilayah Kecamatan Cibeber, serta pemandangan alam yang indah disepanjang perjalanan, dengan waktu tempuh sekitar 4 jam menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua, terasa sangat menyenangkan.

Untuk agenda minggu ini, Desi Rahmawati beserta sejumlah rekannya dari Komunitas Jalan Satapak Adventure mendatangi lokasi destinasi wisata curug yang sudah mulai dikenal luas oleh para pencinta alam.

Seperti biasanya, Desi kemudian merangkum dan menuliskan keseruan perjalanan serta keindahan objek wisata Curug Sata, yang kami sajikan secara utuh bagi pembaca setia Harian Umum Kabar Banten.

Pagi ini seperti biasa jadwalnya Desi beserta rekan-rekannya dari Komunitas Jalan Satapak Adventure melakukan perjalanan (ngaprak) berburu curug yang ada di ujung selatan wilayah Kabupaten Lebak.

Khusus untuk rute kendaraan pribadi, akses tercepat menuju lokasi curug itu adalah melalui rute Rangkasbitung-Bojongleles-Cileles-Simpang Gunungkencana-Malingping – Simpang Wanasalam – Simpang Bayah – Cikotok – Desa Hegarmanah – Kp. Lebak Picung – Curug Ciporolak.

Jam menunjukkan pukul 07.00 dirasa sudah oke dalam perbekalan dan test drive, akhirnya Desi memutuskan untuk langsung berangkat menuju curug tersebut. Perjalanan panjang menuju lokasi akan terbayar lunas oleh indahnya pemandangan alam di sana. Apalagi, kondisi alam di sana masih alami dan dengan kondisi jalan yang relatif baik sebagian besar sudah betonisasi.

Dalam perjalanan menuju curug, kita akan melewati perkebunan teh milik PT Harendong yang lebih dikenal dengan Kebun Teh Cikuya. Di lokasi ini kita disajikan pemandangan yang sangat indah dan cocok untuk berfoto ria.

Setelah kurang lebih empat jam terlewati, sampailah kami di perkampungan yang langsung disambut penduduk lokal dengan penuh keramahtamahan. Warga mempersilakan kami untuk mengisi daftar tamu yang berkunjung ke curug tersebut.

Setelah istirahat beberapa waktu, kita memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanan. Untuk mencapai curug tersebut dengan berjalan kaki, dibutuhkan waktu selama kurang lebih satu jam. Bagi yang pertama kali mengunjungi ke tempat ini alangkah baiknya meminta bantuan warga sekitar untuk mengantarkan ke curug karena lokasinya cukup tersembunyi.

Oya.. Curug Ciporolak itu berada pada aliran sub-das Cimadur, dengan ketinggian air terjun ini mencapai 100 meter. Curug ini memiliki ciri khas curahan air terjunnya berundak-undak pada dasar sungai.

Ciporolak sendiri diambil dari bahasa Sunda yang terdiri dari dua suku kata yaitu “Ci/Cai” yang berarti “Air” dan “ngaborolak” yang berarti “Berjatuhan”, kemudian jika dua kata tersebut disatukan maka akan menjadi sebuah frasa yang berarti “Air yang berjatuhan”. Penamaan ini pun disebabkan adanya bebatuan kecil yang sering berjatuhan dan terbawa arus dari atas curug dan menghasilkan bunyi gemelotak dan akhirnya dipilihlah nama Ciporolak.

Untuk sampai ke curug kita akan melewati hamparan persawahan penduduk, dan akses menuju curug harus melewati aliran air dari curug tersebut. Tapi jangan salah, setiap perjalanan kalian akan disuguhkan oleh indahnya curug-curug kecil yang airnya masih bersumber dari aliran Curug Ciporolak.

Tanpa pikir panjang, kami langsung nyebur setiap kali menemui curug-curug kecil yang kami lewati. Oya, saat melewati aliran air kita harus tetap waspada. Bukan hanya jalannya yang licin, tetapi ada beberapa track yang sangat sulit dilewati. Dan alangkah baiknya jika berkunjung ke curug ini memperhatikan pula faktor cuaca. Karena jika hujan turun, aliran airnya berubah menjadi deras, dan tak jarang bisa menyebabkan banjir bandang.

Setelah sekitar satu jam akhirnya sampailah kami di Curug Ciporolak. Semua senang bukan main karena perjuangan kami serta rasa lelah kami terbayar tunai. Tanpa pikir panjang semua langsung bergegas mendekati curug tersebut.

Ada yang melakukan sesi foto-foto, ada yang langsung nyebur dan ada yang asyik buka perbekalan. Kalo soal dingin tidaknya air di curug tersebut jawabannya bukan main dinginnya air curug itu. Dan mungkin bisa diibaratkan berada di kutub utara. Hehehe.

Setelah berenang kami memutuskan untuk mulai bersantap. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 dan langsung menyuruh kawan-kawan jalan satapak bergegas dan berkemas untuk kembali mengingat cuaca sudah mulai tidak mendukung.

”Setelah beres akhirnya Desi beserta rombongan kembali ke perkampungan dan melanjutkan perjalanan pulang ke Rangkasbitung. Benar adanya kalau Kabupaten Lebak layak di sebut gudangnya curug. (Tono Soemarsono)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here