Minggu, 18 Februari 2018

Menikmati Keindahan Alam Wisata Baduy

Sebelum bergegas menuju rute perjalanan wisata Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Sekitar pukul 10.00 WIB, sebanyak 13 wisatawan asal Serang, Banten dan Depok, Jawa Barat berkumpul (meeting point) di sebuah tempat di depan Mall Rabinza Rangkasbitung yang merupakan pusat kota kabupaten berjuluk Multatuli.

Setelah bercengkerama dan memeriksa kembali perbekalan yang akan dibawa ke lokasi wisata, rombongan wisatawan yang dipandu pramuwisata (tour guide), Inggi Januaristi (30) berangkat menggunakan mobil elf yang sudah dipersiapkannya. Sekitar dua jam perjalanan, rombongan juga akhirnya tiba di lokasi wisata Suku Baduy yang letaknya berada di kaki Pegunungan Kendeng tersebut.

Setelah beristirahat sejenak, rombongan wisatawan yang juga dibantu Jakam, tour guide lokal setempat, kemudian memulai perjalanan wisatanya masuk ke kawasan Suku Adat Baduy luar. Lokasi pertama yang dituju, yaitu Jembatan Akar yang terletak di daerah Cisaban, Baduy luar dengan jarak tempuh sekitar 2 jam. Di jembatan tersebut, sambil menikmati pemandangan yang indah, para wisatawan pamer pose bersama untuk mengabadikan perjalanan wisata.

Wisatawan kemudian melanjutkan perjalanan, ke Danau Dangdang untuk sekadar berfoto sambil naik perahu rakit. Perjalanan hari pertama di Baduy Luar, wisatawan dimanjakan pemandangan yang indah serta melihat langsung keseharian masyarakat Baduy. Di hari pertama tersebut, rombongan wisatawan menginap di rumah tour guide lokal, Jakam yang berada di Kawasan Baduy Luar.

Di hari kedua, wisatawan tak lupa menikmati keindahan sunrise di pagi hari sambil menikmati secangkir kopi dan makanan khas Baduy. Setelah itu, melanjutkan perjalanan wisatanya ke daerah Kadu Keter, Cicakal. Di lokasi tersebut, wisatawan disuguhi pemandangan masyarakat Baduy yang sedang membuat kerajinan tangan, seperti tas dan gelang. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Baduy Dalam dengan jarak tempuh sekitar 2 jam.

Sepanjang perjalanan mata wisatawan dimanjakan dengan indahnya pemandangan alam yang sangat eksotis. Hanya saja, karena sudah menjadi aturan adat, wisatawan tidak boleh mengabadikan pemandangan tersebut dengan kamera atau memotret. Di Kawasan Baduy Dalam, wisatawan memang tidak boleh mengaktifkan kamera. “Di Kawasan Suku Baduy dalam, kami tidak boleh mengatifkan kamera, apalagi memotret. Itu merupakan aturan adat setempat,” kata Inggi Januaristi.

Hal yang perlu diperhatikan ketika berwisata ke Suku Baduy, yaitu fisik. Karena, berwisata menelusuri Kawasan Suku Baduy harus ditempuh dengan berjalan kaki berkilo-kilometer, sehingga kondisi fisik yang prima sangat diperlukan. Wisatawan juga harus mempersiapkan perbekalan yang cukup, minimal bisa membelinya di Kawasan Pintu Masuk Suku Baduy di Ciboleger.

Menurut dia, selama perjalanan ke Suku Adat Baduy, banyak momen yang tak bisa didapat berwisata ke tempat lain. Berwisata ke Baduy seolah hidup menyatu dengan alam dan banyak nilai yang kearifan lokal yang bisa diambil dari kehidupan keseharian Suku Baduy. Baduy tidak hanya indah, tetapi juga sangat memiliki nilai filosofis dalam berkehidupan.

Pihaknya optimistis, dengan ditunjang pengembangan wisata melalui pembangunan terintegrasi dengan infrastruktur, penginapan, dan pusat perdagangan. Wisata Suku Adat Baduy bisa mendunia dan lebih banyak lagi wistawan yang datang, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. ”Optimistis mendunia, karena masyarakat Baduy memiliki keunikan suku terasing di tanah air, seperti kehidupan komunitas Suku Aborigin di Australia, Suku Amish di Amerika Serikat atau Suku Incha di Peru,” ujarnya. (Galuh Malpiana)***


Sekilas Info

Berburu Jajanan Tradisional di Pasar Tamansari Kota Serang

Saat memasuki Pasar Tamansari yang berada di Jl. Sultan Ageng Tirtayasa, Cimuncang, Kota Serang, tepatnya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *