Mengolah Sampah Menjadi Rupiah

SAMPAH merupakan sebuah permasalahan klasik yang harus dihadapi pemerintah, dan tentunya bukanlah permasalahan yang bisa dibiarkan begitu saja. Timbunan sampah yang terus menumpuk akan berakibat buruk bagi kesehatan lingkungan serta menimbulkan berbagai penyakit dan sampah rumah tangga merupakan penyumbang sampah terbesar.

Sementara, tempat pembuangan sampah (TPS) yang tersedia tidak akan bisa menampung sampah yang terus menerus dihasilkan masyarakat jika masyarakat tidak mulai bertindak untuk mengurangi sampah yang dihasilkan. Untuk itulah, penanganan masalah sampah harus dimulai dari sumbernya. Diperlukan tindakan nyata dan kerja sama oleh setiap lapisan masyarakat dan bank sampah bisa menjadi solusinya.

Bank sampah adalah suatu sistem pengelolaan sampah kering secara kolektif yang mendorong masyarakat untuk berperan aktif di dalamnya. Sistem ini akan menampung, memilah, dan menyalurkan sampah bernilai ekonomi pada pasar sehingga masyarakat mendapat keuntungan ekonomi dari menabung sampah.

Untuk mendorong masyarakat agar mulai peduli terhadap pengelolaan sampah, Pemkab Lebak sejak beberapa tahun lalu telah mendirikan bank sampah induk yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Saat ini bank sampah induk DLH itu telah mampu menjual hasil olahan sampah ke tempat penampung di Kabupaten Serang sebanyak 1,5 ton.

”Hingga saat ini, bank sampah induk BLH telah menjual olahan sampah ke penampung di Kabupaten Serang dengan jumlah yang terjual mencapai sebanyak 1,6 ton olahan sampah,” kata Kabid Kebersihan DLH Lebak, Syaefulloh, akhir pekan lalu. Ia mengatakan, keberadaan bank sampah yang saat ini dijadikan sebagai tempat usaha pengelolaan sampah di daerah ini terus berkembang dan saat ini memiliki sebanyak 150 bank sampah tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Lebak.

”Kami berharap dengan berkembangnya bank sampah di daerah ini dapat membantu menumbuhkan ekonomi masyarakat. Artinya, keberadaan bank sampah yang dikelola di masing-masing lokasi itu dapat menampung sampah olahan yang dijual masyarakat ke tempat bank sampah tersebut,” ujarnya. Dikatakannya, di antara bank sampah yang telah berkembang di Kabupaten Lebak, salah satunya merupakan tempat penampungan sampah (TPS) 3R (reuse, reduce, recyle) yang berlokasi di Kampung Barangbang, Rangkasbitung. TPS yang dikelola dengan metode 3R ini salah satunya dengan mengolah sampah menjadi pupuk kompos atau pupuk kandang.

”Hingga saat ini 3R masih menjadi cara terbaik dalam melakukan berbagai permasalahan seperti mengelola dan menangani sampah-sampah yang ada di lingkungan sekitar kita. 3R merupakan langkah-langkah dalam melakukan proses daur ulang sampah dari yang terbuang dan tidak berguna menjadi berguna bahkan bisa menghasilkan uang kembali. Tentu keberadaan TPS 3R ini sangat bermanfaat karena dapat membuat pupuk kandang untuk usaha pertanian dan perkebunan,” ucapnya.

Ditambahkan, pengelolaan bank sampah tentu berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi juga ramah lingkungan. Limbah bank sampah itu, selain didaur ulang juga bisa dijadikan bahan baku kompos untuk ketersediaan pupuk organik. ”Selain itu juga limbah sampah bisa dijadikan aneka kerajinan sehingga memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Sebaliknya jika sampah itu tidak dikelola dengan baik, tentu akan menjadikan sumber penyakit serta akan menimbulkan bau tidak sedap. (Nana Djumhana)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here