Selasa, 21 Agustus 2018

Mengintip Kurikulum Pesantren Irhamna Bil Quran

Hendra (35) terpana memandang baliho di pintu masuk Pondok Pesantren Tahfiz Irhamna Bil Quran Kampung Pari Desa Pari Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang. Lelaki tiga anak asal Lemah Neundeut Cicadas Kota Bandung bukan terpana oleh ukuran baliho yang jumbo. Namun ia tak percaya dengan tulisan di kain besar berisi ucapan selamat atas wisuda pertama santri pesantren berlokasi di kaki Gunung Pulo Sari.

Beberapa nama santri yang tertera di baliho dicermatinya satu persatu. Pertama, Hafiz Haris Syukur asal Majalengka Jawa Barat, berhasil menamatkan hafalan 30 juz dalam 6 bulan, berhasil meraih beasiswa ke Sulaimaniyah, Turki. Kedua, Zen Arif Februase asal Rangkasbitung Banten, berhasil menamatkan hafalan Alquran 30 juz dalam 5 bulan, meraih beasiswa di Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung.

Ketiga, Mutia Fatmawati, asal Cilanggar Pandeglang, berhasil menamatkan hafalan dalam 5,5 bulan, meraih IPK tertinggi STKIP Syeh Mansyur Pandeglang.Keempat, Amar Ma’rif asal Tangerang, berhasil  menamatkan hafalan 30 juz dalam 6 bulan pada usia 12 tahun. Hendra membuang nafas berat. Percaya tak percaya, dibacanya kembali isi ucapan selamat tersebut. Pikirannya terus bertanya-tanya, bagaimana mungkin Alquran 30 juz bisa dihafal dalam waktu sesingkat itu.

Muncul praduga, jangan-jangan pesantren ini menggunakan sihir. Namun ia buru-buru membuang pikiran tersebut. Ia ingin tabayun langsung kepada para mentor santri bidang tahfiz di pesantren ini.
Ia baru saja akan melangkah memasuki pintu gerbang, seorang lelaki bertubuh sedang dan berpeci hitam menghampirinya. “Assalamu’alaikum. Ada yang bisa kami bantu, Pak?” suara ramah mengagetkan Hendra. “Oh, wa’alaikum salam. Saya dari Bandung, Pak Kiai ada, kang?” tanya Hendra.
“Silakan tunggu di saung, Pak,” ujar lelaki tersebut sambil menunjuk ke bangunan sederhana terbuat dari bambu.

Tak berselang lama, seorang lelaki kulit sawo matang, berpeci hitam jalan terburu-buru menuju saung. “Assalamu’alaikum. Hampura sudah menunggu lama,” lelaki berusia 40 tahunan itu menyapa ramah Hendra. Ketika bersalaman, tubuhnya merunduk hampir separo badan tamunya. Herman tak yakin, lelaki ini adalah kiai muda yang beberapa bulan terakhir namanya menjadi buah bibir. Awalnya ia membayangkan, pengasuh pesantren tahfiz ini lelaki berjubah, bersurban, dan menjaga intonasi suara ketika bicara.

“Saya Taftajani,” kata lelaki tersebut. Sontak Hendra kaget. Nama itu sering didengarnya. Wajahnya berubah pucat, lelaki berpenampilan sederhana dan sangat ramah tersebut memang Taftajani, pengasuh pesantren yang santrinya berhasil hafal 30 juz dalam waktu singkat. “Maaf kiai, kirain….” Hendra tak melanjutkan kalimatnya. “Ga papa, silakan duduk. Maaf tempatnya seperti ini,” katanya ramah.

“Saya baca spanduk di depan. Sangat luar biasa. Saya juga sangat ingin bisa hafal Alquran. Semoga kiai tidak keberatan memberi wiridan.” Ditodong demikian, Kiai Taftajani tidak tersinggung. Sebaliknya, ia terkekeh sambil berkali-kali mempersilakan tamunya menikmati makanan kecil yang telah disuguhkan pihak pesantren. “Benar kiai, saya serius. Saya mau minta wiridannya,” ujar Hendra, dengan nada malu-malu. “Menghafal Alquran itu bukan hanya dibutuhkan kesabaran dan keikhlasan, tapi juga kesungguh-sungguhan. Menghafal Alquran itu berat, tapi lebih berat lagi menjaga hafalan. Jika sehari saja kita lalai mengulang hafalan, maka yang sudah melekat pun bisa hilang,” ujar Kiai Taftajani.

Kiai jebolan sejumlah pesantren tersebut bercerita panjang lebar tentang perjuangan para santrinya dalam menghafal Alquran dan mempertahankan hafalan mereka. “Ibaratnya, untuk bisa hafal 30 juz itu mereka harus berdarah-darah, berkeringat. Kalau lapar dan sakit sih sudah biasa,” katanya. Keseharian para santri di Pesantren Irhamna, bangun pukul 03.00 pagi dan tidur pukul 22.00 WIB. Antara masa itu, mereka isi dengan shalat-shalat sunah, puasa sunah, menghafal Alquran, setoran hafalan dan sebagainya.

“Kami sudah meminta semua satri harus sudah tidur pada pukul 22.000 WIB, sebab pukul 03.00 mereka harus sudah bangun lagi. Tapi kami perhatikan, tidak sedikit santri yang tidak langsung tidur. Mereka mencari tempat sepi, lalu menghafal lagi. Akan tetapi memang, jiwa para santri harus dikuatkan, sebab mereka sedang mengerjakan pekerjaan berat dan menanggung beban hafalan yang tak kalah beratnya,” ujar Kiai Taftajani.

Penguatan jiwa dimaksud ditempuh melalui rajin shalat sunah, puasa Senin-Kamis, Puasa Daud, berdoa, dan support dari orangtua. Dijelaskannya, dalam penerimaan santri baru, tidak semua pendaftar diarahkan untuk menghafal Alquran. Pihak pesantren akan mengadakan tes kemampuan dasar. Mereka yang dianggap sudah mampu masuk kelas menghafal, akan diarahkan untuk mendapat tutor tahfiz.

Akan tetapi jika belum mampu, pihak pesantren akan membekali mereka terlebih dahulu dengan ilmu-ilmu dasar Alquran, termasuk tahsin. “Untuk santri baru yang sudah siap menghafal, kami memiliki beberapa program Tahfiz. Yakni, tahfiz khusus super dahsyat, dauroh tahfiz bebas umur lintas profesi, dan dauroh tahfidz plus pelatihan metode irhamna,” tutur Kiai Taftajani.

Dijelaskan, tahfidz khusus super dahsyat merupakan terobosan menghafal super cepat dengan jaminan kualitas terbaik, dengan sistem fokus Quran 15 jam per hari. Target program ini, hanya 6 bulan santri bisa menyelesaikan hafalan 30 juz mutqin plus murojaah. “Sementara program dauroh tahfidz bebas umur lintas profesi dan dauroh tahfidz plus pelatihan metode Irhamna ditujukan untuk masyarakat yang ingin hafal Alquran tapi sibuk kerja,” katanya.

Ia mengakui, program andalan Pesantren Irhamna adalah Super Dahsyat, yakni 6 bulan hafal Alquran 30 juz. Program “Super Dahsyat”, kata Kiai Taftajani, dirancang untuk menghancurkan mental block dan mental pesimistis.  “Hampir semua orang beranggapan bahwa menghafal Quran itu sangat susah. Butuh waktu lama. Orang-orang dewasa hanya menjadikan ‘hufadz’ sebagai sebuah angan-angan belaka. Bahkan tak sedikit yang berpikir bahwa menjadi seorang hafidz/ hafidzoh hanyalah mimpi yang mustahil dijangkau. Ternyata, dengan metoda terbaru yang kami lahirkan, menghafal Alquran itu sangat mudah. Setiap muslim bisa hafal Alquran. Kami menamainya Metoda Irhamna Bil Quran,” katanya.

Diungkapkan, prinsip program “Super Dahsyat” yakni yakin pada Alquran Surat Al-Qomar ayat 22, bahwa sungguh Allah akan memudahkan Alquran untuk dihafal, dipelajari, dijadikan peringatan.
“Oleh sebab itu, seluruh peserta tahfidz kami ingatkan untuk yakin pada ayat itu. Buang semua pikiran negatif yang hanya akan membatasi kemampuan kita,” ujarnya. Program dahsyat lain yang yang ditawarkan Pesantren Irhamna, 6 bulan lancer membaca kitab kuning, 6 bulan hafal 1000 hadits, dan 3 bulan hafal Alfiyah. (Syair Asiman)***


Sekilas Info

KISAH HAJI: Ditolong Sandal Cepit

CERITA-cerita unik seringkali menyertai kepulangan jemaah haji ke tanah air. Tak sedikit peristiwa yang menimpa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *