Mengicip Menu Ramadan di BKI

Ramadan merupakan bulan yang penuh dengan keberkahan, banyak dari kita yang merindukan kehadiran bulan suci tersebut. Kita bisa membayangkan bahwa aroma ramadhan tercium sampai masuk ke relung terdalam.

Ramadan bukanlah sekadar bulan di mana kita bisa menahan lapar lantas dengan harapan memperoleh kesehatan, namun dengan bulan suci ini, juga diharapkan dapat membuat ibadah serta ketakwaan kita meningkat. Ada banyak cara untuk menambah kenikmatan dalam berpuasa di bulan ramadhan, salah satunya adalah tadarus bersama.

Hal ini akan membuat suasana Ramadan menjadi lebih kental ke-Islamannya. Juga bisa dengan cara mengadakan sebuah pesantren ramadhan, yang mana isi kegiatannya bisa berupa kajian positif ataupun perlombaan yang bertemakan ramadhan.

Banyak dari berbagai lapisan masyarakat melakukan kegiatan-kegiatan Ramadan. Mulai dari RISMA (Remaja Islam Masjid), kampus, perusahaan-perusahaan, ataupun instansi pemerintahan. Tidak tertinggal, Mahasiswa Jurusan Bimbingan Konseling Islam (BKI) UIN SMH Banten yang turut menyebarkan kebahagiaan kepada sesama.

Namun, nilai eksotis tercipta, ketika Agus Sukirno yang merupakan dosen pengampu mata kuliah Konseling Kemasyarakatan, serta Ahmad Fadhil yang membimbing mata kuliah Terapi Sufistik, memberikan sebuah tugas kepada mahasiswa BKI untuk mengadakan pesantren ramadhan di masyarakat, dengan dua belas kelompok dan tentu yang tersebar di dua belas lokasi. Uniknya, tema yang diangkat adalah, “Konselor Peduli Generasi Milenial”, yang di mana ini adalah sebuah prinsip yang perlu ditanamkan kepada mahasiswa BKI khususnya, ataupun masyarakat secara umum.

Bahwa anak-anak serta remaja perlu sentuhan secara lembut mengenai hal-hal yang akan membawa mereka untuk menyaring nilai. Hal ini dikarenakan, generasi yang ada sekarang akan menjadi penerus bangsa. Bagaimana bila mereka salah memilih, hingga pada akhirnya negeri ini akan runtuh pondasinya, sebagaimana hal yang ditakuti oleh para orang tua terdahulu.

Maka, Agus Sukirno yang juga merupakan Ketua Jurusan Bimbingan Konseling Islam mengusung tema yang perlu didiskusikan kepada para remaja di masyarakat, adalah perihal seks bebas dan penyalahgunaan narkoba. Ini adalah dua tema besar yang di masa ini sangat diperlukan oleh remaja. Tidak dapat dipungkiri bahwa di sekitar kita banyak remaja yang terjerumus oleh obat-obatan terlarang, dan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh mereka. Bila dipikirkan dengan seksama, siapa yang perlu bertanggung jawab atas problematika yang sedemikian kompleksnya ini? Kita? Ya, kita-lah yang perlu memegang tangan para remaja dengan erat-erat.

Ramadan memang menjadi momentum yang tepat untuk membagikan pengetahuan ini kepada remaja. Selain mengenai diskusi penyalahgunaan narkoba dan seks bebas, esensi ibadah juga ditekankan dalam acara pesantren ramadhan ini. Seperti tadarus bersama, serta berbagai perlombaan yang bertemakan ramadhan, seperti lomba tahfidz, mewarnai kaligrafi, membaca puisi islami, dan lain sebagainya. Hal ini dapat memberi kesan bahwa pengetahuan mengenai narkoba serta seks bebas terasa lebih ringan, karena diimbangi dengan kegiatan-kegiatan lainnya yang mengasyikan serta bermanfaat.

Acara pesantren Ramadan ini juga ternyata memberi dampak positif lainnya. Selama ini, kita melihat fenomena di masyarakat, bahwa sulitnya melepaskan ponsel pintar menjadi alasan jarak di antara yang berdekatan, dan ya walaupun dengan ponsel pintar dapat mendekatkan yang jauh dari kita. Hal ini jelas membuat kita menjadi lebih individualistis. Terlepas dari manfaat positif yang ada pada kecanggihan ponsel pintar tersebut. Dengan kedatangan sekelompok orang yang bertujuan untuk menyuarakan hal-hal positif yang bertemakan ramadan kepada masyarakat, maka hal ini menjadi teknik untuk sejenak melepas keterikatan remaja serta kita lepas dari ponsel.

Ini menjadi sebuah teguran, bahwa ada banyak kegiatan yang lebih positif dibandingkan sekadar bercengkrama dengan ponsel. Hal ini juga selaras dengan kebutuhan pemahaman remaja terkait penyalahgunaan narkoba dan seks bebas.

Terlepas dari kegiatan serta hal yang melatar belakangi diadakannya kegiatan pesantren Ramadan ini, kini kita coba masuk ke belakang layar. Bagaimana cara mahasiswa BKI dalam mengorganisasi, hingga kegiatan tersebut dapat berjalan dengan sukses, yang disemogakan agar kelompok-kelompok masyarakat lain yang ingin mengadakan acara seperti ini dapat terinspirasi.

Sebenarnya, serupa dengan kebanyakan kelompok yang melangsungkan kegiatan, seperti mencari sponsor, dengan memberikan proposal secara formal, lalu dengan mempublikasikan ke media sosial. Namun, ada cara unik yang dilakukan oleh salah satu kelompok pesantren ramadhan di BKI untuk memperoleh dana, ialah dengan berjualan, dan tentu produk tersebut merupakan produk yang diberikan oleh salah satu sponsor, lantas penghasilan keseluruhan didonasikan untuk acara.

Teknik ini menjadi efektif, karena ternyata banyak masyarakat yang bergairah untuk membantu kegiatan ini. Terlebih, bila dibandingkan dengan cara turun ke jalan membawa kardus dan meminta kepada pengguna jalan untuk menyisihkan sedikit uangnya. Ini menjadi pelajaran, bahwa ada banyak cara untuk memperoleh dana, selain meminta ke jalan.

Ramadan adalah bulan yang indah, di mana banyak orang yang dengan senang hati ikut serta berkontribusi. Maka, buatlah acara yang sedemikian positifnya untuk masyarakat, berikan pengetahuan dengan kinerja yang baik, hal ini juga yang akan membantu kita dalam pencapaian diri. (Nanda Besta Lestari/Mahasiswa Jurusan BKI UIN SMH Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here