Menghormati Adat Mengamalkan Syari’at

Oleh : Nasuha Abu Bakar, MA

Tepat pukul 4.00 waktu dini hari saya bersama rombongan keluarga tiba di kediaman pak ustadz Syafruddin Yahya di Desa Gesik Kulon Kecamatan Grgesik Kabupaten Cirebon Jawa Barat.

Kedatangan saya bersama rombongan keluarga tujuannya menghadiri acara ijab dan qobul pernikahan putri pertama pak ustadz Syafruddin yang bernama ananda Nia Aprilia dengan pujaan hati serta belahan jiwanya yang bernama Muhammad Isro Maulana SE.

Sehubungan waktu shalat shubuh hanya tinggal beberapa menit saja, maka saya menunggu suara adzan dikumandangkan. Setelah terdengar kumandang suara adzan yang khas, sedikit agak kurang jelas makharijul hurufnya disebabkan pak muadzin sepertinya sebagian besar giginya sudah ompong akibatnya tidak setiap huruf dapat dilafalkan dengan baik dan tepat.

Bertambah jelas kekurangan pak muadzin ketika bershalawatan sambil menunggu kehadiran pak imam. Lantunan bacaan kalimat tasbih yang biasa dilafalkan oleh almarhum almagfurlah ustadz Muhhammad Arifin Ilham. Hanya sedikit saja perbedaannya, yang di mushalla tempat saya ikut berjamaah pagi ini benar benar cadel bacaannya. Sehingga suaranya pelo kurang pas membunyikan ladadz tasbihnya.

Setelah selesai shalat shubuh berjamaah,saya bersama keluarga dan beberapa keluarga lainnya berkumpul sambil menikmati hangatnya kopi dan secangkir teh hangat. Pada saat kami sedang menikmati hangatnya secangkir kopi dan teh hangat, tiba tiba emak saya mengomentari tuan rumah atau shahibul hajat yang tidak mau tinggal diam. Sepertinya tuan rumah menikmati sekali sedang menyapu halaman. Tidak lama kemudian emak saya memanggi tuan rumah yang tidak lain adalah pak ustadz Syafruddin Yahya.

“Nih…emak ingatkan ya, tuan rumah klo sedang berjalannya acara dan belum selesai, duduk manis saja, klo menurut orang tua dulu harus begitu. Tidak diperkenankan menyapu halaman, kata orangtua nanti bisa rezekinya tidak kumpul kumpul. Berserakan dimana mana. Klo mau menyapu dan bersih bersih nanti saja kalau sudah selesai acaranya.

Sebenarnya klo menurut logika wajar dan pantas bilamana sedang banyak tamu, tuan rumah bukan sibuk dengan menyambut tamu, malahan sikuk dengan sapu dan bersih bersih. Wallaahu ‘alamu bish shawaab, entah korelasinya apa antara bersih bersih dengan rezeki yang berserakan dan tidak kumpul kumpul.

Adat kebiasaan yang menjadi nasehat orangtua, walaupun menurut nalar dan logika tidak singkron dan tidak nyambung, akan tetapi karena itu nasehat orangtua hendaknya diindahkan dan dihormati. Mematuhinya menjadi ibadah dan keberkahan. Saya jadi teringat cerita almarhum almagfurlah kiyai haji Muhammad Syafii Hadzami ketika anak pertama beliau baru dilahirkan. Yaitu bang haji Khudhori.

Di masyarakat kalau ada bayi yang baru dilahirkan maka biasanya ari arinya atau plasentanya dikubur di samping atau di depan rumah. Dan diberi lampu. Itu merupakan adat masyarakat pada umumnya di bumi Nusantara. Ketika itu plasenta bang Khudori dikubur tetapi oleh almarhum almagfurlah tidak dipasang lampu. Maka seketika ibunda muallim Syafii Hadzami menegur beliau dan menganjurkan untuk segera dipasang lampu.

Sebagai seorang ulama besar yang luas wawasan keilmuannya berargumen dan berusaha untuk meyakinkan ibunda beliau,kata beliau : “Bu…., Selama saya belajar dan mengaji, belum pernah saya mendapatkan petunjuk baik ayat alqur’an, hadits nabi atau tertulis dalam sebuah kitab tentang memasang lpu atau pelita di atas ari ari atau plasenta” kata muallim Syafii Hadzami.

“Eh…..,kamu jadi orang ‘alim…karena dulu ari ari kamu ibu kasih lampu,….kata ibunya muallim Syafii Hadzami menyanggah argumen putranya. Maka nasihat almarhum almagfurlah kiyai haji Muhammad Syafii Hadzami kepada kami para muridnya: “Ikuti saja nesehat orangtua, kan tidak bertentangan dengan syariat agama. Bahkan bisa dikategorikan sebagai perbuatan “Birrul Waalidaian”. Itulah menghormati adat tetapi dapat dikategorikan menjalankan syariat. Wallaahu ‘alamu bish shawaab wa ilaihil musta’aan.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here