Menggapai ”Husnul Khotimah”

Oleh : Hj. Ade Muslimat, MM, M.Si

Setiap mukmin pasti mendambakan husnul khotimah namun tidak semuanya mempersiapkan, memanajnya dengan baik. Siapa yang tidak ingin hidup bahagia di dunia dan selamat di akhirat? Jelaslah semua orang mendambakannya. Tidak hanya orang beriman saja, bahkan orang tak beragama dan para penjahat pun, memilih mati dalam keadaan baik.

Secara bahasa, husnul khotimah artinya akhir yang baik. Sebuah anugerah Allah SWT, namun seperti karunia Allah yang lain, husnul khotimah tidak diraih dengan berpangku tangan tanpa usaha, perencanaan dan persiapan yang memadai.

Husnul khotimah adalah tolok ukur apakah seseorang sukses dalam hidupnya atau tidak. Dan sebaliknya adalah keadaan su’ul khotimah yang artinya akhir yang buruk. Setiap mukmin tentu saja menghindari su’ul khotimah ini dan pasti berharap bisa menggapai happy ending atau husnul khotimah.

Kita sering mendapati tulisan-tulisan kawula muda seperti, “muda foya-foya, tua kaya raya dan mati masuk surga”. Ini sebenarnya agak menyimpang, meski hanya tulisan tapi pesan ini telah banyak mempengaruhi jiwa anak-anak muda. Karena perilaku itu menandakan masih banyak di antara kita yang belum memahami dengan benar arti waktu dan arti hidup yang sebentar ini.

Seharusnya kita sedini mungkin harus bisa memanfaatkan waktu yang sebaik-baiknya dengan kegiatan yang baik dan positif. Jangan sampai terlena oleh gemerlap dunia, sehingga lupa akan akhirat. Sebagai seorang muslim, benar-benar waspada dalam pemanfaatan waktu.

Dalam surat Ali Imron ayat 102, yang artinya: ”Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan jangan sekali-sekali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. Lewat ayat diatas Allah SWT, mengingatkan agar kita semua kelak ketika ajal tiba, meninggal dunia dengan keadaan beriman kepada Allah SWT. Inilah yang disebut husnul khotimah.

Husnul khotimah nerupakan ‘’tiket masuk‘’ surga yang wajib hukumnya kita usahakan, sekaligus dapat menjauhkan kita dari siksa neraka. Oleh karena itu, setiap muslim perlu memperbaiki, membuat desain dan target kehidupannya secara jelas, terencana dan terukur, baik target personal (jiwa yang tenang dan damai), target berkeluarga (menjadikan keluarga samawa), target berketurunan (anak cucu cicit yang soleh solehah, penyejuk hati dan unggul) dan target bermasyarakat (beradab, rukun, adil, makmur dan toleran).

Rasulullah SAW juga bersabda dalam haditsnya yang artinya : “Sesungguhnya amalan itu bergantung dengan penutupnya”. (HR.Bukhari). Ini mengingatkan perbuatan kita diharapkan dengan akhir yang baik sebagai penutupnya. Begitu banyak ayat-ayat yang mengingatkan kita untuk menggapai husnul khotimah.

Dan banyak para imam pun memberikan arahan cara-cara untuk meraih husnul khotimah tersebut di antaranya : Takut kepada Allah, taubat dari segala dosa dan maksiat, berdoa agar ditetapkan di atas kebenaran dan melakukan amal soleh, menjauhkan perbuatan dosa dan maksiat, sabar atas musibah, berbaik sangka kepada Allah dan lain-lain.

Semua ini harus kita upayakan terus menerus kapan pun dan dimana pun berada dan harus pula dimintakan kepada Allah SWT, kita harus selalu berdoa agar diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah. Sebab kita tidak pernah tahu kapan ajal menemui.

Dengan cara itulah, insya Allah kita akan tergolong manusia yang cerdas menurut nabi dan mendapat keridhoan-Nya. Semoga pada momentum Ramadan ini dapat meningkatkan iman dan amal sholeh serta meningkatkan semangat fastabiqul khoirot dalam rangka menggapai husnul khotimah. Insya Allah.. Wallahu a’lam bi shawab….(Penulis, Pengurus ICMI Banten Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here