Minggu, 19 Agustus 2018

Mengenal Situs Batu Bedil Peninggalan Prasejarah Megalitikum

Di wilayah selatan Kabupaten Lebak terdapat kemegahan peninggalan purbakala zaman megalitikum, salah satunya situs batu bedil berupa batu monolith berbentuk menhir.  Masyarakat sekitar menyebutkan, situs batu bedil merupakan tempat peristirahatan Prabu Kian Santang putra mahkota dari penerus kerajaan Padjajaran yang tak lain adalah Prabu Siliwangi yang saat itu berkuasa di tataran tanah sunda.

Tidak ada angka yang pasti dalam situs ini. Namun jika melihat dalam kawasan seluas 1 hektare tersebut tampak bebatuan, menhir dan pohon-pohon diperkirakan umurnya mencapai ribuan tahun. Benda-benda unik ini sudah ada sebelum peninggalan Masehi atau zaman pra sejarah. Itu artinya batuan menhir ini lebih awal dari Pemerintahan Kerajaan Padjajaran yang saat itu berkuasa di abad ke-15 Masehi.

Petugas yang diberi kepercayaan untuk mengurus situs bedil, Saepulrrahman mengatakan, situs batu bedil yang terdiri dari menhir yang unik ini memiliki kekhasan tersendiri, dimana pada situs ini terdapat tumpukan batu yang besar pada kemiringan tebing 40 derajat hingga 60 derajat atau jika digunakan garis lurus dari permukaan tanah itu mencapai 20 meteran.

“Sejak tahun 1999 pihak pemerintah menetapkan kawasan situs batu bedil ini yang berada di Desa Bayah Timur ini sebagai cagar budaya yang dilindungi,” kata Saepul.

Menurutnya, cerita penemuan situs batu bedil berawal informasi masyarakat sekitar bernama sayong, yang menemukan areal hutan belantara penuh dengan bebatuan yang unik serta pohon-pohon besar yang usianya cukup lama. Pada akhirnya lelaki bernama sayong ini memutuskan untuk merawatnya.

Hingga tersiar kabar bahwa di daerah ini mengandung kekuatan mistis yang luar biasa menarik kepada setiap orang untuk datang melakukan semedi dengan tujuan meminta sebagaimana yang dimaksud atas yang dicita-citakannya. “Tidak heran jika tiba pada bulan syaban banyak sekali yang melakukan ritual untuk kesuksesan urusan duniawi,” ujarnya.

Untuk memasuki kawasan situs batu bedil dari pusat kota Bayah itu hanya 8 km tepatnya di Kampung Cinangga ke arah Timur menuju Cikotok Cibeber, kemudian masuk 500 meteran dengan menempuh jalan bebatuan yang terjal.

Para pengunjung akan dibantu pihak pemandu yang sudah disiapkan oleh balai cagar budaya yang akan menemani dan memberikan informasi pengetahuan tentang situs batu bedil. Perlu diketahui ada 3 hal yang menarik dari kawasan situs batu bedil. Pertama di kawasan ini terdapat bongkahan batuan tua jenis balok yang ditumpuk dengan panjang 2-3 meter dengan diameter 3-1 meter dari permukaan tanah dengan posisi menumpuk miring pada bukit setinggi 20 meteran. Tumpukan batu tersebut menyerupai selongsong yang mengarah ke selatan.

Dalam catatan arkeolog pada cagar budaya Banten, kemungkinan posisi batu yang miring disebabkan oleh tanah longsor sehingga mengubah posisi batu yang semula tegak menjadi miring. Berjarak sekitar 2 meteran dari menhir itu terdapat sebuah bukit batu yang menunjukkan tanda-tanda beberapa bagian batu tersebut pernah dibentuk sedemikian rupa atau dipergunakan.

Kedua di kawasan situs batu bedil ini terdapat makam yang diyakini sebagai makam Eyang Gentar Bumi, yang berjarak dari perbukitan batu dan dari monolith menhir itu sekitar 15 meteran.  Dengan menuruni jurang tebing akan menjumpai bebatuan yang melingkar di samping pepohonan yang dipercaya sebagai makam Eyang Gempar Bumi. Menurut cerita dari keterangan petugas cagar budaya alam Provinsi Banten, bahwa Eyang Gempar Bumi merupakan salah satu yang menemani perkelanaan pertapaan Raden Kian Santang ke arah Gunung Halimun.

“Tidak ada catatan perjalanan tentang seluk beluk sejarah mengenai Eyang Gempar Bumi. Yang pasti dari keberadaannya berdasarkan babad leluhur Sunda, Eyang Gempar Bumi bagian yang tidak terpisahkan dengan pengelanaan Raden Kian Santang,” katanya.

Ketiga bagian lainnya dalam kawasan situs batu bedil tidak terpisahkan dengan keunikan monolith menhir batu tua yang memiliki panjang 7 meter berbentuk balok saling berimpitan dengan posisi miring 25 derajat dengan ujung pada batu membentuk lukisan bola sepak berdiameter 42 cm. Lokasi menhir ini berada paling bawah jurang.

Hal lainnya, kata Saepullrahman, sejak ditetapkannya situs batu cibedil ini tahun 1999, dilarang untuk mengambil, memindahkan, merusak cagar budaya baik seluruh maupun bagian-bagian dari kesatuan kelompok dan/atau dari letak asal itu akan dikenai sanksi pidana sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Butuh infrastruktur

Situs batu bedil yang berada di Desa Bayah Timur saat ini hanya dirawat oleh seorang petugas dari balai cagar budaya alam Provinsi Banten dengan luas areal 1 hektare. Selain menemani para pengunjung yang membutuhkan informasi seputar situs, petugas itu juga merawat dengan membersihkan sampah dan rumput.

“Semuanya saya lakukan sendiri hingga hari kerja bahkan terkadang di hari libur (Ahad), ketika bahyak pengunjung biasanya anak-anak sekolah tetap bekerja,” ujar Saepullrahman.

Dikatakan Saepullrahman, untuk lebih menarik dan melestarikan cagar budaya ini tentunya perlu ada infrastruktur yang menunjang di antaranya akses jalan menuju situs dari jalan raya ke arah cagar budaya situs batu bedil berjarak 500 meter. Saat ini jalannya belum dibenahi, masih bebatuan terjal kemudian belum ada parkiran yang memadai serta sarana untuk pengunjung berupa aula dan sarana penunjang air mandi cuci kakus (MCK). (Galuh Malpiana)*


Sekilas Info

Situs Patapaan dilirik Jadi Tempat Selfi

Situs Patapaan yang berada di Desa Sukanagara, Kecamatan Kibin mulai banyak di datangi pengunjung. Hal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *